
Sifa terus berdoa di dalam hati, agar Abash segera datang dan menyelamatkannya dengan segera. Mata Sifa yang tertutup pun tiba-tiba saja terbuka, di saat gadis itu merasakan mobil yang dia tumpangi berhenti.
Sifa mengernyitkan keningnya, di saat melihat sebuah mobil mewah yang berada tepat di depan mobilnya. Gadis itu pun menoleh ke arah pintu mobil yang terbuka, kemudian sebuah suara bariton pun terdengar dan memerintahkan dirinya untuk keluar dan berpindah ke mobil yang ada di depan mobilnya saat ini.
"Turunlah, Nona," titah pria berbadan besar tersebut.
"Untuk apa? Siapa kalian sebenarnya? Apa mau kalian?" tanya Siafa memberanikan diri.
"Nanti Nona juga akan tahu. Jadi, sebaiknya sekarang Nona bergegaslah untuk turun dan berpindah ke mobil yang ada di depan," titah pria itu lagi.
"Bagaimana jika aku tidak mau?" tolak Sifa.
"Maka, teman Nona yang akan menerima akibatnya," ujar pria itu yang mana menbuat Sifa mengingat tentang mbak ojeknya.
"Baiklah, saya akan turun dan berpindah mobil. Tapi ingat, jangan sakiti teman saya," ujar Sifa memberanikan diri dan juga merasa bersalah secara bersamaan.
"Baiklah, kami tidak akan melukai teman Nona, jika Nona menuruti apa yang saya katakan."
Pria berbadan besar itu pun menyuruh Sifa untuk turun dengan homat, kemudian dia mempersilahkan Sifa untuk berjalan menuju mobil mewah yang ada di hadapannya saat ini.
"Silakan masuk, Nona," titah pria itu dengan sopan saat sudah membukakan pintu mobil untuk Sifa.
Sifa menghela napasnya dengan pelan, gadis itu pun mengumpulkan semua keberaniannya untuk masuk ke dalam mobil. Sifa percaya, jika Abash pasti sedang menuju ke tempatnya saat ini dan akan menyelamatkan dirinya.
Tapi, di mana Abash? Kenapa sampai saat ini tanda-tanda seakan kedatangan pria itu belum juga terlihat?
Sifa pun menatap ke arah pria yang berbadan besar dan membukakan pintu mobil untuknya. Gadis itu pun mengernyitkan kening, di saat merasa tidak asing dengan pria itu. Tapi, di mana Sifa pernah melihatnya?
Sifa pun masuk ke dalam mobil dengan perlahan dan hati-hati, gadis itu pun langsung membelalakkan matanya di saat melihat siapa pria yang sedang duduk di dalam mobil.
"Mas?Ka-kamu?" pekik Sifa dengan terkejut.
__ADS_1
Abash menoleh, pria itu pun tersenyum miring kepada sang kekasih.
"Ja-jadi ini semua rencana kamu, Mas? Kenapa?" tanya Sifa menahan rasa kekesalannya.
"Itu karena kamu udah cuekin kamu,' ujar Abash dengan wajah datarnya.
"Cuekin kamu? Kapan?" tanya Sifa dengan kening mengkerut. "Bukannya seharian ini aku selalu memberikan kabar kepada kamu, Mas Tapi kamu saja yang mengabaikan pesanku," kesal Sifa sambil mencebikkan bibirnya.
Abash mengulurkan tangannya ke pinggang Sifa, pria itu pun menarik pinggang Sifa dan mengikis jarak di antara mereka berdua.
"Itu hukuman untuk kamu, sayang. Karena kamu sudah mengabaikan kedatangan aku dengan berbicara dengan pria menyebalkan itu," kesal Abash yang terlihat sekali jika dengan sedang cemburu saat ini.
Sifa mengernyitkan keningnya, gadis itu pun terlihat berpikir pria menyebalkan mana yang membuat sang kekasih cemburu buta seperti saat ini.
"Maksud kamu Mas Bima, Mas?" tebak Sifa.
"Iya. Bukannya aku sudah melarang kamu untuk menjaga jarak dengannya? Tapi, kenapa kamu malah terlihat sangat asyik berbincang dengannya tadi pagi? Dari pada memadang dan memberikan senyuman kepada aku tadi pagi," kesal Abash yang sudah menyandarkan dagunya di bahu Sifa.
"Tapi, cara kamu ini benar-benar salah, Mas. Seharusnya kamu membalas pesanku dan bertanya kepadaku, kenapa aku berbincang dengan Mas Bima. Dan juga, seharusnya kamu tidak boleh menculik aku seperti ini, Mas. Kamu benar-benar membuat aku ketakukan," marah Sifa.
Abash semakin mengeratkan pelukannya dan mencium bahu sang kekasih dengan lembut.
"Jangan lakukan itu, Mas. Ini di pinggir jalan, pasti akan ada orang yang mengikuti kamu diam-diam untuk mendapatkan berita dan menulisnya di halaman gosip," kesal Sifa sambil berusaha melepaskan dirinya dari pelukan sang kekasih.
"Maafin aku, Sifa. Aku salah. Aku hanya berniat bercanda saja tadinya. Maafin aku, ya?" sesal Abash yang semakin mengeratkan pelukannya di pinggang sang kekasih.
"Baiklah, kali ini aku akan memaafkan kamu. Tapi, tidak untuk lain kali, Mas. Aku tidak ingin kamu bercanda seperti ini lagi," ujar Sifa yang sudah meneteskan air matanya yang sedari tadi dia tahan.
"Sayang, maafin aku.Maafin aku, ya?" mohon Abash dan menangkup pipi Sifa.
"Aku takut, Mas, hiks . Aku sangat takut sekali tadi. Tapi, aku pecaya jika kamu akan menyelamatkan aku," ujar Sifa sambil sesenggukan.
__ADS_1
Abash menarik tubuh Sifa dan membawanya ke dalam pelukan pria itu.
"Maafin aku, sayang. Maafin aku. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal ini lagi," bisik Abash dengan penuh penyesalan.
"Hiks, lain kali jangan ulangi lagi, hiks," mohon Sifa.
"Iya, sayang. Maafin aku."
"Hum, aku maafin kamu, Mas."
"Makasih sayang. Kamu yang terbaik," bisik Abash.
"Aku bukan Sofa yang dari india dan anak kecil, Mas," bisik Sifa sambil sesenggukan, yang mana membuat Abash terkekeh pelan.
"Tapi, tubuh kamu memang kecil, sayang. Buktinya kamu tenggelam dalam pelukan aku," goda Abash.
"Jangan macam-macam, Mas. Ingat pesan Tante Kesya, kalau seorang pria yang baik, tidak akan menyentuh adn menodai wanita yang dia cintai," ujar Sifa yang sudah mulai merasa tenang.
"Tapi sayangnya aku bukan pria baik, sayang. Aku pria brengsek," ujar Abash dengan tersenyum miring.
Pria itu pun merelaikan pelukannya dan menatap menggoda ke arah Sifa.
"Maass .." pekik Sifa seolah memberikan peringatan kepada sang kekasih untuk tidak melewati batasnya.
Abash hanya terkekeh pelan dan kembali menarik Sifa ke dalam pelukannya.
"Arash sudah bertunangan, kita kapan?" bisik Abash dengan menggoda.
"Aku siap, kapan pun kamu menngajak aku bertunangan, Mas."
Di jarak yang tidak terlalu jauh dari mobil Abash, terdapat sebuah mobil yang sedari awal sudah mengikuti Abash sejak keluar dari kantornya.
__ADS_1
"Cari tahu, apa hubungan gadis itu dengan kembaran si polisi itu," titah seorang pria yang ingin membalaskan dendamnya kepada keluarga Moza.