
Sifa merasa ada sesuatu yang berat yang menimpa tubuhnya. Wanita itu pun perlahan membuka matanya, untuk melihat benda apa yang telah menimpa dirinya.
"Mas Abash?" gumam Sifa pelan, di saat melihat sang suami-lah yang ternyata sedang memeluk tubuhnya, sehingga membuat Sifa merasa seakan tertimpa dan sesak.
Sifa menghela napasnya pelan, gadis itu pun menatap wajah sang suami lekat-lekat. Sudut bibir Sifa tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman yang sangat indah sekali.
"Kenapa wajah kamu bisa sesempurna ini, Mas?" lirih Sifa pelan, tangannya terangkat ke atas untuk menyentuh wajah sang suami dengan perlahan.
Sifa menyentuh wajah Abash dengan lembut, bahkan bisa dikatakan hanya setipis angin.
"Alis kamu begitu sempurna, Mas. Terlihat lebat dan rapi. Bulu mata kamu juga begitu panjang dan lebat. Aku benar-benar iri sama kamu, Mas." Tangan Sifa perlahan turun menyentuh hidung mancung sang suami.
"Aku harap jika kita punya anak, maka hidungnya akan seperti kamu, Mas," gumamm Sifa. "Alis, Mata, hidung, semuanya mirip kamu."
Tangan Sifa pun perlahan kembali turun, hingga berhenti tepat di depan bibir Abash.
"Bibir kamu juga, Mas. Bibir kamu begitu sangat---" Sifa menggantung kalimatnya, wanita itu menelan ludahnya dengan kasar, di saat merasa tergoda dengan bibir sang suami.
"Bibir aku kenapa, sayang?" tanya Abash akhirnya membuka suara.
__ADS_1
Ya, sedari awal Sifa bergerak, Abash sudah terbangun. Tetapi pria itu sengaja tidak membuka matanya, karena ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh sang istri. Apakah Sifa akan berteriak dan mendorong tubuhnya hingga terjatuh ke lantai? Atau memuji ketampannya.
Dan ternyata, dugaan Abash yang kedua ternyata benar. Sifa memuji ketampannya dengan suara yang begitu menggoda.
"M-Mas, kamu sudah bangun?" cicit Sifa dengan gugup.
Abash tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, sayang."
"Sejak kapan?" tanya Sifa pelan.
"Sejak kamu membuka mata."
"Ja-jadi, apa Mas mendengar semua yang aku katakan?" tanya Sifa penasaran.
"Huum, ya."
"Semuanya?" tanya Sifa lagi memastikan.
"Ya, semuanya. Dan aku juga mendengara keinginan kamu yang ingin memiliki anak dengan wajah yang sangat mirip denganku," ujar Abash yang mana membuat wajah Sifa merona.
__ADS_1
"A-apa kamu sengaja berpura-pura tidur, Mas?" tuduh Sifa.
"Tidak, sayang. Aku tidak berpura-pura tidur. Bahkan tidurku malam ini begitu sangat nyenyak. Bahkan aku juga bermimpi indah. Sampai-sampai aku tidak ingin terbangun dari mimpiku, sayang. Tapi, di saat aku mengingat, jika dunia nyataku lebih indah, maka aku memilih untuk membuka mataku," ungkap Abash dengan tersenyum manis.
"Mimpi indah? Apa aku boleh tahu apa yang kamu mimpikan, Mas?"
"Tentu saja, karena kamu juga ada di dalam mimpiku."
"Oh ya, emangnya kamu mimpi apa, Mas?" tanya Sifa semakin merasa penasaran.
"Mimpi jika kita akan memiliki sepasang anak kembar yang sangat cantik dan tampan. Yang cewek mirip sama kamu dan yang cowok mirip sama aku."
Seketika wajah Sifa pun kembali merona. Jantung gadis itu berdetak dengan begitu cepatnya. Mimpi Abash ternyata benr-benar sangat indah. Apakah mimpi itu akan menjadi kenyataan?
"Kamu tau, sayang, kenapa aku memilih untuk bangun dari mimpiku?" tanya Abash yang dijawab gelengan oleh Sifa.
"Kenapa, Mas?"
"Karena aku ingin mewujudkan mimpi aku, sayang. Aku akan membuat kamu melahirkan sepasang buah cinta kita dengan segera," ujar Abash dan langsung mencium bibir sang istri.
__ADS_1
Dan pagi ini, sungguh pagi yang manis bagi Abash dan Sifa.