
"Brengsek," maki Arash pelan dan berjalan menuju Putri dan Soni.
Langkah Arash langsung terhenti di saat lengannya di cekal oleh Jo. Pria itu pun menoleh ke arah orang yang telah mencekal lengannya.
"Mau apa kamu?" tanya Jo yang mana membuat Arash menggeram kesal.
"Lepas,Jo," titah Arash yang tidak di dengar oleh Jo.
"Apa kamu mau melabrak mereka?" tanya Jo lagi. "Atas dasar apa? Memangnya kamu siapa? Kamu bukan siapa-siapanya Putri. Jadi, jangan permalukan diri kamu sendiri, yang ada Putri bukannya menyukaimu tetapi malah membenci kamu," tegur Jo yang mana membuat Arash semakin mengepalkan tangannya.
"Bang Jo bener, Rash. Jangan permalukan diri kamu sendiri," ujar Desi membenarkan apa yang di katakan oleh sang kekasih.
Terlihat Arash semakin menggeram kesal dan menghentakkan lengannya agar Jo melepaskan cengkraman tangan pria itu.
"Desi, Arash, Bang Jo?" tegur Putri, yang mana membuat ketiga orang itu pun menoleh ke arahnya.
"Hai, Put," sapa Desi pula.
"Kenapa kalian di sini?" tanya Putri dengan kening mengkerut.
"Ah, kami tidak sengaja bertemu. Arash baru pulang kerja, jadi kami mengobrol sebentar sebelum berpisah dengan Bang Jo," jawab Desi yang tak ingin membuat Putri curiga.
"Pak Arash, kita bertemu lagi," sapa Soni ramah dan mengulurkan tangannya.
Arash hanya melihat tangan Soni yang terulur kepadanya dengan tatapan yang dingin.
"Hmm, ya," jawab Arash dengan terpaksa menerima uluran tangan Soni setelah Desi menyenggol lengannya.
Soni yang melihat jika ada yang aneh dengan Arash pun, mengernyitkan keningnya. Jika dugaan pria itu benar, maka cukup melihat dari tatapan pria itu yang saat ini sedang manatapnya dengan tatapan tajam, maka bisa di katakan jika Arash sedang cemburu kepadanya. Hal itu pun membuat sesuatu di dalam hati Soni pun tergelitik untuk semakin membuat Arash terbakar oleh api cemburu yang pria itu ciptakan sendiri.
"Sayang, aku balik dulu, ya," pamit Soni sambil mengusap rambut Putri dengan penuh kasih sayang.
"Eh, ya," gugup Putri karena Soni terlihat menunjukkan kemesraan di depan Arash, Bang Jo, dan juga Desi.
"Baiklah, semuanya, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Soni kepada Desi, Bang Jo, dan juga Arash, tak lupa senyuman yang sangat berkharisma Soni lemparkan kepada ketiga orang tersebut.
"Iya," jawab Desi dengan ramah, berbeda dengan Jo yang hanya tersenyum kecil kepada Soni.
Soni menghentikan langkahnya di saat Putri ikut berbalik mengikutinya.
"Ada apa?" tanya Soni dengan lembut.
"Aku akan mengantar kamu sampai mobil," ujar Putri dengan suara yang sangat pelan sekali.
__ADS_1
"Masuklah, besok kita akan bertemu lagi. Cepat banget gak mau pisahnya," kekeh Soni yang masih di dengar oleh Arash, Jo, dan juga Desi.
Lagi, Soni mengacak rambut Putri sebelum pria itu benar-benar berlalu meninggalkan semuanya.
"Cie .. cie ... sepertinya ada yang baru jadian, nih," goda Desi di saat Soni sudah menjauh. Gadis itu sengaja mengatakan hal tersebut agar Putri tak merasa curiga dengan keadaan Arash saat ini.
Putri berbalik dengan wajah yang terlihat gugup, seolah-olah saat ini dia sedang ketahuan berselingkuh dari pacarnya.
"Eh, i-itu—"
Putri menghentikan ucapannya di saat mendengar perintah dari Arash dengan suara pria itu yang terdengar dingin dan menakutkan.
"Sebaiknya kalian masuk. Ini sudah malam. Dan kamu, Jo. Sebaiknya pulang, gak baik ngapel pacar sampai malam-malam begini," tegur Arash yang mana membuat Jo menaikkan satu alisnya.
Desi dan Putri pun ikut melongo mendengar apa yang Arash katakan. Kenapa dia berubah menjadi orang tua sekarang?
Arash pun langsung berbalik meninggalkan Jo, Desi, dan Putri. Pria itu berjalan cepat menuju lift yang pintunya masih tertutup.
"Kenapa dia? Apa salah makan?" tanya Jo yang mana membuat Putri menoleh ke arah pria itu. "Atau baru kesambet setan?" sambungnya lagi yang mana membuat Putri semakin melongo mendengarnya.
Sekalinya bicara, Bang Jo ini bisa membuat Putri speechlees dengan mulut yang terbuka.
"Jangan besar-besar buka mulutnya, ntar masuk lalat," tegur Bang Jo yang mana membuat Putri semakin membuka mulut, di tambah matanya yang juga semakin terbelalak.
"Sekalinya bersuara, bikin orang terperanga, ya?" ujar Putri yang mana membuat Desi tertawa terbahak-bahak.
"Kalian, tunggu apa lagi? Cepat naik," pekik Arash yang sudah berada di dalam lift, menyuruh Putri dan Desi untuk bergegas mengikuti pria itu.
"Sebaiknya kalian masuk, sebelum dia berubah jadi empus," ujar Jo yang mana membuat Putri terkekeh.
"Ternyata Bang Jo ini lucu juga," ujarnya yang mana membuat Desi juga ikut tertawa.
"Saya bukan pelawak," jawab Jo tanpa ekspresi sedikit pun, yang mana membuat Putri dan Desi semakin tertawa mendengarnya.
"Ayo," ajak Desi kepada Putri agar mereka segera bergerak menuju lift.
Sesamapainya di dalam lift, Arash langsung menutup pintu lift dan tak ada sedikit pun menoleh ke arah Putri dan Desi. Di dalam ruangan besi yang terasa dingin itu pun, terasa semakin dingin karena aura yang di pancarkan oleh pria itu.
Kruuuukkk ....
Terdengar suara perut Arash yang mana membuat Desi dan Putri mengulum bibirnya.
"Gak usah ketawa, gak ada yang lucu di sini," tegur Arash yang mana membuat Putri dan Desi semakin mengulum bibirnya.
__ADS_1
"Ekheem ..." Putri pun membasahi tenggorokannya.
"Kamu belum makan?" tanya Putri yang mana membuat Arash melirik ke arahnya.
"Gak lapar," jawab pria itu.
Kriiuuk ...
Siapa yang menyangka, jika ucapan Arash dan bahasa tubuhnya tidak sinkron, sehingga membuat Putri dan Desi kembali mengulum bibirnya.
"Akan aku buatkan makan malam nanti," ujar Putri yang mana membuat Arash hanya melirik ke arah gadis itu.
Makan malam buatan Putri? Bagaimana bisa Arash menolaknya?
Ting ...
Pintu lift terbuka, Arash pun duluan keluar dari dalam ruangan besi itu.
"Des, Arash kenapa, sih?" tanya Putri yang merasa ada sesuatu yang aneh kepada pria itu.
"Aku juga gak tau. Mungkin lagi datang bulan kali dia," kekeh Putri yang mana membuat Putri menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya bukannya Desi tak tahu apa yang terjadi kepada Arash saat ini. Gadis itu sangat tahu sekali apa yang terjadi kepada anak dari bos orang tuanya itu. Apa lagi kalau bukan karena sedang terbakar cemburu kepada Soni.
Arash langsung membuka pintu apartemen, pria itu pun masuk ke dalam tanpa menunggu Putri dan Desi untuk masuk duluan seperti biasanya.
"Rash, kamu mau makan apa? Biar aku masakin," ujar Putri di saat melihat pria itu hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Terserah kamu saja. Makan pakai kecap doang juga aku bisa," jawabnya yang mana membuat Putri semakin mengerutkan keningnya.
"Ada apa dengan dia?" lirih Putri semakin bingung dengan sifat pria itu.
"Mau aku bantuin masak?" tawar Desi yang mana mengambil atensi Putri kembali.
"Boleh, tapi aku ganti baju dulu, ya," ujar Putri yang di angguki oleh Desi. Gadis itu juga akan mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai.
Di dalam kamar.
"Akkh ... Kenapa dia harus terlihat sangat cantik sih, malam ini?" gerutu Arash yang tak terima jika Soni melihat kecantikan Putri semalaman ini.
"Seharusnya aku buang saja baju itu jika tahu kalau Putri akan makan malam bersama si brengsek itu," geram Arash sambil memukul tempat tidur.
Ya, siapa yang menyangka jika Arash yang di kenal supel dan ramah, bisa sejutek ini di saat sedang cemburu. Tak jauh dari Abash yang pernah cemburu buta kepada Bimo, kan?
__ADS_1