
"Kenyang juga ya, padahal cuma cicipin sedikit demi sedikit setiap masakan dari segala penjuru Indonesia," ujar Arash yang tak melepas senyumnya dari tadi.
"Iya, kenyang banget." sambung Sifa sambil mengelus perutnya.
"Tapi, walau bagaimana pun, makan tanpa nasi, kurang nikmat kan ya? Gimana kalau kita makan nasi di resto itu, saya yang traktir." ajak Arash.
Sifa dan Amel saling menoleh. Mereka sudah ingin menolak, akan tetapi saat Sifa ingin berbicara, Arash tengah berbicara dengan seseorang di ponselnya.
"Abash mau ke sini, kalian gak keberatan kan? kalau Abash gabung?" tanya Arash.
Sifa udah membuka mulutnya untuk menolak. Tadi, saat Arash berbicara di telpon, Sifa dan Amel sudah sepakat akan makan berdua aja, untuk menghabiskan waktu bersama. Tetapi, suara Sifa tenggelam dengan suara Amel.
"Boleh, gak masalah kok," jawab Amel dengan senyum yang lebar.
Sifa menolehkan kepalanya menatap sang sahabat. Keningnya mengkerut melihat senyum yang tercetak di wajah gadis cantik itu.
"Oke, kalau gitu kita langsung aja ke resto itu yaa," ajak Arash dan mempersilahkan para ladies untuk berjalan di depan.
Amel merangkul lengan Sifa dan mengajak sahabatnya itu berjalan menuju resto yang di maksud oleh Arash.
"Kok di setujui?" bisik Sifa. "Katanya mau habisin waktu berdua? Karena ada yang mau kamu ceritain?"
"Sekali-kali bisa gabung dengan keturunan Moza," balas Amel sambil berbisik.
Sifa menaikkan alisnya sebelah, tanpa rasa curiga, Sifa hanya mengikuti kemauan sang sahabat. Yaa, kapan lagi memang bisa makan bareng dengan keturunan Moza, tapi ungkapan kalimat itu tidak berlaku bagi Sifa. Bahkan, kalau bisa Sifa menghindar untuk makan bersama bos-nya itu.
*
Sifa dan Amel saling melirik. Bagaimana tidak, resto yang berada di lantai dua itu sudah di sewa entah oleh Arash atau Abash. Intinya, lantai dua resto itu hanya akan ada Sifa, Amel, Arash dan Abash.
"Maaf, nunggu lama, udah pada pesan belum?" ujar Abash dan duduk di sebelah Arash dan berhadapan dengan Amel, serta bersebelahan dengan Sifa.
Berhubung meja yang mereka duduki ini berbentuk bundar. Sudah jelaskan? letak duduk mereka yang saling bersebelahan?
"Belum, lagian kami juga baru sampai," ujar Arash sambil menyodorkan buku menu kepada sang kembaran.
Sifa menatap isi buku menu tersebut. Bola matanya bereaksi dengan membesar saat melihat harga yang tertera.
__ADS_1
Yang benar saja, salad sayur seharga hampir seratus ribu?
Sifa kembali membalik halaman buku menu tersebut. Lagi dan lagi, Sifa kembali membelalakkan matanya saat melihat harga yang tertera di sana. Matanya berkedip-kedip lucu sehingga membuat bulu mata itu seakan menari di matanya yang indah. Daaan, semua gerakan itu tertangkap oleh Abash melalui sudut matanya.
"Jadi, kalian mau pesan apa?" tanya Arash kepada Sifa dan Amel.
"Saya pesan steak keju mozarela." ujar Amel sambil menutup buku menunya.
Arash mengangguk kemudian menoleh kepada Sifa yang masih bingung dengan makanan apa yang harus dia pesan.
"Grilled chicken and mix salad green," ujar Abash dengan menatap Sifa.
Sifa yang di tatap pun hanya bisa mengedipkan matanya sekali yang menurut Abash itu sebagai jawaban 'iya'.
"Itu satu, dan aku yang seperti biasa," ujar Abash sambil menutup buku menu dan meletakkannya di atas meja.
"Salad? Sejak kapan su__"
"Itu untuk Sifa," ujar Abash memotong ucapan sang kembaran.
Arash menaikkan alisnya sebelah dan melirik ke arah Sifa. Tak hanya Arash, Amel pun melakukan hal yang sama.
Sifa pun melirik ke arah Abash.
"Kalau kamu gak suka, boleh ganti yang lain."
Sifa pun langsung menjawab 'iya' kepada Arash, jika yang di sebutkan oleh Abash adalah pesanan untuknya. Bagaimana Sifa berani memesan yang lain, jika saja harga-harga salad yang ada di resto tersebut, tidak seperti yang ada di dalam pikirannya.
Sifa pikir, jika ada sebuah menu sayur-sayuran ala Indonesia, seperti gado-gado. Ada sih memang, tapi harganya jika selangit. Tak seperti bayangan Sifa yang hanya seharga lima belas ribu rupiah sepiring, walaupun biasa Sifa akan membelinya di pinggir jalan seharga lima ribu atau paling mahal sepuluh ribu rupiah.
Arash menganggukan kepalanya kemudian dan memanggil pelayan.
"Hanya salad? Gak pakai nasi?" tanya Arash kepada Sifa.
"Tidak," jawab Sifa dengan pelan.
Arash menganggukkan kepalanya dan menyebutkan pesanan mereka kepada pelayan. Sebenarnya resto ini adalah milik Papa Fadil. Cabang dari resto greenday cafe yang memang lebih berkelas dari cafe sebelumnya.
__ADS_1
"Apa kamu kenyang dengan tak makan nasi?" tanya Arash yang jelas-jelas pertanyaan itu di tujukan kepada Sifa.
"Iya, Pak." jawab Sifa pelan.
"Sifa ini memang unik, dia tak pernah makan nasi, hanya sayur-sayur saja," jawab Amel dengan tersenyum kepada Arash, kemudian melirik ke arah Abash yang terlihat santai dan hanya menatap ke arahnya.
Jantung Amel berdegup kencang. Dia tak pernah menyangka jika akan makan satu meja dengan pria pujaan hatinya selama ini. Anle melirik ke arah Sifa, sesaat terbesit dalam pikirannya untuk memanfaatkan sang sahabat, agar dirinya bisa lebih dekat dengan pujaan hatinya itu.
"Sungguh?" tanya Arash yang di angguki oleh Sifa.
"Wow, unik banget memang. Sejak kapan itu?" tanyanya lagi.
"Dari kecil. Kata nenek, sejak bayi kalau di kasih bubur, saya selalu kembali memuntahkannya."
"Ooh, unik banget ya.. Saya baru tau kalau ada orang yang gak bisa makan nasi," ujar Arash sambil terkekeh.
"Kurang jauh main Lo," jawab Abash yang mana membuat Arash tertawa. Sedangkan Amel tersenyum mendengar suara Abash yang membuatnya seakan ada ribuan kupu-kupu menggelitik perutnya.
Pesanan makanan mereka tiba, mereka pun mulai menikmati makanannya. Amel berpikir, jika makan siang ini akan terasa canggung dengan keheningan. Ternyata tidak, Arash sangat ramah dan selalu membuka obrolan. Ada saja cerita ataupun ungkapan lucu yang membuat Sifa dan Amel ternysenum dan juga tertawa kecil. Berbeda denganavash yang lebih diam dan tak menampakkan senyumnya.
'Mereka sungguh berbeda. Arash orang yang lebih ceria, sedangkan cintaku orang yang lebih pendiam. Aku suka itu. Tapi, mereka terlalu mirip. Bagaimana caranya bisa membedakan mereka?' batin Amel sambil menatap lekat wajah Abash.
Makan siang telah selesai. Arash masih saja menjadi orang yang mengisi kekosongan tersebut dengan bertanya dan kadang juga bercerita.
"Oh ya, bagaimana kaki kamu?" tanya Arash yang tiba-tiba mengingat kaki Sifa yang terluka.
"Alhamdulillah, sudah baik, Pak."
Tentu saja baik. Sifa mengurutnya setiap pagi dan mau tidur. Saat kakinya di gips, Sifa sulit untuk melakukan hal tersebut. Tapi, setelah gipsnya terbuka, Sifa perlahan memijit kakinya sendiri. Yaa, punya keahlian dalam memijit, membuatnya dapat memanfaatkan keahlian tersebut untuk dirinya sendiri.
"Ayo, kita pulang," ajak Arash setelah mereka benar-benar selesai dengan sesi ceritanya.
Sifa berdiri dan membuat Amel membelalakkan matanya saat melihat celananya ternoda.
"Sifa, kamu tembus!" ujarnya dengan nada khawatir.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
__ADS_1
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
...Follow IG Author : Rira_Syaqila...