Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 314


__ADS_3

Orang tua mana yang tidak hancur hatinya, di saat mengetahui jika putri kesayangannya telah ternoda. Bagaikan bara yang di siram air, padam dan gak bisa digunakan lagi. Hanya ada rasa dingin yang menyelimuti.


"Maafkan saya, Om," lirih Abash yang sudah tertunduk merasa bersalah.


Papa Satria mengepalkan tangannya dengan erat. Rahangnya terlihat mengeras dengan gigi yang saling menggerutuk. Pria paruh baya itu pun melangkahkan kakinya secara perlahan, mendekati Abash yang berdiri tak jauh darinya.


"Saya akan bertanggung jawab, Om," ujar Abash dengan penuh keyakinan.


Papa Satria menatap tajam ke arah Abash, di mana wajah pria itu sudah terlihat penuh dengan luka dan memar.


Tak peduli lagi dengan wajah Abash yang sudah babak belur, Papa Satria pun mendaratkan bogem mentahnya ke wajah pria itu.


Buugg ....


Papa Arka hanya bisa menutup matanya, pria paruh baya itu pun tidak akan menolong sang putra, karena dia juga akan melakukan hal yang sama, jika menjadi Papa Satria.


Papa Satria pun mencengkram kerah baju Abash. Jangan di tanyakan lagi bagaimana keadaan wajah pria itu, di mana darah segar kembali mengalir dari sudut bibir pria itu.


"Apa salah anakku terhadap kamu?" tanya Papa Satria dengan gigi yang rapat.


"Maaf, Om. Abash gak sengaja."


Buugg ....


Satu pukulan pun kembali mendarat di wajah Abash, hingga pipi dan hidung pria itu juga ikut mengeluarkan darah.


"Gak sengaja kamu bilang?" geram Papa Satria.


"Enak banget kamu ngomong, Hah?" pekik Papa Satria, hingga suaranya menggelegar di ruangan Lucas.


"Gak sengaja?" ulang Papa Satria sambil tertawa mengejek. "Kamu pikir anak saya itu barang yang di jual dan bisa sembarangan di sentuh, Apa?"


Abash menelan ludahnya dengan kasar. Dia sudah prediksi, jika Papa Satria akan sangat marah kepadanya.


Ya iyalah marah, orang tua mana yang gak akan marah, jika anaknya di nodai.


"Sat, mari kita bicara baik-baik," ajak Papa Arka, di saat melihat Papa Satria sudah meneteskan air matanya.


"Apa yang aku harus aku katakan kepada istri aku, Ar? Apa?" tanya Papa Satria.


"Putri memang bukan darah dagingnya, tapi kasih sayang Nanya kepada Putri melebihi anak kandungnya, Ar."


Papa Satria tidak bisa menahan air matanya, hingga pria paruh baya itu pun menangis terisak sambil memukuli dadanya.

__ADS_1


"Sakit banget hati aku, Ar."


Papa Arka paham dengan apa yang di rasakan oleh Papa Satria, hingga pria paruh baya itu pun menepuk pelan punggung calon besannya demi menenangkan pria itu.


"Tenangkan diri kamu, Sat. Baru kita bicarakan ini baik-baik dan secara kekeluargaan."


*


Untuk pertama kalinya, Sifa tidak bisa fokus dalam bekerja, karena pikirannya masih melayang kepada pengakuan Abash.


"Sifa, bisa kita bicara sebentar?" panggil Farhan.


Sifa menganggukkan kepalanya dan mengikuti bos barunya itu.


"Duduklah," titah Farhan.


Sifa menurut dan duduk di kursi yang berlawanan dengan Farhan, di mana jarak mereka dihalangi oleh meja.


"Apa kamu punya masalah pribadi?" tebak Farhan langsung, yang mana membuat Sifa merasa terkejut.


Apa sejelas itu?


"Sifa, jika kamu punya masalah pribadi, saya harap kamu bisa profesional dalam bekerja," pinta Farhan.


"Dan juga, seharusnya kamu harus bisa memisahkan yang mana urusan pekerjaan dan yang mana urusan pribadi."


Sifa semakin merasa bersalah. Dia juga tidak menyangka, jika efek dari masalah yang sedang dia hadapi saat ini, berimbas kepada pekerjaannya.


"Maafkan saya, Pak. Saya janji, saya akan bekerja dengan profesional."


"Baiklah kalau begitu, saya pegang janji kamu."


Sifa pun pamit undur diri dari ruangan Farhan, dengan perasaan lemas, dia kembali menuju ke mejanya.


"Sifa, kamu harus fokus. Kamu harus profesional dalam bekerja, Sifa," ujarnya pada diri sendiri.


*


"Om, izinkan saya yang menikahi Putri," pinta Arash dengan memohon.


Papa Satria dan Papa Arka sudah sepakat untuk menikahkan Abash dengan Putri, terlepas gadis itu hamil ataupun tidak.


"Kamu pikir anak saya piala yang digilir?" geram Papa Satria.

__ADS_1


"Om, saya mencintai Putri. Saya bersedia untuk bertanggung jawab, Om. Saya mohon, izinkan saya menikahi Putri," pinta Arash dengan memohon.


"Bagaimana jika Putri hamil? Apa kamu bisa jelaskan kepada anaknya? Siapa ayah kandungnya?" tanya Papa Satria.


Arash terdiam. Jujur saja, Arash tidak masalah menikahi Putri, terlepas gadis itu hamil atau pun tidak. Akan tetapi, apa yang di tanyakan oleh Papa Satria ada benarnya. Bagaimana dia bisa menjelaskan semuanya kepada anak itu, siapa ayah kandungnya yang sebenarnya.


"Keputusan sudah di putuskan, kalau Abash akan menikah dengan Putri," putus Papa Arka.


*


Putri yang di temani oleh Naya dan Luna di dalam ruang inapnya, meminta tolong kepada Naya untuk mencari tahu tentang Sifa. Gadis itu benar-benar bersalah terhadap Sifa. Putri tidak ingin merubah hubungan Abash dengan gadis itu.


"Aku akan mencoba untuk menemui Sifa," ujar Naya yang sebenarnya masih terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Putri.


Suara pintu terbuka pun membuat Putri, Naya, dan Luna pun menoleh ke arah pintu, hingga mereka tersenyum kepada Papa Arka dan Papa Satria yang berbarengan masuk ke dalamnya.


"Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanya Papa Arka dengan tersenyum manis yang di selimuti rasa bersalah yang mendalam.


"Baik, Om," cicit Putri dengan pelan.


"Luna, Naya, Papa minta kalian untuk keluar sebentar, ya. Karena ada yang mau Papa bahas dengan Putri," ujar Papa Arka kepada dua gadis yang ada di dalam sana.


"Iya, Om," pamit Luna.


"Iya, Pa," pamit Naya.


Luna dan Naya pun keluar dari kamar inap Putri. Saat mereka sudah berada di luar kamar, betapa terkejutnya Naya saat melihat wajah babak belur Abash.


"Ya Allah, Abash, wajah kamu?" lirih Naya dan menangkap pipi sepupunya itu dengan lembut.


Air mata pun jatuh membasahi pipi Naya yang mulus.


"Arash, hiks ..." Naya pun merasa hatinya teriris, di saat melihat mata pria itu masih terlihat basah, menandakan jika dia baru saja menangis, atau masih menangis?


"Bash, sebaiknya kamu ikut aku ke IGD, ya? Kita obati luka kamu dulu," bujuk Naya.


"Aku gak papa, Nay."


"Bash, aku mohon," lirih Naya dengan sendu.


Tak tega melihat air mata sang sepupu, Abash pun menurut dan mengikuti Naya menuju ruang IGD.


Di dalam kamar.

__ADS_1


"Pa, Putri gak mau menikah dengan Abash. Putri juga gak mau menikah dengan Arash, hiks ... Putri mohon, Pa. Jangan paksa Putri."


__ADS_2