Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 162 - Mafia?


__ADS_3

"Siapa yang berani memukul adik saya, hah?"


Suara bariton yang menggelegar, membuat semua orang yang ada di kantor polisi pun menoleh.


Abash sontak berdiri dan di ikuti oleh Putri.


"Kakaaakk .. kak, aku di pukul sama dia," rengek pria berbadan besar tadi--yang menabrak mobil Putri, sambil menunjuk ke arah Abash.


"Cewek itu juga mau nuntut aku, karena udah nabrak mobil dia. Padahal dia yang salah, karena berhenti di tengah jalan dan halangin jalan aku," adu pria itu kepada pria yang wajahnya lebih sangar dari dirinya.


Pria sangar itu pun menoleh ke arah Abash dan Putri, dia menatap tajam kepada keduanya, kemudian melangkah besar dan langsung melayangkan pukulannya ke arah Abash.


Happ ...


Untungnya Abash bergerak cepat, sehingga mampu menahan tangan pria sangar itu yang hendak memukul wajahnya.


"Silahkan berbuat sesuka anda, karena saya tidak takut. Lagi pula, adik Anda memang terbukti bersalah," desis Abash dengan menatap tajam pria itu.


Daddy Bara yang baru saja tiba di kantor polisi tersebut pun, langsung membelalakkan matanya di saat melihat siapa orang yang di tantang oleh Abash.


"Ada apa ini?" tanya Daddy Bara dan merelai Abash dan pria sangar itu.


"Ini, Pak, pria ini ingin memukul Pak Abash, padahal adiknya yang salah," adu Putri yang memang tak mengenal siapa Daddy Bara.


Daddy Bara pun menutup matanya, pria paruh baya itu pun mencoba mendamaikan keduanya.


"Damai yang bagaimana maksud, Bapak?" tanya Putri.


"Begini, Pak Yosi akan membayar semua kerusakan pada mobil Nona, adiknya pun akan membuat laporan setiap hari ke kantor polisi," ujar Daddy Bara, berharap jika Putri menyetujui idenya.


"Gak, gak bisa. Saya gak terima. Hukum dan keadilan harus tetap di tegakkan, Pak, siapapun orangnya," bantah Putri.


"Intinya, saya tidak akan mencabut tuntutan saya dan membiarkan penjahat seperti dia lepas begitu saja. Bisa aja, dia akan mengulanginya lagi dan memeras orang yang lebih lemah," ujar Putri.


"Oke, jadi mau Nona bagaimana?" tanya Daddy Bara.


"Saya akan tetap menuntut pria itu sesuai hukum dan pasal yang berlaku."


Daddy Bara benar-benar frustasi, pasalnya pria yang sedang mereka hadapi adalah seorang mafia yang sedang di pantau oleh timnya. Pria yang bernama Yosi itu sangat licik dan selalu berhasil mengelabuhi pihak kepolisian, sehingga membuat tim Daddy Bara sedikit kwalahan.


Surat perintah penahanan adik dari Yosi pun telah di setujui, sehingga membuat Yosi benar-benar murka kepada Putri dan Abash.


"Lihat saja, kalian akan menanggung akibatnya," geram Yosi sambil menatap Abash dan Putri dengan tajam.


Putri dan Abash pun masuk ke ruangan Arash, di mana pria itu juga merasa sakit kepala dengan keputusan Abash dan Putri yang tetap ingin menuntut adik dari Yosi.


"Sebaiknya mulai sekarang kamu harus dalam pengawasan pengawal, Putri," titah Daddy Bara.

__ADS_1


"Untuk apa? Kenapa memangnya? Kenapa Pak Bara dan Pak Arash terlihat tegang?" tanya Putri. "Santai saja, saya sudah biasa berhadapan dengan orang-orang seperti mereka."


"Bukan itu masalahnya, Put," lirih Arash sambil meremas rambutnya.


"Lalu?"


"Pria itu mafia. Dia bisa saja mencelakain kalian berdua," ujar Arash memberi tahu.


"Aku gak takut," jawab Putri yang mana membuat Abash menoleh ke arahnya.


"Aku tau kamu bisa bela diri. Tapi ini bukanlah hal yang baik untuk kamu, Put," ujar Arash lagi, entah mengapa, pria itu merasa khawatir kepada Putri, takut jika akan ada hal yang buruk terjadi di antara mereka berdua.


"Nak Putri, apa yang dikatakan oleh Arash itu ada benarnya. Kamu harus mendapatkan perlindungan, setidaknya sewalah pengawal untuk menjaga kamu. Kalau kamu merasa risih selalu di kawal dalam jarak dekat, maka cobalah dengan pengawal bayangan," ujar Daddy Bara menasehati.


Putri menghela napasnya pelan, melihat wajah khawatir pada Daddy Bara, membuat gadis itu pun mengangguk pelan.


"Baiklah, saya akan terima saran dari Bapak," ujar Putri yang mana membuat Arash bernapas dengan lega.


Setelah urusan di kantor polisi selesai, Abash pun mengantarkan Putri ke kantornya.


"Terima kasih atas tumpangannya, seharusnya Pak Abash tidak usah repot-repot mengantarkan saya," ujar Putri dengan perasaan tak enak.


"Gak masalah, ini demi kebaikan Anda."


"Sekali lagi terima kasih," ujar Putri sebelum turun dari mobil.


Abash teringat akan perkataan Arash, di mana keselamatan Putri saat ini benar-benar terancam.


"Jam lima," jawab Putri dengan wajah polosnya.


"Saya akan menjemput kamu. Jadi, tunggu sampai saya datang."


"Eh, tidak per---,"


"Kalau begitu saya pamit, permisi," ujar Abash dan langsung melajukan mobilnya.


Putri yang masih membungkuk pun terbengong dengan mata yang mengerjap lucu.


"Apa-apaan itu?" lirihnya pelan dengan bingung.


Abash meraih ponselnya yang sedari tadi dia abaikan, terlihat jika ada beberapa pesan masuk dari sang kekasih, begitu pun dengan panggilan tak terjawab.


"Pasti Sifa khawatir ini," lirih Abash dan mencoba menghubungi sang kekasih.


Sifa yang sedang bekerja pun, menoleh ke arah ponselnya yang berdering, senyuman pun langsung terbit di bibir gadis itu.


"Assalamualaikum, Mas," ujar Sifa dengan berbisik.

__ADS_1


"Walaikumsalam, maaf ya, aku mengabaikan pesan dan panggilan dari kamu. Soalnya ada sedikit masalah kerjaan tadi," bohong Abash yang mana tak ingin jika sang kekasih merasa khawatir dengan apa yang menimpanya hari ini.


"Gak papa, Mas. Aku sekarang udah lega, karena kamu udah menghubungi aku."


"Iya, ah ya, kamu lagi kerja kan? Maaf ya aku mengganggu."


"Iya, Mas. Ya udah kalau begitu, aku tutup dulu ya."


"Iya, love you Sifa."


"Heemm, aku juga."


"Juga apa?"


"Udah ya, Mas, gak enak di lihatin sama yang lain," ujar Sifa dengan wajah yang sudah merona.


"Ya udah kalau gitu. Tapi nanti aku mau nagih ungkapan cinta dari kamu, oke."


"Iya. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


Abash menghela napasnya pelan dan berat, pria itu pun menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Untuk sementara aku gak boleh berada di dekat Sifa. Bisa-bisa keselamatan Sifa juga ikut terancam gara-gara egoku yang tak ingin berdamai tadi di kantor polisi," lirih Abash dan mendesah pelan.


Abash gak tahu, sampai kapan dia harus menghindari Sifa, demi keselamatan sang kekasih.


*


Putri benar-benar terkejut saat melihat mobil Abash sudah terparkir di dekat lobi. Pria itu benar-benar menjemputnya sepulang kerja.


Putri pun menghampiri Abash yang masih ada di dalam mobil.


"Ayo naik," titah Abash.


"Saya sudah pesan ojek online, jadi saya bisa pulang sendiri kok," tolak Putri.


Bersamaan dengan itu, ponsel Putri pun berbunyi, sehingga gadis itu menggeser tombol hijau.


"Halo, Pak. Mobil putih kan? Saya yang memakai baju warna tosca."


Abash turun dari mobil dan langsung menghampiri mobil yang berhenti tepat di depan Putri.


"Maaf, Pak. Ini uang ganti rugi karena wanita ini tidak ajdi naik dengan Bapak. Bapak bisa manjutkannya atau mencancel pesanan," ujar Abash sambil memberikan tiga lembar uang berwarna merah.


"Pak Abash, apa maksudnya ini?" tanya Putri dengan bingung, di saat pria itu menggenggam tangan dan menariknya untuk masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


Cekreek ... Cekrek ..cekrek...


Beberapa foto yang di ambil oleh seseorang pun, langsung beredar luas ke sosial media.


__ADS_2