
Putri seharian ini berusaha untuk memfokuskan pikirannya kepada pekerjaan, akan tetapi bayangan wajah Arash saat bersamanya di dalam kamar mandi, membuat gadis itu tidak bisa fokus dalam bekerja.
"Akkh, kenapa juga aku harus ngecup leher dia, sih?" gumam Putri pelan, menyesali perbuatannya malam itu.
Berkali-kali Putri menghela napasnya dengan sedikit kasar, mengusir kegundahan yang ada di dalam hatinya. Dia sengaja tidak pulang malam itu, karena tidak ingin bersitatap dengan Arash. Rasanya sungguh sangat canggung sekali jika harus bertemu dengan pria itu, setelah apa yang terjadi di antara mereka berdua malam itu di dalam kamar mandi.
Putri terkejut di saat seorang satpam mengantarkan sebuah bekal makan siang untuk dirinya. Perasaan gadis itu, dia tidak memesan makanan apa pun untuk siang ini. Satpam juga tidak mengatakan, dari siapa bekal makanan tersebut, karena yang mengirimkannya adalah tukang ojol.
Putri merasa ragu untuk membuka bekal tersebut, karena masih trauma dengan kejadian yang telah menimpanya.
Cling ....
Sebuah pesan pun masuk ke dalam ponsel Putri, sehingga membuat gadis itu meraih ponselnya dan membuka isi pesan yang masuk ke dalamnya.
"Ini nomor aku, Soni. Semoga kamu suka dengan bekal makanan yang aku kirimkan."
Putri membaca sederet kata yang tertulis di layar pipihnya. Sudut bibir gadis itu pun terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman. Putri kembali menoleh ke arah bekal makanan yang di berikan oleh satpam tadi.
"Soni ... Soni, ternyata kamu toh," gumam Putri sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Putri mengambil foto bekal yang di kirimkan oleh Soni, kemudian mengirimkan foto tersebut ke nomor pria itu.
"Terima kasih bekalnya, masih ingat aja kamu kalau aku suka sama ikan lele." send.
__ADS_1
Putri pun meletakkan kembali ponselnya di atas meja, kemudian gadis bangkit dari duduknya dan mencuci tangan di wastafel yang ada di ruangannya.
Cling ... Cling ...
Sebuah pesan pun kembali masuk sehingga membuat Putri bergegas kembali ke mejanya.
Putri mengernyitkan keningnya di saat melihat nama Arash yang muncul di layar pipihnya. Tangan Putri tertahan di udara untuk membuka pesan tersebut.
"Haruskah aku membukanya?" lirih Putri merasa ragu, sehingga dia melupakan pesan yang di kirimkan oleh Soni, tepat di bawah nama Arash.
Merasa jika ada sesuatu yang penting yang ingin Arash katakan, akhirnya Putri pun membuka pesan tersebut dan membacanya.
"Kamu sudah makan?"
Putri menghela napasnya pelan, kenapa Arash harus mengirimkan pesan itu? Tak tahukah Arash jika isi pesan yang dia kirimkan bisa membuat Putri baper?
"Apa yang kamu pikirkan, Put? Mungkin dia hanya iseng saja bertanya. Jadi, jangan terlalu ambil perasaan deh," lirih Putri sambil mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.
Kring ... kring ...
Putri terkejut di saat ponselnya kembali berdering. Kali ini nama Soni tertera di sana dengan sebuah panggilan suara.
Putri menghela napasnya dengan pelan, kemudian gadis itu pun mengusap layar hijau setelah berdehem beberala kalo.
__ADS_1
"Halo," sapa Putri kepada orang yang ada di seberang panggilan.
"Hai, aku pikir kamu udah ketiduran," kekeh Soni yang mana membuat Putri ikut tersenyum.
"Siapa juga yang ketiduran," cicitnya pelan.
"Habisnya kamu lama banget balas pesan aku, padahal kamu online," ujar Soni yang mana membuat Putri menggigit bibirnya.
"Oh, itu ...."
"Aku tau kamu pasti sibuk. Secara kamu kan pengacara hebat," kekeh Soni mencairkan suasana. "Ah ya, gimana sambalnya? enak?" tanya Soni mengalihkan pembicaraan.
"Enak, ini aku baru mau makan," ujar Putri yang mana membuat Soni tertawa.
"Putri ... Putri ... kamu ini lucu ya. Masa belum di makan tapi sudah tau enak?" kekeh Soni yang mana membuat Putri juga ikut tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu, kamu makan dulu ya. Nanti aku hubungi lagi. Bye, Put," pamit Soni dan memutuskan panggilannya setelah mendengar jawaban dari Putri.
Bukannya Putri tak tahu, jika Soni memiliki maksud lain kepadanya. Putri sudah lama tahu, jika keponakan dari Om Martin itu sudah lama menyimpan perasaan kepadanya. Tetapi, selama ini Putri hanya menganggapnya sebagai teman dan juga saudara.
Haruskah saat ini Putri membuka hatinya dan memberikan kesempatan kepada Soni?
Sebelum cintanya kepada Arash semakin besar
__ADS_1