
"Sifa, bisa bantu Bunda, sayang?" panggil Bunda Sasa yang di angguki oleh Sifa.
"Iya, Bun," jawab Sifa dan pamit kepada Putri yang sedang menyusun buah yang sudah di cuci.
"Hai, Put," sapa Quin saat wanita itu baru saja tiba di dapur.
"Mbak," jawab Putri dengan tersenyum lebar juga.
Di belakang Quin ada Abash yang juga ikut ke dapur.
"Mbak, ayolah, buatkan aku kue sus," bujuk Abash sambil merengek.
"Gak mau, siapa suruh kamu ledekin aku tadi," ketus Quin menolak permintaan sang adik.
"Ayolah, Mbak," bujuk Abash lagi.
Putri yang mendengar rekan kerjanya itu merengek seperti anak kecil pun, membuat Putri menarik sudut bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman manis.
"Ihh, Abash, gak malu apa sama Putri?" kesal Quin karena sang adik terus merengek untuk di buatkan kue sus.
Abash yang tidak menyadari keberadaan Putri pun, tiba-tiba terdiam, pria itu mencebikkan bibirnya dan berlalu begitu saja. Quin yang melihat tingkah menggemaskan sang adik pun hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ya gitu deh, Put, tingkah Abash sebenarnya. manja," kekeh Quin.
Putri hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari Quin.
Di tempat lain, Abash menggerutu kesal. Perasaannya tadi dia tidak melihat Putri di sana, maka dari itu dia terus saja merengek dan mengikuti sang kakak. Lagi pula, sedari tadi fokus Abash bukan kepada Putri, melainkan kepada Sifa.
Namun, tetap saja. jati diri pria itu yang sebenarnya terlihat oleh orang lain. Abash tidak menyukai hal itu.
*
"Mbak mau bikin apa?" tanya Putri yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Mau but kue sus, buat si manja Abash," kekeh Quin yang mana membuata Putri membelalakkan matanya.
"Katanya Mbak tadi gak mau buatin?" tanya Putri heran.
"Cuma bercanda aja, habisnya Mbak kesal sama dia," ujar Quin sambil memanyunkan bibirnya.
"Kesal kenapa?" tanya Putri lagi, sebenarnya gadis itu hanya beramah tamah saja, agar bisa nyambung dan krab dengan tuan rumah.
Tidak ada maksud lain dari Putri, gadis itu hanya berniat untuk menjaga silahturahmi saja, karena menngingat jika orang tuanya berteman baik dengan pemilik rumah yang sedang dia datangi
"Hmm, Abash ledekin aku cengeng, gara-gara empus mau di bawa ke Paris," ujar Quin dengan sendu.
__ADS_1
"Empus mau di bawa ke Paris? Kenapa, Mbak?" tanya Putri terkejut.
"Hah, Mas Abi udah buat hutan khusus di sana, agar empus bisa di kembang biakkan," ujar Quin dengan sedih.
Putri pun mengusap lengan Quin, sehingga membuat wanita itu menoleh ke arahnya.
"Yang sabar ya, Mbak," ujar Putri sambil tersenyum lembut.
Quin tersenyum dan menggenggam tangan Putri. "Makasih ya."
Putri menganggukkan kepalanya masih dengan wajah yang tersenyum manis.
"Ah ya, gimana kalau aku bantuin Mbak bikin kue sus?" tawar Putri yang langsung di sambut dengan wajah sumringah oleh Quin.
"Tentu, ayo kita bikin kue sus," ajak Quin dengan penuh semangat.
Sifa yang di suruh ambil wadah kaca oleh Bunda Sasa pun, sempat melihat kedekatan Quin dan Putri, entah mengapa gadis itu merasa cemburu dan tidak menyukai kedekatana Putri dan Quin.
"Sifa, sadarlah, ini tidak seperti diri kamu yang sebenarnya," lirih Sifa pelan, gadis itu pun menghela napasnya dengan berat dan lelah.
Beberapa puluh menit kemudian.
"Wah, Mbak beneran gak nyangka, ternyata kamu jago bikin cake?" tanya Quin penuh takjub.
"Bisa sedikit-sedikit, Mbak. Putri sewaktu kecil dulu suka makan kue, tapi sayangnya Oma gak bisa bikin kue. Sampai Papa ketemu sama Mama dan menikah. Saat itulah Putri sering bermain sama Opa Muklis dan membuat kue. Mama juga sering ngajarin Putri buat kue," ungkap Putri penuh dengan kebahagiaan.
"Jadi, Mama kamu sekarang, bukan Mama kandung?" tanya Quin hanya sekedar melepas rasa penasarannya saja. "Maaf ya, kalau menyinggung perasaan kamu," ujar Quin merasa tak enak.
"Iya, Mbak. Mama Putri yang sekarang bukan Mama kandung. Mama kandung Putri sudah meninggal dunia saat melahirkan Putri, tapi, mama sangat menyayangi Putri, seperti anak kandungnya sendiri," ujar Putri sambil tersenyum manis.
"Mbak senang dengarnya, itu membuktikan kalau tidak semua ibu tiri itu jahat, seperti yang ada di cerita-cerita," kekeh Quin untuk mencairkan suasana.
"Iya, Mbak. Bahkan, banyak orang-orang gak percaya, kalau Putri ini anak tiri Mama. Karena wajah kami benar-benar mirip," kekeh Putri.
"Oh ya? Berarti itu jodoh namanya," kekeh Putri. "Duh, jadi penasaran sama wajah mama kamu," ujar Quin dengan tersenyum malu.
"Bentar, Putri tunjukin," ujarnya sambil mengeluarkan ponsel yang di belikan oleh Arash waktu itu.
"Ini, Mbak, cantikkan?" Putri menunjukkan foto sang mama kepada Quin.
"Iya, ya. Mirip banget sama kamu," ujar Quin penuh takjub. "Kalau begini juga, Mbak gak percaya kalau kamu anak tiri Mama kamu," kekeh Quin.
"Iya kan? Teman-teman Oma juga pada gak percaya," sambung Putri.
"Hmm, Putri sayang banget sama Mama," lirih Putri sambil mengusap layar ponselnya.
__ADS_1
"Em, gimana kalau kita mulai membuat kuenya?" ajak Quin agar Putri tak larut dalam rasa sedihnya.
"Boleh, Mbak, yuk."
Quin dan Putri pun mulai membuat kue sus pesanan Abash, tak lupa juga Putri membuat brownis dari bahan yang ada di sana.
"Wow, wanginya enak banget," ujar Abash yang mencium aroma kue kesukaannya.
"Mbak aku satu ini emang paling cantik," pujinya dan mengambil satu buah kue yang ada di atas piring.
Quin masih tersenyum menatap adiknya itu, dia ingin tahu bagaimana reaksi dari adik kembarnya.
"Emm, rasanya kok beda dari yang biasa?" tanya Abash dengan kening mengkerut.
"Oh yaa? Gimana rasanya?" tanya Quin penasaran.
"Lebih enak," ujar Abash dengan tersenyum lebar dan kembali mengambil kue sus itu, kemudian memasukkan satu bulat penuh ke dalam mulut.
"Beneran enak?" tanya Quin penuh telisik.
"Iya, beneran. Mbak makin jago aja bikin kuenya," puji Abash dengan mengangkat kedua jempolnya.
"Bikin apa nih?" tanya Mama Kesya yang juga sudah tergoda dengan aroma kue yang Quin dan Putri buat.
"Kue sus-nya enak banget, Ma," puji Abash sambil menyodorkan satu buah kue sus ke dalam mulut sang mama.
Mama Kesya pun membuka mulutnya, kemudian mata wanita paruh baya itu langsung membulat di saat merasakan rasa yang berbeda dari biasanya dan sangat enak dalam mulutnya.
"Beneran enak, kamu pakai resep baru, Quin?" tanya Mama Kesya penasaran.
"Kalau bronisnya gimana? Coba Mama rasain?" ujar Quin sambil memberikan sepotong kue brownis.
Mama Kesya pun mengambil potongan kue tersebut dan memasukkanya ke dalam mulut.
"Quiin, ini benar-benar enak," puji Mama Kesya yang mana membuat Quin tersenyum lebar.
"Mama tau siapa yang membuatnya?" ujar Quin yang mana membuat Mama Kesya dan Abash mengernyitkan keningnya.
"Siapa?" tanya Mama Kesya dengan bingung.
Quin menunjuk ke arah Putri yang sedang menutup kue sus dengan plastik wrap. Kue yang memang sengaja di buat untuk para tamu yang akan datang.
"Putri? Ini semua Putri yang buat?" tanya Mama Kesya dengan takjub, di mana Quin menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Gimana, Bash? Kamu pernah bilang kan? Calon istri kamu harus bisa bikin kue sus?" ujar Quin yang mana membuat Mama Kesya melirik ke arah sang putra.
__ADS_1
"Mama tau, Abash pernah bilang ke Quin, kalau dia ingin calon istrinya itu bisa membuat kue sus. Karena tak semua orang bisa membuat kue sus yang enak," ujar Quin yang mana kalimatnya tersebut di dengar oleh Sifa yang baru saja berada di dekat mereka.
"Sepertinya Putri masuk kriteria calon istri Abash. Pintar, cantik, mandiri, pintar bikin kue sus lagi," goda Quin yang mana membuat Abash hanya diam, sedangkan Mama Kesya melirik ke arah sang putra untuk melihat ekspresi wajahnya.