Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
S2 - Bab 20 - Pengantin Baru


__ADS_3

"Cukup kembalikan Zia ke papa, dan papa tidak akan menyalahkan kamu!"


Kata-kata itu terus saja terniang di dalam benak Arash. Jujur saja, Arash sedikit pun tidak berniat untuk menyakiti Zia, atau pun membuatnya menderita. Tapi, untuk membuat gadis itu bahagia, Arash merasa ragu. Bahagia seperti apa yang seharusnya dia berikan untuk Zia?


Bukankah seorang suami istri itu bahagianya berdasarkan atas cinta satu sama lainnya?


Seperti yang kalian semua ketahui, jika Arash tidak bisa mencintai Zia. Atau, tidak akan pernah bisa mencintai gadis itu. Atau, ada keajaiban lain yang bisa membuat hati Arash terbolak balik, sehingga bisa menerima Zia di dalam kehidupannya?


Menerima dalam artian sebagai seorang istri yang utuh?


Arash menghela napasnya pelan, sehingga membaut Zia yang ada di sampingnya saat ini menoleh ke arahnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Zia yang melihat jika di wajah Arash terlihat sedang menanggung beban yang berat.


Apakah beban itu adalah dirinya? Bukankah mereka sudah membuat surat perjanjian, jika pernikahan ini hanya sebuah kamuflase untuk memberikan Rayyan dan Yumna keluarga yang utuh?


Ya, saat Zia menerima tawaran atau tantangan yang Arash berikan kepadanya, pria itu pun langsung mengajak Zia untuk berbincang empat mata, di mana hanya ada mereka berdua saja saat itu. Arash menawarkan perjanjian pernikahan kepada Zia, jika nanti saat mereka sudah resmi menjadi suami istri, maka yang harus Arash tegaskan adalah tidak adanya cinta di antara mereka. Arash pun meminta kepada Zia untuk tidak jatuh cinta kepadanya.


Zia menyetujui persyaratan pertama yang Arash berikan, hingga pria itu kembali menyebutkan persyaratan yang kedua.


Persyaratan yang kedua adalah jika mereka akan tinggal di apartemen mewah milik Arash, di mana nantinya mereka akan tidur di kamar yang berpisah. Arash juga mengatakan kepada Zia, Jika mereka tidak hanya tinggal berdua saja. Emm, maksudnya dua orang dewasa. Akan tetapi, juga akan ada Babay sister yang akan membantu Zia untuk merawat Rayyan dan Yumna, dan juga asisten rumah tangga yang akan mengurus segala keperluan rumah.


Zia hanya cukup berperan sebagai seorang ibu, agar tidak membuat Rayyan dan Yumna kesepian dan kehilangan sosok seorang ibu. Arash juga berpesan kepada Zia, agar gadis itu tidak perlu repot-repot untuk menyiapkan makanan atau pun sarapan untuknya, karena semuanya akan di siapkan oleh asisten rumah tangga. Dan juga, Zia tidak perlu berperan sebagai seorang istri, karena status mereka hanya sebatas hitam di atas putih, tidak lebih.


Zia kembali menyetujui persyaratan yang diberikan oleh Arash, karena bagi Zia, setuju menikahi pria itu bukan karena berharap di cintai layaknya seorang ratu atau istri yang memang di cintai dengan tulus. Zia menyetujui pernikahan ini karena hanya benar-benar ingin menjadi ibu sambung untuk Rayyan dan Yumna. Zia hanya ingin menebus kesalahannya kepada Putri, di mana gadis itu sempat membenci sang kakak semasa hidupnya.


Arash kembali memberikan persyaratan yang ketiga, di mana Zia bebas untuk melakukan segala kegiatan yang gadis itu kerjakan. Bahkan, jika Zia ingin berkencan dengan seorang pria pun, Arash tidak keberatan. Asalkan, Zia tahu tanggung jawabnya sebagai seorang ibu sambung bagi anak-anaknya. Dan hal yang menarik di telinga Zia adalah Arash akan menceraikan gadis itu, di saat dia sudah menemukan pasangan yang tepat dan siap untuk menikah.


Menarik bukan persyaratan yang diberikan oleh Arash, sehingga membuat Zia ingin tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Bagaimana caranya dia bisa melepas dengan mudah Rayyan dan Yumna?


Bukankah jika Zia sudah menemukan sosok pria yang tepat untuknya, Zia harus rela melepaskan Rayyan dan Yumna? Apa dia sanggung melakukan hal itu?


Membayangkannya saja Zia tidak mampu.


Zia pun menjawab persyaratan Arash yang ketiga dengan tawaran balik bersyarat. Di mana Zia bersedia di cerai oleh Arash, jika pria itu telah menemukan tambatan hatinya dengan syarat, jika dirinya tidak boleh dipisahkan oleh Rayyan dan Yumna. Jika Arash ingin menikah, maka menikahlah, tapi jangan larang Zia untuk bertemu dengan Yumna dan Rayyan.


Arash sempat tertawa mendengar tawaran balik dari Zia, karena bagi pria itu, dia tidak akan pernah kembali jatuh cinta kepada wanita mana pun. Bagi Arash, Putri hanya satu-satunya yang akan menjadi ratu di dalam hatinya dan tak akan pernah tergantikan oleh siapa pun.


"Tidak ada," jawab Arash tanpa menoleh ke arah Zia.


Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil menuju pulang ke kediaman Bara. Malam ini, mereka akan tidur di sana, sambil menyiapkan barang-barang Zia yang akan di bawa ke apartemen Arash, di mana nantinya mereka akan tinggal di sana.


Zia menghela napasnya pelan, gadis itu pun kembali menoleh ke arah luar jendela mobil. Sepertinya saat ini pemandangan di luar mobil lebih indah dari pada ketampanan pria yang ada di sebelahnya saat ini.


Zia hanya menghela napasnya pelan sambil menatap punggung Arash yang semakin menjauh. Lagi pula, dia tidak berharap jika Arash akan membukakan pintu mobil untuknya.


Ceklek ...


Zia menoleh ke arah orang yang baru saja membukakan pintu mobil untuknya.


"Selamat menjadi pengantin baru," seru Sifa sambil memberikan sebuket bunga yang sangat indah kepada Zia.


Zia tersenyum, gadis itu pun menerima buket bunga yang diberikan oleh Sifa kepadanya.


"Terima kasih. Bunganya sangat indah sekali," puji Zia dan merasa sangat bersyukur, jika Sifa telah menjadi iparnya.


"Ayo, aku bantu turun," ujar Sifa sambil memegang tangan Zia dan tongkatnya.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak." Zia pun tersenyum dengan tulus kepada wanita yang tengah mengandung saat ini.


"Sama-sama. Ayo, aku bantu pegangi bunganya." Sifa pun mengambil buket bunga yang dia berikan kepada Zia, karena tangan Zia harus bertumpu kepada tongkat yang berada di dalam sisi lengannya.


"Pelan-pelan, Zi," ujar Sifa yang berjalan di samping Zia.


"Iya, Mbak."


Saat Zia dan Sifa tiba di depan pintu rumah, kedatangan mereka pun langsung di sambut hangat oleh seluruh keluarga Moza yang sudah berkumpul.


"Taraaaa .... selamat menempuh hidup baru, Ziaaa ..." ujar Quin memberikan selamat kepada Zia.


Selamat menempuh hidup baru?


Zia tersenyum sambil tertawa kecil. Rasanya lucu sekali jika dirinya di berikan ucapan selamat menempuh hidup baru. Lagi pula, pernikahan ini hanyalah sebuah kamuflase sebagai keluarga yang utuh bagi Rayyan dan Yumna. Jadi, rasanya tidak perlu mengucapkan selamat hingga sampai memberikan kejutan seperti ini kepadanya.


"Mbak, bukankah aku sudah mengatakan untuk tidak perlu membuat kejutan seperti ini?" tegur Arash.


Zia menoleh ke arah pria itu. Untuk pertama kalinya pemikiran Arash satu dengan pemikirannya. Ya, rasanya tidak perlu membuat kejutan dan memberikan ucapan selamat untuk mereka. Lagi pula, pernikahan ini hanyalah sebuah pernikahan hitam di atas putih.


"Kenapa tidak perlu? Kalian ini sudah menikah dan sudah menjadi suami istri. Jadi, sudah sepantasnya diberikan ucapkan selamat," ujar Quin dengan senyumannya yang ceria.


"Tapi, Mbak---"


"Doanya adalah semoga di antara kalian akan tumbuh benih-benih cinta," ujar Quin memotong ucapan Arash dan langsung meledakkan confetti sebagai penambah kemeriahan sambutan.


Tanpa Arash dan Zia sadari, jika semua orang yang ada di sana mengamini ucapan Quin.


Akankah ada cinta yang akan tumbuh di antara mereka? Seperti apa yang doakan oleh Quin dan di harapkan oleh semua orang yang ada di sana?

__ADS_1


__ADS_2