
Zia sedang melakukan rontgen untuk melihat keadaan tukang kakinya saat ini. Gadis itu pun menunggu dengan sabar untuk mengetahui hasilnya. Untungnya Naya sedang tidak banyak pasien, jadi iparnya itu menemani Zia selama melakukan pemeriksaan.
"Kamu sudah bertemu dengan Ibra kan?" tanya Naya untuk mengisi keheningan di antara mereka.
"Huum, iya, sudah, Mbak," jawab Zia sambil tersenyum.
"Katanya Ibra masih mencintai kamu. Gimana menurut kamu?" tanya Naya sambil tersenyum penuh arti kepada Zia.
"Hah?"
"Atau? Jangan bilang kalau kamu sudah jatuh cinta dengan Abash?"
Zia mengerjapkan matanya, gadis itu tidak tahu harus menjawab apa. Mulutnya hanya terbuka tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Naya membulatkan mata dengan mulut yang terbuka, tangan wanita itu pun terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka.
"Kamu beneran sudah jatuh cinta dengan Arash?" tanya Naya terkejut.
Melihat ekspresi Zia yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun dengan wajah yang terkejutnya, membuat Naya dengan mudah menebaknya.
"Kam beneran sudah jatuh cinta dengannya," ulang Naya dengan suara yang pelan.
"Siapa yang sudah jatuh cinta?"
Zia dan Naya serentak menoleh ke arah sumber suara, di mana terlihat Ibra yang sedang tersenyum kepada dua wanita cantik itu.
"Ibra?" kejut Zia.
"Bra, Kok kamu bisa ada di sini? Apa ada yang sakit?" tanya Naya merasa khawatir.
Ibra mendudukkan dirinya tepat di samping Zia.
"Tidak ada yang sakit. Aku hanya baru saja menjenguk teman," jawabnya.
"Oh, begitu," ucap Naya dengan lirih.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Ibra dan melihat ke arah papan nama yang tertempel di dinding, di mana tertulis di sana dokter spesialis orthopaedi.
"Kaki kamu sakit, Zi?" tanya Ibra yang sudah menatap ke arah lawan bicaranya.
"Tidak, aku hanya---"
"Kamu pergi sendiri? Arash tidak menemani kamu?" potong Ibra yang di jawab gelengan pelan oleh Zia.
"Kelewatan banget si Arash. Bisa-bisanya dia membiarkan kamu pergi sendirian ke rumah sakit," ujar Ibra dengan kesal.
"Bukan begitu, Bra. Tapi, aku ke sini tanpa sepengetahuan Mas Arash. Jadi, wajar saja jika Mas Arash tidak menemani aku di sini," jawab Zia membela suaminya itu.
__ADS_1
Zia pernah mendengar percakapan Arash dan Ibra, di hari terakhir dirinya melihat wajah Ibra saat itu. Pastinya kejadian itu terjadi di saat Zia telah menjadi istri Arash.
Ya, saat itu Ibra berkata kepada Arash untuk menjaga Zia. Ibra meminta kepada Arash untuk selalu ada untuk Zia, selalu menemani ke mana pun Zia pergi. Dan yang paling terpenting, jangan pernah membuat Zia menangis. Jika hal itu terjadi, maka Ibra akan merebut Zia dari Arash.
Tidak, sebenarnya bukan merebut Zia dari Arash, melainkan merebut Zia dari Rayyan dan Yumna.
"Seharusnya kamu mengatakan kepada Arash untuk menemani kamu, Zi. Kamu seharusnya meminta kepada Arash untuk menemani kamu," ujar Ibra dengan nada suara yang lembut, tapi terdengar kesal.
"Aku tidak apa-apa, Bra. Lagi pula, jika aku lebih senang pergi sendiri dari pada di temani. Kalau aku pergi sendiri, aku bisa bertemu dan mengobrol lama dengan Mbak Naya," sahut Zia sambil tersenyum.
"Kalau Mas Arash ikut, mana mungkin aku bisa mengobrol dengan Mbak Naya," sambung Zia sambil terkekeh pelan.
Ibra menarik sudut bibirnya, sehingga membentuk sebuah senyuman kecil.
"Dan ada untungnya juga Arash tidak di sini," ucapnya dengan pelan, tapi masih di dengar oleh Zia.
"Maksudnya?"
"Aku yang akan menemani kamu."
Drrtt ... Drrttt ...
Bertepatan dengan itu, ponsel Naya pun berbunyi. Wanita itu meraih ponselnya yang ada di saku jas dokternya, kemudian melihat ID si pemanggil.
Naya menggeser tombol hijau, kemudian membiarkan asistennya itu untuk berbicara.
Naya kembali menyimpan ponselnya di dalam saku jas dokternya, kemudian dia menatap Zia dengan perasaan bersalah.
"Maafin aku, Zi. Ada pasien yang harus aku tangani. Jadi, aku tidak bisa menemani kamu bertemu dokter," ujar Naya dengan perasaan bersalah.
"Gak papa, Mbak. Aku bisa sendiri, kok."
"Emm, tapi untungnya ada kamu di sini, Bra. Kamu gak ada jadwal ke mana-mana lagi 'kwn?" tanya Naya kepada Ibra.
"Tidak ada," jawab Ibra dengan pasti.
"Kalau begitu, aku titip Zia yang. Kamu temani Zia, ya?" titah Naya.
"Baiklah. Aku akan menemani Zia," jawab Ibra dengan tersenyum lebar.
"Tap-tapi---"
"Kalau begitu aku pamit dulu ya, Zi. Sampai ketemu nanti," potong Naya dan langsung berlalu menjauh dari Zia dan Ibra.
Zia menoleh ke arah Ibra secara perlahan. Gadis itu merasa tidak enak jika harus mengganggu waktu Ibra.
"Emm, kamu kalau masih ada kerjaan, pulang aja, Bra. Aku bisa sendiri kok," ujar Zia dan tersenyum kikuk kepada Zia.
__ADS_1
"Kebetulan aku libur," jawab Ibra santai.
"Libur?"
"Hmm, aku diberikan libur selama satu bulan, karena statusku saat ini adalah mahasiswa baru," kekeh Ibra. "Sebanyak gak beneran libur juga sih. Setiap harinya aku harus melapor ke kantor. Ya, istilahnya isi absen lah."
Zia ikut tersenyum mendengar ucapan Ibra. "Kamu beruntung sekali, Bra."
"Yaah, bisa di katakan beruntung juga sih. Buktinya saat ini, aku beruntung bisa bertemu dengan kamu," ujar Ibra yang menatap lurus ke mata Zia.
Zia jadi teringat dengan apa yang dikatakan oleh Naya tadi, jika pria yang ada di hadapannya saat ini ternyata masih mencintainya. Padahal, Zia sudah meminta kepada Ibra untuk melupakan perasaan mereka.
Sebesar apa pun cinta Ibra, tetap saja Zia tidak bisa melepaskan Rayyan dan Yumna. Bukan karena Arash, melainkan Rayyan dan Yumna.
"Mbak Zia?" tegur seorang dokter yang baru saja.
Zia mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah sumber suara.
"Iya, Dok."
"Maaf ya, tadi saya sedang memeriksa pasien yang mengalami kecelakaan. Jadi terlambat ke sini deh," ujarnya dengan tersenyum. "Ayo silahkan masuk," titahnya sambil mempersilahkan Zia untuk masuk ke dalam ruangannya.
Zia mendengarkan apa yang dikatakan oleh dokter spesialisnya itu. Di mana tidak ada tanda-tanda jika Zia menggunakan kakinya sebagai tumpuan tanpa menggunakan tongkat. Jika Zia memang benar menggunakan kakinya untuk berjalan tanpa tongkat, pasti saat ini Zia sudah mendapatkan cidera kembali pada kakinya. Tapi, ini semua terlibat baik-baik saja.
"Apa aku ngesot ya?" batin Zia memikirkan cara bagaimana dia bisa berada di dalam kamar Arash pagi ini.
"Emm, tapi kalau ngesot aku pasti akan merasa kelelahan. Pastinya aku akan terbangun 'kan? Dan kalau aku ngesot, pasti tangan aku akan merasa pegal. Tapi ini semua baik-baik saja. Bagaimana cara aku bisa masuk ke kamar Mas Arash?
"Gak! Gak mungkin Mas Arash menggendong aku ke kamarnya. Memangnya dia gak punya kerjaan apa menggendong aku ke kamarnya?" batin Zia yang lagi-lagi menolak pemikirannya sendiri, jika Arash yang telah menggendong dan membawanya ke dalam kamar pria itu.
"Kalau Mas Arash yang gendong aku ke dalam kamar, pasti dia akan mengatakannya. Tapi, dia tidak mengatakannya!"
Zia masih asik dengan pemikirannya sendiri, sampai-sampai gadis itu tidak mendengar panggilan Ibra.
"Atau apartemennya ada hantu?"
"Zi?" tegur Ibra yang sudah menepuk bahu Zia, Karena sedari tadi gadis itu tidak mendengar saat di panggil.
"Aakhh... " Zia terlihat begitu terkejut, hingga napasnya pun langsung naik turun dengan cepat.
"Kamu baik-baik aja?" tanya Ibra merasa khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja."
Zia mengatur napasnya yang memburu, mencoba melupakan tentang apa yang saat ini ada di dalam pikirannya.
"Gak ada hantu. Gak mungkin ada hantu. Selama ini baik-baik saja. Gak mungkin ada hantu," tolak Zia meyakinkan dirinya sendiri.
__ADS_1