
"Enak banget, rasa buahnya juga segar," seru Sifa.
"Enakkan? Lain kali kita ke sini," ajak Abash.
"Eh, jangan. Gak usah, Pak," tolak Sifa.
"Kenapa?"
"Saya gak enak aja. Gak pantes aja gitu datang ke sini sama Bapak," tolak Sifa.
"Oh gitu! Hmm, ya udah kalau gitu."
Mood Abash pun kembali buruk, pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dan menatap Sifa dengan kesal.
"Untung imut, jadi aku gak kesal-kesal banget," batin Abash menatap wajah Sifa yang sedang menikmatk ice cream di tangannya.
Setelah Sifa selesai makan, Abash pun mengajak Sifa untuk pulang.
"Eh, itu saladnya gak Bapak makan?" tanya Sifa sambil menunjuk ke arah salad miliknya yang di tukar oleh Abash.
"Saya udah kenyang liatin kamu makan," uajr Abash cuek.
"Duh, sayang banget," lirih Sifa sambil menjilat bibirnya.
Gadis itu mengingat harga yang harus di bayarkan untuk makanan mereka. Akan tetapi, jika makanan itu di buang, rasanya sangat sungguh mubazir sekali.
"Pak, kalau saladnya di bungkus aja trus di bawa pulang, boleh?" pinta Sifa.
"Boleh, emangnya kamu belum kenyang?" tanya Abash.
"Bukan belum kenyang. Tapi sayang aja gitu kalau mubazir," seru Sifa. "Lagian, malam ini saya rencana mau lembur. Mau belajar buat ujian yang tinggal menghitung hari," ujar Sifa. "Lumayan, buat teman lembur, Pak," kekeh Sifa.
"Oh, kamu mau lembur?" tanya Abash.
"Iya, Pak."
"Ya udah kalau begitu." Abash pun memanggil pelayan dan meminta membungkuskan salad tersebut.
Setelah salad selesai di bungkus, Abash pun membayar semua makanan yang sudah mereka makan. Sifa sampai menelan ludahnya dengan kasar, karena melihat nominal yang tertera di sana.
"Gila, mahal banget buat ngajakin aku makan? Jadi gak enak," batin Sifa.
Di tempat lain, Amel yang ternyata sedari tadi masih terus mengikuti Sifa dan Abash, menggeram kesal dengan mata yang sudah memerah dan basah.
"Pengkhianat lo, Sifa."
__ADS_1
Di dalam mobil, tidak ada pembicaraan di antara Abash dan Sifa, mereka saling diam dengan pikiran masing-masing. Hingga Abash sangat pensaran, bagaimana pria yang di sukai oleh gadis itu.
"Sifa," panggil Abash.
"Ya?" Sifa pun menoleh ke arah sumber suara.
"Boleh saya bertanya sesuatu?" Abash menoleh sekilas ke arah gadis yang sudah membuat hatinya cenat cenut.
"Boleh, Bapak mau tanya apa?"
"Emm, kira-kira, ciri-ciri pria yang kamu sukai bagaimana?"
"Ciri-ciri pria yang saya sukai?" tanya Sifa balik.
"Iya, ada kan?" Abash menoleh sekilas kepada Sifa dan kembali fokus ke jalan yang ada di hadapannya saat ini.
"Emm, kalau dulu ada sih, Pak. Tapi sekarang kayaknya udah berubah," jawba Sifa pelan dan memberanikan diri untuk melirik Abah.
"Oh ya, kenapa bisa berubah?" tanya Abash penasaran.
"Saya gak taua kenapa. Tapi, pria tersebut sudah berhasil membuat saya bingung dengan perlakuannya terhadap saya," ujar Sifa sambil meremas ujung kain bajunya.
"Berhasil membuat dia bingung? Apa itu artinya ada pria yang saat ini sedang Sifa suka?" batin Abash.
"Bingung bagaimana maksudnya?" tanya Abash penasaran.
"Bapak kan cowok, mungkin Bapak lebih tau," tanya sifa yang ingin mengetahui pendapat dari pria yagn sudah membuat hatinya selalu galau dan maju mundur cantik.
"Kok tanya saya? Ya, saya mana tahu apa maksud cowok itu," jawab Abash dengan kesal.
"Kok Bapak kesal?" tanya Sifa dengan bingung.
"Bukan kesal, tapi ya .. Ya ... Akh, susah jelasninnya," jawab Abash sambil menggaruk kepalanya.
"Hmm, saya kan cuma mau dengar pendapat Bapak aja. Secara Bapak kan juga laki-laki, ya."
"Iya, tapi gak semua laki-laki itu sama."
"Bapak benar," lirih Sifa dan menghela napasnya pelan. Gadis itu pun kembali menatap ke arah luar jendela dengan memikirkan apa yang terjadi dengan perasaannya besok.
"Kok kamu jadi diam?" tanya Abash yang tak lagi mendengar suara Sifa.
"Saya bingung mau ngomong apa, Pak," jawba Sifa pelan.
"Hmm, ya udah. Kamu mau tanya apa emangnya tentang cowok itu?" tanya Abash dengan nada sedikit tak suka.
__ADS_1
"Dasar cowok brengsek, bisa-bisanya mempermainkan perasaan gadis semanis ini," batin Abash kesal dan menggenggam setir dengan erat.
"Katanya Bapak gak mau dengar," lirih Sifa.
"Iya, itu tadi. Sekarang saya mau dengar. Coba cerita, apa yang udah di lakukan oleh pria brengsek itu," kesal Abash yang mana membuat Sifa mengerjapkan matanya cepat.
"Jadi, apa yang udah di lakuin sma pria itu ke kamu?" tanya Abash tak sabaran.
Sifa mengulum bibirnya, gadis itu merasa lucu melihat sang bos merasa kesal dengan pria yang di maksud oleh SIfa.
"Tapi, kenapa Pak Abash harus kesal? Bukannya dia gak suka sama aku?" batin Sifa lagi menatap Abash dengan bingung.
"Jadi gini, Pak. Saya merasa bingung aja gitu sama perlakuan cowok itu ke saya. Dia pernah bilang, kalau saya itu bukan tipe wanita yang dia sukai. Tapi, dia selalu ada untuk saya. Di saat saya dalam kesusahan, pria itu datang menolong saya. Tapi, yang bikin saya bingung sekaligus kesal dan benci dengan dia. Dia sudah mencuri ciuman pertama saya," cicit Sifa pelan dan hati-hati.
Abash pun memaki pria itu dalam hati dan menggenggam setir semakin erat, sehingga membuat buku-buku jarinya memutih.
"Itu pria brengsek namanya,," kesal Abash, "Mending kamu jauhi dia mulai dari sekarang,"
"Menurut Bapak begitu?" tanya Sifa.
"Iya," jawb Abash dengan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau begitu, boleh Bapak berhenti di pinggir sekarang?" pinta Abash.
Abash pun menoleh ke arah Sifa. "Untuk apa?"
"Udah, pinggir aja," pinta Sifa lagi dengan nada yang terdengar kesal.
Abash pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Sifa. Saat melihat Sifa membuka seat belnya, Abash pun dengan cepat langsung menahan gadis itu.
"Kamu mau apa?" tanya Abash dengan sedikit panik.
"Bukannya Bapak menyuruh saya untuk menjauhi pria brengsek itu?"
"Iya, saya menyuruh kamu untuk menjauhinya, tapi kenapa kamu malah mau turun di sini?" tanya Abash.
"Bapak gak ngerti juga maksud saya?" tanya Sifa dengan tatapan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Loh, kenapa kamu nangis? Salah saya apa, SIfa? Kenapa kamu melampiaskan kekesalan kamu dari cowok brengsek itu ke saya?" tanya Abash dengan wajah polosnya.
"Cowok brengsek itu adalah Bapak," pekik Sifa yang sudah tak tahan lagi menahan ungkapan hatinya.
"Mak-maksud kamu?" tanya Abash dengan bingung.
"Cowok brengsek yang udah curi ciuman pertama saya itu adalah Bapak. Cowok brengsek yang udah bikin hati saya bingung itu adalah Bapak. Setiap perlakuan dan perkataan Bapak, membuat saya bingung. Sekali Bapak berlaku manis kepada saya, tapi Bapak juga langsung membuat saya terjatuh dengan begitu cepat," ujar Sifa dan mengusap air matanya dengan menetes di pipinya.
__ADS_1
"Mau Bapak apa sih? Trus, apa maksud Bapak main cium-cium saya? Setelah cium, dengan seenak jidad aja Bapak nyuruh saya melupakan hal itu. Bapak pikir saya boneka? Atau anak kecil yang bisa di cium sesuka hati?" kesal Sifa dan menepis tangan Abash yang ingin mengusap air matanya.