Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 51 - Perpustakaan2


__ADS_3

Arash menoleh saat ada yang membuka pintu perpustakaan.


"Loh, tumben banget di perpustakaan?" tanya Abash yang melihat sang kembaran berada di dalam perpustakaan.


Arash tersenyum. "Temenin Sifa."


"Sifa?"


"Iya, tadi gak sengaja ketemu di toko buku lama. Buku yang dia pinjam kemarin katanya udah di ambil sama orang."


"Buku?"


"Hmm, katanya dia mau belajar, agar bisa lolos ke tim cobra."


Abash membulatkan bibirnya. "Jadi kamu bawa ke sini?"


"Iya, lagi pula buku-buku IT di sini adalah buku yang paling bagus dan terlengkap."


"Ya sih..."


Kreek ...


Abash dan Arash menoleh ke sumber suara. Merasa penasaran, Abash melangkahkan kakinya menuju sumber suara, di ikuti oleh Arash.


Abash mengernyit saat melihat Sifa yang tengah berdiri di atas kursi kayu bulat dengan kaki yang berjinjit.


"Kamu ngapain manjat pakai itu?"


Sifa menoleh dan kehilangan keseimbangannya karena terkejut.


"Aaaaa...."


Untungnya Abash bergerak cepat dan menangkap tubuh Sifa. Gadis itu memejamkan matanya karena takut dengan rasa sakit yang akan dia rasakan.


'Loh? kok?' batin Sifa.


Perlahan, Sifa membuka matanya dan mendapatkan tatapan tajam dari seorang pria.


"Ba-bapak," cicit Sifa.


Perlahan Abash menurunkan Sifa dari gendongannya.


"Kamu gak papa?" tanya Arash.


"Sa-saya baik-baik aja, Pak," ujar Sifa gugup sambil melirik ke arah Abash.


Abash menengadahkan kepalanya, melihat ke arah rak buku yang tadi ingin di raih oleh Sifa. Pria itu menarik tangga yang memang di khususkan untuk mengambil buku, kemudian dia menaiki tangga itu dan mengambil beberapa buku yang menurutnya bagus untuk membantu Sifa dalam menambah ilmu pengetahuannya.


"Ini," ujar Abash memberikan tiga buku.


"Te-terima kasih, Pak." lirih Sifa dengan takut. Pasalnya, suara Abash tak seramah biasanya.


Abash pun mengangguk sekilas dan berlalu. Pria itu pun mulai sibuk mencari buku yang di perlukannya.


"Udah?" tanya Arash yang mana mengambil atensi Sifa.


"Udah, Pak."


"Ayo."


Sifa mengambil buku yang di letakkannya di lantai, kemudian berlalu menyusul Arash. Arash mengajak Sifa duduk di meja baca. Di sana sudah tersedia cemilan dan minuman.


"Perpustakaan ini luas banget, ya Pak."


"Hmm, Kakek suka membaca, begitu pun dengan Oma. Maka dari itu, Kakek membangun perpustakaan ini untuk seluruh keturunannya. Karena, semua keturunan kakek itu suka membaca. Kecuali aku dan Quin," ujar Arash dengan terkekeh.


"Bapak malas membaca?" tanya Sifa dengan polosnya sehingga membuat Arash kembali tertawa.


"Sebenarnya bukan malah membaca. Tapi lebih suka baca komik aja. Rasanya baca pelajaran begini, ribet. Makanya aku memilih jadi polisi, karena gak harus selalu berkutat dengan buku."


"Masa sih? Bapak pasti bohong."


"Saya serius," ujar Arash dengan tersenyum.


Sifa sungguh terpanah melihat senyuman Arash. Pria itu tak seperti Abash yang irit sekali tersenyum.


Entah obrolan apa saja yang mereka bicarakan, yang jelas Sifa merasa nyambung berbicara dengan Arash.


"Rash, gue duluan ya," ujar Abash tiba-tiba yang mana mengambil atensi Arash dan Sifa.


"Oke."

__ADS_1


Abash berlalu begitu saja, tanpa menyapa Sifa. Sedangkan gadis itu masih menatap kepergian Abash.


"Gitu amat liatnya? Awas naksir loh," ledek Arash.


Sifa kembali menoleh kepada Arash. "Gak lah, Pak. Mana berani saya naksir Pak Abash."


"Kalau naksir saya?"


"Hah?" wajah Sifa tiba-tiba saja memanas, sehingga menimbulkan semburat merah di pipinya.


"Lucu banget kamu. Sampai merona gitu," kekeh Arash.


"Ih, Bapak. Mana ada saya merona."


"Itu, pipi kamu udah merah kayak tomat."


"I-ini blouse on. Ya, blouse on." jawab Sifa mencoba meyakinkan Arash.


"Oke, katakan lah itu blouse on. Lalu? kenapa kamu mandangi Abash tanpa berkedip?"


"Hah? Oh, itu. Pak Abash itu beda ya sama Bapak. Kalau Bapak ramah, mmurah senyum. Kalau Pak Abash, irit banget senyumnya."


"Tapi tampan, kan?"


"Kalau itu gak usah saya bilang lagi. Bapak juga tampan. Seluruh keluarga Baoak itu, good looking tau gak sih. Saya aja sampai pingsan lihatnya."


Arash kembali terkekeh. Tak berapa ponsel pria itu pun berdering. Dia langsung saja mengangkat panggilan tersebut, karena dari sang Mama tercinta.


"Assalamualaikum, Ma."


"Walaikumsalam. Arash, kamu masih sama Sifa?"


"Iya, kenapa, Ma?"


"Kamu ajak dia makan malam di rumah ya. Mama sudah masak untuk menyambut Sifa."


"Mama yakin?"


"Iya,"


"Gimana dengan Empus?"


"Oke, baiklah kalau begitu. Arash akan aja Sifa."


Panggilan pun terputus setelah Arash bertukar kata dengan sang mama dan mengucapkan salam.


"Kenapa, Pak? Kok ada bawa-bawa nama saya?" tanya Sifa penasaran.


"Mama ngundang kamu makan malam di rumah."


"Hah? Ngundang saya?"


"Iya,"


"Tap-tapi___"


"Gak ada penolakan. Mama sudah susah payah masak loh, demi kamu," ujar Arash sedikit melebih-lebihkan.


"U-untuk saya?"


"Iyaa.."


"Duh, saya jadi gak enak, Pak."


Arash hanya tersenyum mengangkat kedua bahunya.


*


Di sinilah Sifa. Gadis itu menatap rumah yang besar dan sangat indah. Memang, gak sebesar rumah yang pertama kali mereka datangi, tetapi, rumah ini juga sama tak kalah indahnya.


"Tutuo mulutnya, entar masuk lalat," kekeh Arash.


Sifa menoleh dan dengan cepat menutup mulutnya.


"I-ini rumah Bapak?" tanya Sifa.


"Hmm, lebih tepatnya rumah orang tua saya."


"Bapak tinggal di sini juga?" tanya Sifa.


"Iya, saya tinggal di sini. Kenapa?"

__ADS_1


"Bu-bukan gitu. Kalau Bapak tinggal di sini, kenapa Pak Abash tinggal di apartemen?" tanya Sifa.


"Apartemen? Dari mana kamu tau?"


"Eh, i-itu___"


"Sifa..."


Merasa namanya di panggil, gadis itu pun menoleh ke arah sumber suara.


"M-mbak Quin?"


Quin melangkah besar dan menghampiri gadis yang menurutnya sangat unik itu.


"Kamu sama siapa ke sini?"


Bukannya bertanya 'ngapain ke sini', tetapi Quin malah bertanya dengan siapa dia ke sini.


"Sa-sama Pak Arash."


"Arash? Hmm... apa kalian?" Quin memicingkan matanya sambil menunjuk ke arah Arash dan Sifa bergantian.


"Jangan pikir yang macam-macam," ujar Arash sambil menurunkan tangan Quin.


Quin mengendikkan kedua bahunya, kemudian gadis itu menarik tangan Sifa untuk mengikutinya.


"Ayoo...."


Sifa hanya bisa melongo sambil mengikuti langkah Quin.


"Nanti aku kenalin kamu sama Empus."


"Empus?"


"Hmm, kamu suka kucing kan?"


"Iya, suka.."


"Aku yakin kamu pasti suka juga dengan Empus. Kucing besar ku."


"Benarkah? Rasanya gak sabar pingin kenalan sama Empus?"


Dalam pikiran Sifa, Empus adalah sejenis kucing yang berbulu lebat. Sudah lama sekali gadis itu ingin sekali memegang kucing berbulu lebat itu.


"Hai, Mama ku sayang." Quin menyapa sang Mama.


"Sayang, udah pulang?" Mama Kesya mencium pipi Quin.


"Lihat, siapa yang datang? Calon mantu Mama." kekeh Quin sambil menunjuk ke arah Sifa.


Bluus...


Tiba-tiba saja Sifa merasakan pipinya memanas sehingga membuat rona merah di sana.


"Kamu ini, lihat tuh. Sifa jadi malu gitu."


Quin terkekeh melihat wajah Sifa yang terlihat semakin lucu.


"Sini Sifa, selamat datang di rumah Tante," ujar Mama Kesya menyambut hangat kedatangan Sifa.


"I-iya Tante, terima kasih."


"Ayo, kita siap-siap solat magrib dulu ya."


"Sa-saya lagi halangan Tante,"


"Ooh, kalau gitu kamu tunggu di ruang keluarga aja ya."


Sifa pun menganggukkan kepalanya.


Selama keluarga Moza itu melaksanakan solat magrib berjamaah, Sifa menghabiskan waktunya dengan membaca buku.


"Sifa, kita ke meja makan yuk," ajak Mama Kesya setelah selesai melaksanakan solat magrib.


Sifa menganggukkan kepalanya dan mengikuti langkah ratu Moza itu.


...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....


...Salam sayang dari Abash n Sifa...


...Follow IG Author : Rira Syaqila...

__ADS_1


__ADS_2