
Jimi menatap tajam ke arah Abash, karena pria itu semua karir yang telah dia raih hancur dalam seketika. Bahkan, Jimi tidak dapat bekerja di perusahaan mana pun atas kesalahan yang pernah dia perbuat kepada Sifa. Jimi pun berpikir, jika dirinya tidak dapat bekerja di tempat lain itu karena Abash. Pasti karena koneksi dari pria yang sudah membuatnya keluar dari pekerjaan. Sudah berbulan-bulan dia menanti waktu ini, di mana dia ingin bertemu langsung dengan Abash dan memberikan pelajaran kepada pria itu.
"Aku sumpahi jika kau akan hidup menderita sepertiku," pekik Jimi dan menusukkan pisau yang ada di tangannya ke arah Abash.
"Tidaaak …" pekik Sifa saat melihat Jimi berlari dengan mata pisau yang mengarah ke arah Abash.
Zia berlari dengan kencang untuk mendorong tubuh Abash, agar pria itu tidak terluka. Namun sialnya, kaki Zia malah tersandung batu kerikil sehingga membuatnya terjatuh di dalam pelukan Abash.
Sraaak …
"Akkhh …" Zia memekik di saat pinggangnya tertusuk pisau yang dipegang oleh Jimi.
"Zia …" lirih Abash sambil menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh.
Arash meminta kepada Sifa untuk memegang Putri, kemudian pria itu berlari dan menahan Jimi dengan cepat, sebelum dia melarikan diri.
"Cepat, hubungi kantor polisi dan Kak Lucas," titah Arash kepada Sifa.
Sifa langsung menganggukkan kepalanya. Hal pertama yang dia hubungi adalah Kak Lucas dan memberitahu jika Zia terluka terkena tusukan pisau. Setelah meminta Kak Lucas menyiapkan tim medis, Sifa pun langsung menghubungi pihak kepolisian.
"Zia … hikks … Zia … Bertahanlah, Dek. Hiks … bertahanlah," pinta Putri yang sudah berada di dekat Zia dan Abash.
"A-aku gak papa kok, Mbak," lirih Zia menahan rasa sakitnya. "Mbak jangan menangis," ujar Zia sambil mengusap air mata sang kakak.
"Zia … hiks …" Putri memegang tangan Zia yang sedang menyentuh pipinya itu.
Arash sudah memborgol Jimi dan menyuruh Abash untuk bergegas membawa Zia ke rumah sakit.
"Aku akan menunggu polisi datang ke sini. Kalian pergilah, nanti aku akan menyusul," titah Arash yang diangguki oleh Abash.
Abash pun langsung menggendong Zia dan membawanya ke dalam mobil. Sifa memegang Putri agar wanita hamil itu tidak terjatuh di saat berjalan cepat.
"Put, sebaiknya kamu naik mobil bersama Arash saja, karena aku akan mengebut," pinta Abash agar Putri turun dari mobilnya.
"Enggak. Aku gak mau ninggalin Zia," tolak Putri.
"Put, kamu jangan keras kepala. Jika aku mengebut, itu sama aku juga mencelakai keponakan aku dan kamu, Put. Aku gak mau terjadi apa-apa dengan kamu," bentak Abash yang mana membuat Putri terkejut.
__ADS_1
"M-mbak, aku gak apa-apa kok. Mbak sebaiknya menyusul dengan Mas Arash saja, ya?" pinta Zia mencoba tersenyum agar tidak terlihat sedang kesakitan.
"Tapi, Dek, aku--"
"Put, apa yang dikatakan oleh Mas Abash ada benarnya. Sebaiknya kamu naik mobil yang lain, ya?" tambah Sifa lagi.
Dengan terpaksa, Putri kembali turun dari mobil dan membiarkan Abash pergi membawa sang adik tanpa dirinya di samping Zia.
"Kenapa turun?" tanya Arash kepada sang istri.
"Abash suruh aku menyusul naik mobil lain saja. Dia takut aku akan ikut terluka jika berada di dalam mobil yang sama, karena Abash mau mengebut membawa Zia ke rumah sakit dengan segera," jelas Putri sambil tersedu-sedu.
Arash menganggukkan kepalanya. Keputusan sang kembaran sudah sangat benar. Bahkan, dirinya sampai tidak kepikiran sampai sana. Dalam pikiran Arash, pastinya Putri ingin berada di samping sang adik.
"Abash benar. Kita akan menyusul ke rumah sakit setelah polisi datang ke sini," ujar Arash yang dijawab gelengan oleh Putri.
"Enggak, Mas, aku gak mau. Aku maunya kita pergi sekarang," rengek Putri yang mana membuat Arash merasa tidak tega.
Arash pun mempercayakan Jimi kepada satpam menjaga keamanan caffe, kemudian pria itu menggenggam tangan sang istri dan membawanya masuk ke dalam mobil.
"Kamu tenang saja, ya. Zia pasti baik-baik saja," ujar Arash menenangkan sang istri.
*
Mobil yang Abash kendarai sudah berhenti di depan IGD. Di sana sudah ada Kak Lucas dan timnya untuk menyambut kedatangan Zia.
"Bagaimana lukanya?" tanya Kak Lucas saat Sifa membuka pintu mobil.
"Pinggangnya tertusuk pisau. Pisaunya masih tertancap di pinggang, Kak. Kami tidak berani untuk mencabutnya, takut jika banyak darah yang akan keluar," jawab Sifa dan memberikan ruang untuk Kak Lucas mengeluarkan Zia dari dalam mobil.
Kak Lucas pun melihat pisau yang masih tertancap di pinggang Zia. Untungnya pisau itu berukuran kecil, sehingga kemungkinan untuk melukai terlalu dalam sangat kecil sekali. Kak Lucas memeriksa pinggang Zia yang tertusuk pisau.
"Semoga saja tidak terlalu dalam," lirih Kak Lucas dan meminta timnya untuk membawa Zia ke ruang tindakan.
Sifa dan Abash pun ikut berlari mengejar brankar Zia yang di dorong oleh tim medis.
"Semoga saja Zia baik-baik saja ya, Mas," lirih Sifa dengan tangan yang saling menggenggam satu sama lainnya.
__ADS_1
"Semoga saja, sayang."
Abash menghela napasnya pelan. Andai saja Zia tidak menyelamatkan dirinya, mungkin saat ini dialah yang sedang terbaring di atas brankar.
Lima belas menit berlalu, Putri dan Arash pun akhirnya tiba di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan Zia?" tanya Putri dengan napas yang ngos-ngosan.
"Masih di dalam ruang tindakan," jawab Sifa sambil menunjuk ke arah pintu putih yang tertutup rapat itu.
"Zia …" lirih Putri dengan air mata yang terus bercucuran.
"Kamu tenang ya, Mbak. Sebaiknya kita berdoa agar Zia baik-baik saja," bujuk Sifa yang diangguki oleh Putri.
Kak Lucas keluar sambil menghela napas lega. Kehadiran pria itu pun langsung di sambut oleh Putri, Sifa, Abash, dan Arash.
"Bagaimana keadaan Zia, Kak?" tanya Putri dengan air mata yang sedari tadi tidak mau berhenti.
"Alhamdulillah, Zia baik-baik saja. Syukurnya luka tusukan tidak terlalu dalam, sehingga tidak mengenai organ dalam tubuhnya," jelas Kak Lucas.
"Alhamdulillah, syukurlah …" lirih Putri akhirnya bisa bernapas dengan lega.
"Alhamdulillah," Sifa pun ikut mengucap rasa syukur dengan suaranya yang lirih.
"Apa kami sudah bisa menjenguknya?" tanya Putri.
"Ya, kalian bisa menjenguknya. Masuk saja," titah Kak Lucas.
Tanpa menunggu lama, Putri dan Sifa pun langsung masuk ke dalam ruang tindakan di mana Zia berada.
"Zia!" Putri langsung berlari pelan dan memeluk tubuh sang adik yang tertidur di atas brankar.
"Aww, Mbak," ringis Zia yang mana membuat Putri merelaikan pelukannya.
"Maaf, apa Mbak menyakiti kamu?" tanya Putri dengan menyesal karena sudah memeluk Zia.
"Enggak, Mbak," jawab Zia berbohong.
__ADS_1
Tangan Zia terulur untuk menyentuh pipi sang kakak. "Jangan menangis, Mbak. AKu tidak ingin melihat Mbak bersedih."