
Arash menyambut kedatangan Mama Nayna, Papa Satria, Zia dan Bara. Ada para opa dan Oma juga dari pihak keluarga Putri, dan juga beberapa sepupu wanita itu yang juga ikut datang ke Jakarta. Arash sepertinya sudah sedikit visa berdamai dengan sang adik ipar. Lihat saja, Arash saat ini Arash yang duluan menyapa Zia. Biasanya? Arash mencueki adik iparnya itu, bahkan seolah menganggap jika Zia tak ada di sana.
"Apa kabar, Zia?" sapa Arash.
"Baik." Zia pun berlalu, terlihat jika gadis itu masih enggan untuk terlihat akrab dengan Arash.
"Bara, apa kabar?" sapa Arash pula Kepada adik iparnya yang cowok.
"Seperti yang terlihat," jawab Bara sambil tersenyum tipis.
Bara pun melangkahkan kakinya lebar agar bisa menyusul sang adik, kemudian pria itu merangkul bahu Zia, sehingga membuat gadis itu menoleh ke arahnya.
"Sudah empat bulan, Zia. Sepertinya kamu yang terlihat masih menyimpan dendam terhadap dia?" bisik Bara.
Zia tersenyum kecil. "Tidak, Mas. Aku tidak menyimpan dendam. Hanya saja, aku merasa malas untuk kembali akrab dengannya," sahut Zia dengan berbisik pula.
"Kenapa? Apa telah terjadi sesuatu diantara kalian yang tidak Mas ketahui?" tanya Bara merasa curiga.
"Hmm? Tidak ada," jawab Zia cepat, kemudian gadis itu mengalihkan pandangannya dari tatapan mata sang Abang.
Zia sengaja melepaskan rangkulan tangan Bara, kemudian sedikit berlari kecil untuk menghampiri Mama Kesya.
"Tante, apa kabar?" sapa Zia dengan ramah.
"Baik, sayang. Waduh, ini Zia, kamu bener-bener terlihat cantik sekali ya. Mirip banget sama Putri," puji Mama Kesya.
"Berarti mirip saya juga dong, Mbak," kekeh Mama Nayna.
"Eh, iya, mirip juga. Kok bisa ya?" ujar Mama Kesya ikut terkekeh. "Tapi, Zia ini versi imut-imutnya ya. Kalau Putri kan tubuhnya tinggi, kalau Zia-- gak pendek juga sih, tapi gak setinggi Putri aja. Tapi, wajahnya ini loh yang kecil, itu yang membuat Zia ini imut-imut, mirip anak TK," kekeh Mama Kesya.
"Iya, bahkan kemarin ada yang bilang kalau Zia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama," sahut Mama Nayna ikut tertawa.
"Gak papa, wajah begini selalu awet muda," sambung Mama Kesya. "Sama kayak, Mbak. Awet muda wajahnya. Gak kelihatan udah punya anak tiga."
"Duh, Mbak Kesya juga. Gak kelihatan udah punya anak lima," kekeh Mama Nayna.
Zia hanya bisa tersenyum. Dia sudah biasa mendengar pujian seperti itu. Di mana jika dirinya selalu dikatakan mirip dengan Putri, tetapi lebih memiliki wajah yang imut. Di tambah lagi, tubuhnya yang sedikit mungil, membuat Zia terlihat masih seperti anak sekolah yang masih memakai seragam putih biru.
"Ayo, masuk. Istirahat dulu aja di kamar. Pasti lelah, kan?" titah Mama Kesya sambil menyuruh asisten rumah tangga untuk menunjukkan kamar Mama Nayna, Bara, dan Zia.
"Duh, masa datang-datang langsung di suruh istirahat. Emangnya gak ada yang perlu dibantuin ini?" tanya Mama Nayna.
__ADS_1
"Bantuin apa ya? Bantuin doa aja, siapa acaranya lancar besok," kekeh Mama Kesya.
"Amiin..."
"Ya udah, istirahat aja dulu, Mbak. Nanti kita ngobrol lagi," titah Mama Kesya.
"Baiklah kalau begitu." Mama Nayna pun menuruti perintah Mama Kesya, untuk beristirahat di kamar, begitu pun dengan Zia.
Sesampainya di kamar.
Cling ...
Zia yang baru saja membuka kopernya, langsung saja meraih ponsel yang tak jauh darinya. Gadis itu tersenyum dikala melihat siapa di pengirim pesan.
Abash : Sudah sampai ya? Apa kamu ada membawa cincinnya?
Zia: Iya, aku ada membawanya, Mas. Kapan Mbak Sifa pulang? Ini cincinnya mau kapan Mas ambil?" tanya Zia yang membalas pesan singkat yang dikirimkan oleh Abash tadi.
Cling ...
Pesan singkat pun kembali masuk ke dalam ponsel Zia.
Zia : Oke.
Setelah membalas pesan terakhir dari Abash, Zia pun kembali menyimpan ponselnya. Gadis itu melanjutkan kembali aktifitas yang ingin dia kerjakan tadi.
*
Zia baru saja mendapatkan kesan dari Abash. Pria itu menyuruh dirinya untuk bertemu di gazebo belakang rumah, tepat di dekat kolam berenang.
Zia pun melangkahkan kakinya menuju kolam renang, kemudian mencari gazebo yang Abash maksud. Perlahan, Zia mendekati Abash yang terlihat tengah asik mengetin sesuatu di ponselnya.
"Ekhem, apa aku mengganggu, Mas?" tanya Zia dengan suaranya yang pelan.
"Eh, kamu Zia." Abash menyimpan ponselnya, kemudian menyuruh Zia untuk duduk.
Zia pun mendaratkan bokongnya tepat di samping Abash, gadis itu langsung mengeluarkan sebuah kotak cincin yang akan dia berikan kepada Abash.
"Coba dilihat dulu, Mas. Mudah-mudahan aja sesuai," ujar Zia.
Abash pun mengambil kotak cincin tersebut dan membukanya. "Woow, Zia. Ini sungguh luar biasa. Kamu memang sangat berbakat, Zia," puji Abash.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Mas."
"Apa kamu gak ada niatan untuk membuka toko perhiasan?" tanya Abash penasaran.
"Ada sih, Mas. Cuma untuk saat ini, aku bantuin Mas Bara dulu di kantor. Nanti, kalau semuanya sudah selesai, aku rencananya mau melamar di salah satu toko perhiasan ternama," jawab Zia.
"Bagus itu, semoga suatu saat kamu bisa membuka toko perhiasan sendiri."
"Amiin, Mas."
"Eh tapi, sebenarnya bisa aja kan kamu buka toko sekarang? Gak mesti nanti?" kekeh Abash.
"Bisa aja sih, tapi ilmu aku masih kurang, Mas. Aku masih butuh belajar dari yang berpengalaman. Makanya aku mau kerja dulu ditempat orang, sebelum aku membuka toko sendiri."
"Semoga apa yang kamu inginkan, bisa segera terwujud ya, Zia."
"Amiin, terima kasih, Mas."
"Dan juga, semoga kamu bisa menemukan pangeran yang tepat."
Ya, Abash tahu, jika saat ini Zia baru saja patah hati. Pria yang dia taksir, ternyata baru saja jadian dengan teman dekatnya saat kuliah di Swiis dulu. Jika kalian bertanya dari mana Abash tahu, tentu saja Abash tahu dari Sifa. Secara, Zia dan Sifa sering komunikasi dan kedekatan mereka juga terlihat sangat akrab.
"Semoga aja, Mas. Semoga dapat pangeran yang seperti, Mas," kekeh Zia.
"Amiin, tapi yang mirip saya sudah sold out duluan," kekeh Abash yang mana membuat Zia juga ikut terkekeh.
Kalau yang dimaksud oleh Abash adalah kembarannya, tentu saja Zia akan menolaknya. Karena Zia membenci pria itu. Zia membenci Arash, karena dia telah mencuri ciuman pertamanya dan sedikit pun tidak meminta maaf akan hal itu.
Ya, walaupun kejadian tersebut tidak disengaja. Tetap saja, Kan, Arash mencium Zia?
Zia menggelengkan kepalanya, mencoba melupakan kejadian hari itu, akan tetapi, sebesar apapun usahanya untuk melupakan kejadian di hari itu, Zia semakin mengingatnya dan memukul rasa benci di dalam hatinya untuk Arash.
"Em, kalau gitu aku balik ke dalam dulu ya, Mas. Semoga nanti acara lamarannya berjalan dengan baik," ujar Zia dengan tersenyum.
"Hmm, terima kasih sekali lagi, Zia."
Zia pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian berlalu menjauhi Abash.
Di tempat lain.
"Ngapain mereka berdua? Sepertinya Abash sering bertemu dengan Zia secara diam-diam," lirih Arash yang memperhatikan gerak gerik Zia.
__ADS_1