
Zia melihat sekeliling cafe, mencari keberadaan teman yang ingin dia temui. Senyuman gadis itu pun terbit, di kala dia melihat sosok yang ingin di temui. Zia melangkahkan kakinya menuju pria tersebut.
Ya, pria itu adalah Abash.
"Apa kabar, Mas?" sapa Zia saat sudah berada di depan Abash.
"Baik, kamu gimana? Seperti kelihatan kurusan?" ujar Abash dengan ramah.
Zia tersenyum malu. "Kelihatan banget ya, Mas?" tanya Zia.
"Iya, sudah seperti tengkorak berjalan," ujar Abash yang mana membuat Zia membulatkan matanya.
Jika kalian bertanya kenapa Abash terlihat akrab dengan Zia. Tentu saja, karena perusahaan Abash bekerja sama dengan perusahaan Papa Satria, di mana kebetulan sekali yang memegang kendalinya proyek tersebut adalah Zia.
"Bisa aja perumpamaannya," kekeh Zia. "Kalau aku mirip tengkorak berjalan, pasti kucing dan anjing-anjing yang di luar tadi udah pada ngejerin dong."
"Tengkoraknya cantik, makanya mereka gak pede buat ngejar," sahut Abash yang mana me buat Zia tertawa lepas.
"Ya ampun, ternyata Mas Abash ini lucu banget. Gak seperti apa yang dikatakan oleh karyawan aku," kekeh Zia.
"Aku hanya terlihat lucu di depan keluarga saja. Dan kamu, sudah termasuk keluarga aku," ujar Abash yang mana membuat tawa Zia luntur menjadi sebuah senyuman kecil.
Ya, mau tak mau dia sudah menjadi bagian keluarga Moza juga kan? Walaupun tidak keluarga inti, tapi sudah termasuk keluarga kan? Secara Putri telah menikah dengan salah satu penerus perusahaan Moza.
"Ah ya, kabar Mbak Sifa gimana?" tanya Zia.
"Alhamdulillah, baik. Tapi aku masih belum bisa menemuinya," lirih Abash.
"Yang sabar, Mas. Gak lama lagi kan?" ujar Zia sambil menaik turunkan alisnya.
Abash yang melihat kode Zia pun kembali tersenyum.
"Ah ya, ini ada beberapa gambar cincin yang aku desain khusus untuk Mas dan Mbak Sifa. Mas lihat-lihat aja dulu, ya. Kalau ada yang mau di tambah, nanti tinggal bilang aja. Atau, kalau gak ada Yangs sesuai, biar kita atur gambarnya yang sesuai dengan yang Mas suka," ujar Zia sambil memberikan sebuah buku gambar sketsa, di mana di dalam buku tersebut sudah terdapat beberapa gambar cincin yang memang sengaja Zia rangkai khusus untuk Abash yang ingin melamar Sifa menjadi istrinya.
"Oke, aku lihat-lihag dulu, ya." Abash pun mengambil buku sketsa yang diberikan oleh Zia.
"Kalau begitu aku pamit ke toilet dulu ya, Mas. Kebelet nih," pamit Zia dan langsung berlari tanpa mendengar jawaban dari Abash.
Abash hanya menggelengkan kepalanya pelan dan melihat sketsa cincin yang telah Zia rangkai.
"Cantik-cantik cincinnya," gumam Abash yang mulai merasa bingung harus memilih yang mana.
Di toilet.
Zia menghela napasnya pelan, setelah menuntaskan hajatnya. Perasaannya pun menjadi lega, setelah tidak lagi menahan sesak pipis. Zia mencuci tangannya di wastafel, kemudian dia tersenyum saat mengingat betapa beruntungnya Sifa dan Putri, mendapatkan pria yang memiliki karakter bagaikan pangeran di dalam cerita dongeng.
"Hmm, jodoh gak ada yang pernah tau," lirih Zia dengan sendu.
__ADS_1
Pria yang dia taksir, sepertinya tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Kisah cinta Zia tak semanis sang kakak.
Zia telah selesai mencuci tangannya, gadis itu pun menghadap kanan untuk mengambil tisu. Saat Zia kembali berbalik ke arah yang berlawanan, tiba-tiba saja seorang pelayan cleaning service meletakkan sebuah ember di dekatnya, sehingga membuat Zia tidak melihat ember tersebut dan tersandung.
Bruukk ...
"Awww ..." ringis Zia yang juga hampir terjatuh ke lantai.
"Mbak gak papa?" tanya beberapa orang yang ada di dekat Zia.
"Ya, saya gak papa," jawab Zia dan kembali berdiri tegak dengan di bantu oleh seorang wanita yang juga ada di toilet.
"Maaf, Mbak, apa ada yang terluka?" tanya si cleaning service.
"Mbak, kenapa embernya di letak sembarangan sih? Ini kan bahaya buat tamu?" kesal wanita yang membantu Zia tadi.
"Maaf, saya gak sengaja, Mbak. Maafkan saya," sesal si cleaning service.
"Lain kali hati-hati, Mbak. Lihat-lihat kalau mau letakkan sesuatu barang," ujar Zia yang malas memperpanjang masalah.
"Gak mau di laporin ke managernya aja, Mbak?" usul seorang wanita.
"Gak usah, biarin aja. Biar jadi pelajaran untuk tidak membuat kesalahan di lain waktu," sahut Zia.
"Beruntung banget kamu. Kalau tadi yang menendang ember itu saya, sudah bermasalah kamu," ujar wanita yang membantu Zia berdiri tadi.
"Ya sudah, gak papa. Lain kali lebih hati-hati aja ya, Mbak," sahut Zia.
"Iya, Mbak. Terima kasih," Cleaning service pun merasa sangat bersyukur. "Tapi, apa kaki Mbak gak kenapa-napa?" tanya si cleaning service.
"Gak papa, kok," sahut Zia yang sebenarnya sedang menahan rasa sakit pada pergelangan kakinya.
Zia pun berjalan secara perlahan keluar dari kamar mandi, dengan berpegangan dengan tembok, gadis itu terus berjalan menyusuri koridor hingga akhirnya kembali ke meja di mana Abash masih berada di sana.
"Maaf ya, Mas, lama," ujar Zia dan langsung mendudukkan tubuhnya.
"Gak papa kok," jawab Abash sambil tersenyum.
"Gimana, ada yang cocok, gak?" tanya Zia.
"Ada," jawab Abash dan menunjukkan salah satu gambar cincin yang simple tapi terlihat sangat indah.
"Apa ada lagi yang mau di tambahkan, Mas?" tanya Zia memastikan.
"Tidak ada. Aku rasa itu sudah sangat sempurna," jawab Abash. "Tapi, kalau menurut kamu ada yang kurang, boleh di tambahin lagi kok. Tapi jangan terlihat terlalu wah atau norak jadinya, ya. Harus tetap simple," pinta Abash.
"Baiklah, nanti kalau ada penambahan, aku kirim foto aja ke Mas, ya?" ujar Zia.
__ADS_1
"Oke."
"Emm, Mas, karena urusan kita udah selesai, aku balik duluan ya, ada janji dengan Mas Bara juga," pamit Zia.
"Oh, oke. Lagian aku juga mau ketemuan sama temen. Mumpung lagi di Bandung," kekeh Abash.
Zia pun mengambil kembali sketsa miliknya, kemudian menyimpannya ke dalam tas.
"Baiklah kalau begitu, Mas, aku duluan ya," pamit Zia lagi sebelum berdiri.
"Silahkan."
Zia berdiri, gadis itu memejamkan matanya sesaat, di saat merasakan nyeri oada pergelangan kakinya. Tapi, dia tidak boleh terlihat sedang menahan rasa sakit, karena tidak ingin membuat Abash khawatir atau pun merepotkan pria itu.
"Akhhh ..." ringis Zia yang hampir terjatuh di lantai, andai saja Abash tidak cekatan untuk menangkap tubuh Zia.
"Kamu gak papa, Zia?" tanya Abash.
"Kaki aku, Mas, aww ... sakit banget," ringis Zia.
Abash menoleh ke arah pergelangan kaki Zia yang terlihat membengkak, sehingga membuat pria itu terkejut.
"Apa kamu terjatuh di kamar mandi tadi?" tebak Abash yang di jawab anggukan oleh Zia.
"Kamu ke sini naik apa?" tanya Abash.
"Naik taksi online, Mas."
"Kalau begitu aku antar kamu ke rumah sakit sekarang."
"Jangan, Mas, gak usah. Aku bisa pergi sendiri kok," tolak Zia.
"Gak, aku akan tetap pergi mengantar kamu ke rumah sakit. Ayo ..."
Abash pun membantu Zia untuk berjalan, terlihat gadis itu menahan rasa sakitnya. Saat mereka keluar dari cafe melalui pintu yang lain, tiba-tiba saja kaki Zia tergelincir karena ada minuman yang tumpah, sehingga menjaga Zia tanpa sengaja memeluk Abash.
"Maaf, Mas, maaf, aku gak gak sengaja," lirih Zia sambil menahan sakit.
"Kalau sakit banget, aku gendong aja mau?" tawar Abash.
"Gak usah, Mas, bantu aku jalan aja. Aku masih sanggup jalan kok."
Abash pun kembali merangkul Zia dan membantunya berjalan, hingga pria itu tak tahan lagi mendengar ringisan kesakitan dari bibir Zia.
"Sebaiknya aku gendong saja, biar cepat," ujar Abash dan langsung membawa Zia ke dalam gendongannya.
Mereka pun masuk ke dalam mobil Abash, hingga pria itu melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, keluar dari parkiran mobil.
__ADS_1
"Zia dan Abash?" lirih Arash yang melihat mereka dari kejauhan.