Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 359


__ADS_3

Putri sudah di make over dengan perias wajah terkenal. Sepak terjangnya sudah tidak perlu di ragukan lagi. Bahkan, para artis yang menikah pun sering menggunakan jasanya.


Tok ... tok ... tok ...


Terdengar suara ketukan pintu kamar, sehingga membuat Arash yang juga berada di dalam kamar tersebut pun bangkit untuk membuka pintu, bersamaan dengan asisten dari si perias.


"Gak papa, lanjutkan saja kerjanya. Biar saya yang membuka pintu," ujar Arash menyuruh asisten perias itu untuk kembali mengerjakan tugasnya.


Arash pun membuka pintu kamar hotelnya, hingga menampilkan sosok wanita cantik paruh baya yang sangat dia hormati.


"Ma, masuk," titah Arash sambil memberikan ruang untuk Mama Nayna masuk ke dalam kamarnya.


"Putri mana? Apa sudah mulai di rias?" tanya Mama Nayna.


"Sudah, Ma."


Mama Nayna dan Arash pun berjalan beriringan menuju ke arah Putri yang sedang di rias oleh perias terkenal dan memiliki pengalaman yang sudah sangat banyak sekali.


"Waah, anak Mama cantik sekali?" puji Mama Nayna saat melihat Putri sudah hampir selesai di rias. "Benar-benar mirip boneka."


"Ah Mama, Putri jadi malu tau," ujar Putri dengan wajah yang merona.


Perias pun mengeluarkan satu set perhiasan yang akan dia gunakan kepada Putri, hingga gerakan itu pun terlihat oleh Mama Nayna.


"Maaf, bisa jangan memakai yang itu?" ujar Mama Nayna dengan cepat, sehingga me.biat perias itu menggantungkan gerakannya.


"Ya?" lirih perias dengan bingung.


Mama Nayna tersenyum dan mendekati persis.


"Begini, Putri bungsu saya telah memberikan hadiah untuk kakaknya, untuk itu, saya ingin memakai perhiasan yang di buat oleh putri bungsu saya," ungkap Mama Nayna.


"Oh, begitu. Boleh sekali," jawab perias dengan tersenyum.


Mama Nayna pun menunjukkan kota perhiasan yang di bawanya kepada Putri.


"Apa itu hadiah yang di berikan oleh Zia, Ma?" tanya Putri dengan mata berbinar.


"Iya, sayang. Ini hadiah yang sangat spesial untuk kamu," ujar Mama Nayna sambil membuka tutup kotak perhiasannya.


Putri pun membelalakkan matanya, di sana melihat betapa cantiknya perhiasan yang di hadiahi oleh Zia untuknya.

__ADS_1


"Kamu tau, desain mahkota, kalung, anting, gelang, dan cincin ini adalah hasil dari karya Zia sendiri," ujar Mama Nayna memberitahu.


Putri terlihat terkejut, saat mendengar apa yang di katakan oleh Mama Nayna


"Mama serius?"


"Huum, Mama serius."


"Jika Zia memiliki bakat sehebat ini, kenapa dia mengambil bisnis? Kenapa tidak mengambil seni?" lirih Putri.


"Mama juga gak tahu, sayang. Yang terpenting sekarang adalah apapun keputusan Zia, kita dukung ya?" ujar Mama Nayna yang di angguki oleh Putri.


"Ma, boleh Putri minta sesuatu?" lirih Putri menatap wajah sang mama.


"Apa sayang?"


"Di mana Zia tinggal sekarang, Ma? Putri ingin bertemu dengannya," mohon Putri dengan suara yang sendu.


Mendengar sang istri memohon dan bertanya di mana keberadaan Zia, Arash mengepalkan tangannya erat. Pria itu merasa tidak suka, jika orang-orang membahas tentang adik iparnya itu.


Bagi Arash, orang yang berharap jika seseorang untuk tiada, sama saja dengan pembunuh dalam diam. Untuk itu, Arash menikah Zia sebagai seorang pembunuh. Pria itu benar-benar membenci adik iparnya itu.


Putri tersenyum, dia harus kembali menahan rasa ingin tahunya di mana Zia berada.


"Silahkan di lanjutkan, Mbak," ujar Mama Nayna kepada perias.


Perias pun kembali mengambil alih, di mana dia akan menggunakan perhiasan yang di berikan oleh Zia untuk sang kakak.


*


"Wuaaaahh... coba lihat, siapa ini?" puji Quin saat masuk ke dalam kamar pengantin untuk melihat apakah adik iparnya telah siap atau belum.


"Benarkah, Mbak?" tanya Putri dengan wajah merona.


"Huuum, kamu terlihat sangat cantik sekali." Quin pun menatap mahkota yang ada di kepala Putri, kemudian beralih ke arah kalung dan anting yang gadis itu kenakan.


"Perhiasannya sungguh indah. Apa Arash yang memberikannya?" tanya Quin dengan senyuman menggoda.


Putri menggelengkan kepalanya pelan, sehingga membuat Quin mengernyitkan keningnya.


"Lalu?"

__ADS_1


"Perhiasan ini hadiah dari Zia, Mbak. Dia yang merancangnya sendiri," ujar Putri memberitahu.


"Hah? benarkah?" kejut Quin. "Ini sungguh indah sekali. Zia benar-benar berbakat," puji Quin dengan tulus.


"Kamu beruntung mendapatkan adik seperti Zia, Putri," ujar Quin dengan tersenyum.


Arash tersenyum miring, pria merasa kesal mendengar kalimat yang diucapkan oleh sang kakak. Kenapa semua orang memuji gadis itu? Padahal apa yang telah Zia perbuat sangatlah tidak terpuji. Bagaimana bisa seorang adik berharap jika sang kakaknya meninggal dunia? Padahal dia bisa menolong kakaknya itu. Tidak salah kan, jika Arash menuduh Zia seorang pembunuh dalam diam? Dan tidak salah kan jika Arash membenci adik iparnya itu?


"Apa sudah waktunya untuk kami keluar?" tanya Arash mengambil alih perhatian Quin dan Putri.


"Waaah, lihat siapa ini?" puji Quin saat melihat sang adik yang terlihat sangat tampan sekali.


Quin pun menghampiri sang adik. "Apa ini Arash adikku?" tanya Quin sambil menangkup pipi Arash. "Kenapa bisa sangat tampan sekali?"


Arash ikut tersenyum di saat Quin memujinya. Pria itu pun melirik ke arah sang istri yang kedapatan memandangnya tanpa berkedip. Bahkan, wajah Putri terlihat merona saat ini.


"Terima kasih, Mbak. Aku tahu kalau Mbak memujiku dengan tulus, karena saat ini ada seseorang yang memandangku tanpa berkedip," ujar Arash sambil mengedipkan matanya sebelah.


Putri terkejut dan membelalakkan matanya, gadis itu itu bergegas menoleh ke arah lain sambil menangkup pipinya yang terasa memanas.


"Dasar mesum," cibir Putri dengan pelan.


Quin ikut terkekeh di saat melihat Arash menggoda sang istri. Hubungan mereka pun terlihat sangat romantis sekali.


"Ya sudah kalau begitu, bersiaplah untuk turun," titah Quin sebelum meninggalkan kamar.


*


Para perwira polisi yang pangkatnya di bawah Arash pun, telah berkumpul dan membuat barisan untuk menyambut kedatangan Putri dan Arash. Mereka akan melakukan penghormatan pedang kepada pengantin yang akan berjalan di atas karpet merah.


"Kamu tau, Rash, aku merasa seperti ada di sebuah film," ujar Putri merasa takjub.


Putri dan Arash berjalan dengan pelan, di bawah penghormatan pedang yang di lakukan oleh para perwira polisi yang lainnya.


"Aku juga merasa jika aku sedang berada di dunia dongeng. Dulu, aku dan Zia selalu memimpikan pernikahan seperti ini, tapi siapa yang menyangka jika aku mimpiku terwujud, Rash." lirih Putri.


"Terima kasih banyak karena telah memilih aku sebagai pendamping hidup kamu, Rash. Terima kasih banyak," ujar Putri sambil meremas pelan lengan sang suami.


"Sama-sama, sayang. Aku sebagai suami kamu, akan mewujudkan semua mimpi-mimpi kamu. Aku akan jadikan hidup kamu bagaikan di dunia dongeng yang nyata. Percayalah, aku tidak akan membuat kamu menyesal telah menikah brondong sepertiku," ujar Arash sambil mengedipkan matanya.


"Dasar kamu ini, brondong mesum."

__ADS_1


__ADS_2