
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, akan tetapi Arash belum juga membalas pesan yang Putri kirimkan kepadanya. Bahkan, pria itu juga tidak menelponnya kembali.
"Arash mana, sih? Kok gak balas pesan aku?" lirih Putri yang mulai gelisah. "Mana panggilan telponku gak di jawab lagi."
Putri pun kembali mencoba menghubungi Arash, akan tetapi hasilnya masih sama. Pria itu tidak menjawab panggilan Putri.
"Ck, apa aku susul aja ya ke kantornya?" lirih Putri dan mencoba berpikir di mana kemungkinan Arash berada saat ini
"Ya, aku coba datangi ke kantornya aja dulu. Mungkin saja dia ada di sana," lirih Putri dan bergegas membereskan semua berkas yang ada di atas mejanya.
Putri pun memesan taksi online sebelum gadis itu keluar dari ruangannya.
Cling ...
Putri bergegas mengambil ponselnya, berharap jika orang yang mengirimkan pesan adalah Arash.
"Jangan lupa nanti malam. Pakai gaun yang aku berikan, aku mohon."
Putri membaca pesan yang di kirimkan oleh Soni. Gadis itu pun menghela napasnya dengan pelan di saat membaca pada bagian kata gaun.
"Hmm, gimana mau pakai gaunnya? Kalau gaunnya aja gak ada sama aku?" lirihnya pelan dan menjatuhkan tangannya dengan lemas di sisi tubuhnya.
"Hai, Put," sapa Sonia yang juga baru saja tiba di depan lift.
"Hai," balas Putri dengan tersenyum kecil.
"Huff, sungguh melelahkan," lirih Sonia sambil mengurung tengkuknya yang terasa pegal.
"Hmm," jawab Putri dengan gumaman.
"Kamu terlihat gelisah, kenapa?" tanya Sonia yang memperhatikan Putri, jika gadis itu terus saja menatap ke arah angka lift dan bergantian melirik ke arah jam tangannya.
"Hah? Tidak, aku tidak gelisah, kok?" jawab Putri dengan tersenyum tipis.
"Kamu terburu-buru kelihatannya," sambung Sonia lagi.
"Ya, bisa di katakan seperti itu," jawab Putri.
Ting ...
__ADS_1
Untunglah pintu lift terbuka, beberapa karyawan pun bergegas masuk, sehingga membuat Putri merasa bingung, karena mereka langsung menerobos masuk, bahkan sampai ada yang mendorong tubuhnya.
"Ayo," ajak Sonia yang ternyata sudah berada di dalam lift.
Putri menghela napasnya pelan, di saat melilhat Lift sudah penuh dengan karyawan firma hukum. Gadis itu pun akhkirnya memutuskan untuk masuk ke dalam lift dan berharap jika dirinya tidak menambah beban berat dan membuat alarm lift berbunyi.
Tiiit ... tiit ... tiit ....
Putri menghela napasnya berat, haruskah dia diet mulai sekarang? Agar tidak menjadi beban berat di dalam lift?
Saat Putri ingin keluar, Sonia pun menahan lengannya, sehingga membuat Putri menoleh ke arah gadis itu.
"Biar aku saja yang keluar," ujar Sonia dengan tersenyum lebar.
Putri merasa tak enak sebenarnya kepada Sonia, tetapi dia butuh naik lift ini untuk mempersingkat waktunya menuju kantor Arash.
"Terima kasih, Sonia," ujar Putri dengan tersenyum rasa tak enak hati.
"Gak papa. Lagi pula kamu lebih membutuhkan naik lift ini dari pada aku." Sonia pun tersenyum, bersamaan dengan pintu lift yang tertutup.
"Terima kasih," lirih Putri yang masih bisa di lihat oleh Sonia.
Putri turun dari dalam lift, berhubung dia yang paling depan, jadi gadis itu dengan udah keluar dari dalam lift tanpa harus menunggu orang lain terlebih dahulu.
Kriiing ...Kriing ...
Suara ponsel Putri pun berdering, gadis itu langsung menggeser tombol hijau di saat melihat ID si pemanggil yang berasal dari kang ojek.
"Halo, Pak. Ya, saya baru saja keluar. Saya sudah melihat plat mobil Bapak, kok," ujar Putri dan memutuskan panggilannya.
Di saat Putri ingin membuka pintu mobil tersebut, tiba-tiba saja ada seorang pria yang menahan pintu mobil yang sudah terbuka.
"Maaf, Mbak Putri. Pak Abash mengutus saya untuk menjemput Anda," ujar Jo--kekasihnya Desi.
"Menjemput saya?" lirih Putri.
Gadis itu mengernyitkan keningnya, dia sedang mengingat di mana pernah bertemu dengan pria yang sedang berada di sampingnya saat ini.
"Saya Jo, kita pernah bertemu sebelumnya di apartemen Pak Arash, saat saya mengantarkan Desi," ujar Jo sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Putri pun ber-o ria, di saat dirinya sudah kembali mengingat di mana pernah bertemu dengan pria yang bernama Jo.
"Di mana Arash?" tanya Putri sambil melihat ke arah belakang Jo.
"Pak Arash sedang berada di dalam rapat penting. Saat ini beliau tidak bisa menerima panggilan dari Anda," ujar Jo memberitahu.
"Kenapa?" tanay Putri penasaran.
"Rapat penting yang tidak bisa di ganggu," ulang Jo yang mana membuat Putri menganggukkan kepalanya.
Tiit ...
Suara klakson pun membuat Putri terkejut, gadis itu pun membuka pintu mobil untuk melihat sang supir.
"Maaf, Pak. Sepertinya saya gak bisa naik. Teman saya sudah menjemput ke sini," ujar Putri merasa tak enak.
"Yah, kenapa gitu, Buk. Ibu sudah membuang-buang waktu saya," kesal supir online tersebut.
"Begini saja, saya kan mengganti ru---"
Putri terkejut di saat Jo membuka pintu penumpang bagian depan, kemudian pria itu memberikan satu lembar uang seratus ribu kepada supir tersebut.
"Saya rasa ini cukup," ujar Jo dengan suara dinginnya, di mana membut supir itu pun menelan ludahnya dengan kasar dan mengangguk pasarah.
Ya, cukup mendengar suara dan tatapan mata Jo saja, siapapun bisa takut di buatnya.
Jo pun menutup pintu mobil penumpang bagian depan dan juga pintu penumpang bagian belakang, kemudian dia mempersilahkan Putri untuk berjalan duluan menuju mobilnya.
"Berapa kamu kasih tadi ke supirnya? Saya akan menggantinya," ujar Putri kepada Jo saat mereka sedang berjalan menuju mobil.
Jo tidak menjawab, pria itu lebih memilih membuka pintu mobil penumpang bagian belakang untuk Putri.
"Berapa?" ulang Putri lagi.
"Sudah di bayar sama Pak Arash," jawab Jo yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
"Bagaimana mungkin? Dia kan tidak di sini?" tanya Putri dengan bingung.
Jo hanya menatap datar ke arah Putri, kemudian menyuruh gadis itu masuk ke dalam mobil dengan tatapan matanya. Putri seolah terhipnotis dan menurut apa yang di perintahkan oleh Jo.
__ADS_1
"Kok bisa si Desi pacaran sama orang yang gak ada ekspresinya?" lirih Putri saat Jo sudah menutup pintu mobil.