Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 231 - CCTV Apartemen


__ADS_3

Arash sudah kembali ke rumah sakit dengan perasaan yang pria itu sendiri tak mengerti. Hari ini adalah hari patah hatinya dari Sifa, tetapi  kenapa dia merasa kecewa dan sakit hati dengan perlakukan Putri kepadanya, yang lebih memilih pulang bersama Soni ketimbang dirinya. Aura wajah pria itu pun terlihat tidak secerah biasanya, di mana selalu ada senyum yang menghiasi wajah pria itu.


"Rash?" panggil Naya, yang mana membuat pria itu menoleh ke arahnya.


"Ya?"


"Kamu gak papa?" tanya Naya, gadis itu merasa ada sesuatu yang sudah terjadi kepada sepupunya itu.


Naya masih menduga-duga, apakah Arash marah karena mengetahui hubungan Abash dan Sifa? Atau pria itu marah karena Putri pergi bersama orang lain. Ekspresi pria itu sungguh sulit untuk di tebak, karena memang keluarga mereka sejak kecil sudah di tanamkan untuk mengontrol ekspresi yang memang tak ingin di tunjukkan oleh orang lain.


"Aku gak papa," jawab Arash dan menunjukkan senyumannya yang di paksa untuk tertarik ke atas untuk membentuk sebuah lengkungan yang manis.


Naya pun menghela napasnya dengan pelan, gadis itu meremas pelan bahu Arash, sehingga membuat pria itu kembali menoleh ke arahnya.


"Kamu tau kan, kalau aku selalu siap untuk mendengar semua uneg-uneg yang ada di hati kamu," bisik Naya yang mana membuat Arash tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya.


"Boleh aku peluk kamu?" pinta Arash yang di angguki oleh Naya.


Gadis itu pun membuka tangannya dan membiarkan Arash untuk masuk ke dalam pelukannya. Arash mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang sepupu.


"Jika kamu sudah siap untuk menceritakan semuanya, kamu tahu kan mencari aku ke mana?" bisik Naya yang di angguki oleh Arash.


Pria itu tak tahu, apa yang sedang terjadi dengan perasaannya saat ini. Dirinya merasa kalah di saat melihat Abash dan Sifa berciuman, akan tetapi hatinya merasa sakit di saat melihat Soni menggenggam tangan Putri dan membawanya pergi .


"Semua akan baik-baik saja, percayalah,"  bisik Naya sambil mengusap punggung Arash dengan lembut.


Mama Kesya yang melihat Naya berpelukan dengan Arash pun, menghela napasnya dengan pelan. Wanita itu berharap jika hubungan Abash dan Arash tidak akan pernah berubah karena mencintai satu wanita. Semoga saja tidak ada rasa canggung di antara mereka nantinya.


*


"Apa? Mas jangan ngada-ngada, deh," ujar Sifa saat mendengar sang kekasih mengatakan bahwa Arash menyukainya.


"Kamu gak percaya sama aku?" tanya Abash yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.

__ADS_1


"Masa sih Mas Arash suka sama aku?" lirih Sifa yang mana membuat Abash sedikit cemburu mendengar nada bicara sang kekasih yang memikirkan kembarannya.


"Kenapa memangnya kalau Arash suka sama kamu? Kamu juga suka sama dia?" tebak Abash yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya dengan tatapan mata yang tajam.


"Jangan ngaco, deh. Aku tuh cuma menganggap Mas Arash ya hanya sebatas teman aja. Gak lebih," ketus Sifa.


"Oh ya? Tapi kamu menikmati waktu bersama dia, kan?" ujar Abash dengan nada merajuk.


"Sok tau banget," ketus Sifa yang tak mau di salahkan oleh apa yang tidak pernah dia perbuat atau rasakan.


"Saat aku ke Bandung, kamu keluar sendirian dan bertemu Arash di jalan. Kamu terlihat bahagia saat menikmati jajanan yang di belikan oleh Arash di taman itu," ujar Abash yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.


"Da-dari mana Mas tau?" tanya Sifa dengan gugup dan bingung.


"Aku tahu semuanya," jawab Abash dengan tersenyum miring. "Bahkan, aku tau apa pun yang kamu lakukan di apartemen," sambungnya lagi yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Tunggu, apa Mas memasang cctv di setiap sudut ruangan apartemen?" tebak Sifa yang hanya di jawab senyuman miring dan kendikan bahu dari Abash.


Sifa pun membulatkan matanya, di saat dia teringat akan dirinya yang baru saja selesai mandi, kemudian dia berlari ke luar kamar hanya dengan menggunakan penutup si kembar yang ada di dada dan bawah tubuhnya. Sifa pun menatap tak percaya kepada sang kekasih dengan mulut yang terbuka.


"Haa ... haa ... Salah sendiri kamu ceroboh," ujar Abash sambil mengelak pukulan dari sang kekasih.


Sifa pun menghentikan pukulannya, gadis itu menatap tajam ke arah sang kekasih dan menarik kerah baju yang dipakai oleh Abash, sehingga membuat pria itu mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Sifa.


"Apa saja yang sudah Mas lihat?" tanya Sifa dengan tatapan mengintrogasi.


Abash tersenyum miring, pria itu pun menatap ke arah wajah Sifa, kemudian turun ke bibir, turun lagi ke leher, turun lagi ke dada, dan semakin turun, turun dan turun lagi hingga sampai membuat Sifa merasa di telanjangi oleh tatapan Abash.


"Jangan bilang kalau Mas sudah—" Sifa tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, gadis itu pun semakin membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka.


"IIsssh ... Dasar pria mesum, Mas Abash mesum dan nyebelin," pekik Sifa dengan kesal dan kembali memukul dada sang kekasih.


"A-aku gak sengaja, sayang," ujar Abash mencoba membela dirinya.

__ADS_1


"Dasar pembohong, kamu sengaja kan pasang cctv di apartemen?" ketus Sifa.


"Iya, aku memang sengaja memasang cctv di seluruh apartemen aku," jawab Abash yang mana membuat Sifa tak percaya dengan apa yang pria itu katakan.


"Iiih, kenapa Mas gak bilang sih kalau ada pasang cctv di seluruh apartemen, jadi aku kan—" Sifa menggantung ucapannya, gadis itu seolah teringat akan sesuatu dan kembali menatap kekasihnya itu dengan awas.


"Ja-jangan bilang kalau di dalam kamar juga ada—" Lagi, sifa menggantung ucapannya.


Gadis itu semakin membulatkan matanya di saat melihat kepala Abash yang bergerak naik dan turun.


"M-mas, kamu?" Wajah Sifa sudah merona, gadis itu tak tahu lagi bagaimana caranya dia bisa menghadapi sang kekasih saat ini juga.


Sifa pun menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan. Dia terlalu malu untuk menatap ke arah sang kekasih, apa lagi menunjukkan wajahnya saat ini.


"Maaf, bukannya aku gak mau bilang ke kamu. Hanya saja-- Hei, kenapa menangis?" tanya Abash saat mendengar suara isakan tangis yang keluar dari mulut Sifa.


"Hiks, Mas Abash jahat, hiks ... se-seharusnya Mas Abash peringatin aku untuk lebih hati-hati, hiks ..."


Abash pun semakin merasa bersalah, pria itu menarik tubuh sang kekasih ke dalam pelukannya.


"Maafin aku, ya. Sebelum kamu tinggal di apartemen aku, aku sudah duluan memasang cctv itu. Hanya untuk berjaga-jaga saja. Dan soal cctv yang di dalam kamar, sebenarnya aku sudah menonaktifkannya saat kamu tinggal di sana. Tetapi, tertanya aku tersilap. Aku tidak mematikan cctv yang ada di dalam kamar, melainkan aku hanya mematikan speaker yang merekam suara kamu. Maafin aku, ya!" pinta Abash sambil mengecup pucuk kepala Sifa yang berada di dalam pelukannya saat ini.


"Hiks, ta-tapi Mas sudah melihat se-semua—"


"Aku sudah menghapusnya tanpa melihatnya," bisik Abash yang mana membuat Sifa meremas baju tidur yang Abash kenakan.


"Ta-tapi tetap saja, Mas pasti sudah melihat se-sebagian dari itu," rengek Sifa yang masih belum berani menunjukkan wajahnya kepada sang kekasih.


"Iya, aku sudah melihatnya. Maka dari itu, ayo kita menikah," bisik Abash sambil mengulum bibirnya.


"Maassh ..." rengek Sifa yang semakin menenggelamkan wajahnya di dada sang kekasih.


"Sayang, jangan menangis. Aku tidak akan menyebarkan rekaman cctv itu. Bahkan aku sudah memusnahkannya, kamu tenang saja, ya?" bujuk Abash agar Sifa mau menatap wajahnya.

__ADS_1


"Hiks .. tapi tetap saja, Mas. Aku malu, tau," rajuk Sifa yang masih enggan menunjukkan wajahnya.


__ADS_2