Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 437


__ADS_3

Sudah tiga bulan berlalu sejak Sifa mengundurkan diri dari perusahaan Kak Farhan. Wanita itu pun rutin memeriksakan dirinya ke rumah sakit, memastikan jika efek dari pil KB yang dia minum tidak memiliki efek samping.


Sifa menarik napasnya panjang, sudah hampir seminggu Sifa terlambat datang bulan, untuk itu dia pun ingin memastikan apakah dirinya hamil atau tidak. Sifa membeli tespack secara diam-diam tanpa sepengetahuan Abash, karena dia tidak ingin suaminya kecewa di saat ternyata dirinya belum positif hamil.


Seperti kejadian bulan lalu, di mana Sifa juga terlambat datang bulan dan hal itu di ketahui oleh Abash. Pria itu merasa sangat senang karena berfikir jika sang istri sedang mengandung. Akan tetapi, hasil tespack yang Sifa coba pun hanya menunjukkan garis satu.


Tidak percaya dengan hasil tespack, Abash mengajak Sifa ke tempat Mbak Anggel untuk melakukan pemeriksaan, dan ternyata hasilnya juga nihil, bibit yang Abash tanam belum juga berbuah di rahim Sifa.


Sifa menghela napasnya berat, di saat lagi-lagi melihat hanya garis satu yang di tampilkan pada alat pengecek kehamilan tersebut.


Tok ....tok ...


Sifa terkejut, di saat mendengar suara pintu kamar mandi yang di ketuk oleh sang suami. Cepat-cepat dia membuang alat pengecek kehamilan itu ke dalam tempat sampah.


"Sayang, kamu masih lama?" tanya Abash dari luar kamar mandi.


"Enggak kok, Mas, ini aku udh mau siap," jawab Sifa sedikit menjerit.


Wanita itu pun bergegas mencuci tangan dan wajahnya, kemudian keluar dari dalam kamar mandi.


Sifa menunjukkan senyuman termanisnya kepada sang suami yang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Ada apa, Mas?" tanya Sifa.


"Aku sakit perut," kekeh Abash dan langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


Sifa ikut terkekeh sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Ada-ada aja kamu, Mas," kekehnya.


Sifa keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Wanita itu pun menyiapkan sarapan pagi untuk sang suami.


"Sayang, kamu hari ada mau ke mana?" tanya Abash yang sudah menghampiri Sifa di dapur.


"Gak ada sih, Mas. Palingan cuma bantuin Mbak Quin di toko aja," sahut Sifa.


"Ooh, ya udah kalau gitu, ntar aku jemput kamu di sana, ya?"


"Iya, Mas."


Abash dan Sifa pun menyelesaikan sarapan paginya. Setelah selesai sarapan, Sifa mengantarkan Abash hingga sampai ke pintu apartemen.


"Aku pergi dulu, ya," pamit Abash dan mendaratkan kecupan di kening sang istri.


"Iya, Mas. Hati-hati." Sifa mencium punggung tangan Abash.


Ah ya, apa kalian tahu, jika suami mencium kening istri, itu tandanya sebuah sedekah yang suami berikan untuk istri, di mana nantinya si suami akan mendapatkan pahala dan insya Allah rezeki yang berlimpah.


Jadi readers, jangan lupa suruh suaminya cium kening para istri ya ... Tapi jangan istri tetangga ...hehehhehe ...


*


"Sifaaa ...." tegur Quin dengan senyuman yang lebar.


"Iya, Mbak." Sifa pun menghampiri kakak iparnya, tak lupa mereka berciuman pipi kiri dan kanan.


"Mbak sudah mulai memasak cake-nya?" tanya Sifa.


"Belum. Duduk sini dulu, Sifa. Kita ngobrol-ngobrol dulu. Soal masa cake entaran aja," ujar Quin dan menarik tangan Sifa untuk duduk di sofa.


Biasanya Quin selalu mengajak para keluarganya untuk masuk ke ruangan VIP, tapi kali ini karena ada temannya yang datang, Quin pun mengajak Sifa untuk mengobrol bersama teman-temannya.


Terlihat Sifa dan teman-teman Quin berbincang dengan serunya di saat ada sekitar sepuluh orang pelanggan datang untuk menikmati cake yang manis dan premium.

__ADS_1


Berhubung beberapa pelayan Quin sedang istirahat, Sifa pun ikut berdiri dan membantu Quin untuk melayani pelanggan yang baru saja datang.


"Udah, santai aja makannya, biar aku yang bantuin yang lain," ujar Sifa kepada pelayan Quin yang sedang beristirahat dan menikmati makannya.


Sifa pun memberikan menu kepada pelanggan yang datang tadi.


"Kamu Sifa, kan?" tanya seorang wanita dengan tersenyum miring.


"Iya ..." Sifa berusaha untuk mencoba mengingat siapa wanita yang menegurnya itu.


"Ternyata kamu jadi pelayan di sini?" ujarnya dengan nada yang meledek.


Sifa mengernyitkan keningnya, kemudian dia tersenyum tipis.


"Iya," jawab Sifa ramah.


"Kasihan banget sih nasib kamu, Fa. Selalu jadi pelayan," ledeknya.


"Yang penting halal," jawab Sifa masih tersenyum.


"Eh, dia bukannya istri dari pengusaha itu, ya?" bisik seseorang kepada temannya Sifa.


"Hah? pengusaha?" tanya Neli, teman yang meledek Sifa.


"Iya, yang mirip Jungkok BTS itu loh."


"Ih, mana ada pengusaha mau sama dia. Dia ini miskin dan yatim piatu. Pasti malu lah pengusaha nikahi dia," ledek Neli.


"Isshh, Lo gak percaya banget sih. Iya, beneran," ujar temannya Neli ngotot.


"Iya kan, Mbak? Mbak istrinya pengusaha itu kan? Yang tampan itu? Emm, yang punya perusahaan IT kalo gak salah. Iya kan, Mbak?" tanya teman Neli langsung kepada Sifa.


"I--"


"Gue gak ngada-ngada. Tapi memang beneran loh. Iya kan, Mbak?" tanya temannya Neli kepada Sifa lagi.


"Iih, Lo bandel banget sih di bilangin? Gue kenal banget sama dia. Dia ini cuma keluar masuk dapur doang, sama kamar mandi. Mana mungkin bisa kenal sama seorang pengusaha?" kesal Neli.


"Ih, Lo gak percaya banget sih gue bilangin! Nih, loh lihat wajahnya, mirip kan?" kesal teman Neli.


Neli melihat foto yang ada di ponsel temannya, dia mengernyitkan keningnya di saat melihat wajah wanita yang ada di dalam foto benar-benar sangat mirip dengan Sifa.


"Mirip aja ini, tapi gak mungkin dia," ujar Beli dengan keras kepalanya yang tidak ingin mengakui jika wanita yang ada di foto adalah Sifa.


"Serah Lo deh kalau Lo gak percaya. Tapi menurut gue, ini adalah wanita yang sama. Iya kan, Mbak? Ini Mbak kan?" tanya wanita itu lagi kepada Sifa.


Sifa ingin membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan dari temannya Neli, akan tetapi Neli kembali memotong ucapan Sifa.


"Cuma mirip aja. Gak usah ngaku-ngaku deh, lo," kesal Neli dengan suara yang sedikit membentak Sifa.


"Maaf, ada apa ya ini?" tanya Quin yang sedari tadi memperhatikan jika ada keributan di meja yang Sifa layani.


"Heh, bilangin sama pelayan Lo ini, jadi orang jangan suka berbohong. Ngaku-ngaku jadi istrinya orang kaya. Mimpi Lo? Ngaca Lo sana," tunjuk Neli ke arah wajah Sifa.


"Maaf, bisakah anda bersikap sopan di sini?" tegur Quin.


"Heh, Lo di sini cuma pelayan, jadi gak usah sok-sokan mau tegur gue, ya. Mana manager Lo? Suruh ke sini. Atau sekalian pemilik cafe ini, suruh ke sini. Gue mau bilangin kalau wanita ini pembohong. Hati-hati dengan dia," bentak Neli yang kembali menunjuk ke arah Sifa.


Sraap ...


"Aaww ...."


Neli meringis kesakitan, di saat jadi telunjuknya tiba-tiba di putar oleh seseorang. Sifa dan Quin membulatkan matanya di saat melihat siapa si pelaku yang telah memutar jari telunjuk Neli.

__ADS_1


"Zia?" guman Sifa pelan.


Ya, orang yang sudah memutar jari telunjuk Neli adalah Zia.


"Gue peringatin sama Lo, mending Lo jaga baik-baik jari dan mulut Lo, sebelum gue patahi ni jari," ancam Zia dengan nada suara yang dingin.


"Siapa Lo? Gue bisa tuntut Lo atas perbuatan ini," ancam Neli lagi.


"Silahkan, gue gak takut," ujar Zia sambil melepaskan jari telunjuk Neli.


"Gue akan bawa kasus ini ke pengadilan, biar kalian merasakan akibatnya," bentak Neli.


"Nel, sebaiknya Lo berpikir ulang deh. Lo emangnya gak tau siapa nih cewek?" ujar temannya Neli sambil menenangkan wanita itu.


"Dia itu anak pengacara handal itu loh, yang punya perusahaan Setia.Group."


Mata Neli seketika membulat, di saat mendengar nama perusahaan Setia.Group.


"Gak, gak mungkin. Mana mungkin dia---"


"Ada apa ini, Dek?" tanya Bara yang baru saja masuk ke dalam toko.


Mata Neli kembali membulat lebih besar, di saat melihat pria incarannya ada di dekat mata.


"Ba-bara?" lirih Neli pelan.


Bara yang mendengar namanya di sebut pun menoleh, pria itu mengernyitkan keningnya di saat melihat siapa orang yang menegurnya barusan.


"Saya Neli, kamu masih ingat kan?" ujar Neli dengan nada suara yang manja dan ramah.


"Mas kenal dia?" tanya Zia tak suka.


"Hanya sekedar tau, kenapa?" jawab Bara santai.


"Oh, dia barusan menghina Sifa, Mas. Jadi aku kasih pelajaran aja dengan memelintir jarinya," adu Zia sambil tersenyum miring melirik ke arah Neli.


Bara menarik napas panjang, pria itu langsung menoleh ke arah Neli dengan tatapan matanya yang tajam.


"Saya peringati Anda, untuk menjauh dari keluarga saya," ancam Bara yang tak suka dengan Neli.


Bara pun menoleh ke arah Sifa. "Kamu baik-baik aja, Sifa?"


"Iya, saya baik-baik aja," jawab Sifa ramah.


"Mbak Quin? Anda baik-baik saja?" tanya Bara kepada Quin.


"Huum, aku baik-baik aja," jawab Quin dengan tersenyum.


Quin menoleh ke arah Neli yang masih shock dengan apa yang dia lihat saat ini. Benarkah Sifa saat ini sudah masuk ke dalam kalangan orang kaya? Atau, wanita itu menjadi pembantu orang kaya?


"Ah ya, tadi kamu cari pemilik toko ini kan? Saya pemiliknya," ujar Quin dengan tersenyum mengejek ke arah Neli. "Dan yang kamu panggil pelayan miskin ini adalah adik ipar saya," sambung Quin yang mana membuat Neli membulatkan matanya.


Jika Quin adalah pemilik toko cake yang Neli datangi, itu artinya Sifa memang benar istri dari pria pengusaha perusahaan IT yang tampan itu.


"Karena anda sudah menghina adik ipar saya, jadi sebaiknya anda keluar dari sini," usir Quin dan meminta pelayan lainnya untuk membawa wanita itu keluar.


"Dan untuk yang lain, silahkan memesan menu makanan apapun yang kalian inginkan, maaf karena sudah membuat kalian semua merasa tidak nyaman atas kejadian tadi," ujar Quin kepada teman-teman Neli.


Neli yang tidak terima di usir pun mencoba memberontak. Akan tetapi dia tidak bisa melawan dua pelayan yang menyeretnya keluar dari toko cake milik Quin.


"Kalian tidak bisa mengusir aku seperti ini. Lepasin, lepas," pekik Neli sambil memberontak.


Quin pun mengajak para tamu spesialnya itu untuk masuk ke ruangan VIP.

__ADS_1


__ADS_2