
"Kamu beneran gak papa, Put?" tanya Luna.
"Hmm, aku gak papa kok. Yuk, kita masuk, aku udah lapar." Putri pun masuk ke dalam restoran bersama Luna, kemudian mereka memilih kursi yang jauh dari keributan.
Setelah memilih kursi yang jauh dari keramaian, terutama dari para pria berpakaian polisi dan juga ada beberapa yang berpakaian preman, Putri dan Luna mendudukkan tubuhnya di kursi dan menghela napasnya dengan pelan.
"Jadi, kamu udah dapat kontrak kerja dengan perusahaan IT itu?"
"Iya, tapi dia membatalkan janji temu hari ini. Nyebelin gak sih? Dia yang ngajak ketemu di hati merdeka ini, eh malah dia yang batalin. Gak profesional banget," cibir Putri.
"Sabar, Put. Usaha yang di jalani dengan kesabaran, pasti akan berbuah manis," ujar Luna sambil mengusap lembut punggung tangan Putri.
"Hmm, iya. Kamu benar. Beruntung aku punya sahabat kayak kamu," ujar Putri dan tersenyum kepada gadis yang saat ini duduk di sebelahnya dengan menggunakan hijab.
"Alhamdulillah, ya udah kalau gitu, kita langsung pesan makanan aja ya, perut aku udah lapar banget," rengek Luna dengan manja.
"Iya ..." Putri mengambil buku menu dan menuliskan pesanan makanan mereka di atas kertas.
Gadis itu pun memberikan pesanan makana mereka kepada pelayan.
"Aku ke toilet bentar ya," izin Putri kepada Luna.
__ADS_1
"Iya, hati-hati."
Luna pun memandang kepergian Putri dengan tersenyum tipis.
Sesampainya di toilet, Putri pun membuka jas yang dia kenakan, wanita itu menatap lengannya yang di cengkram erat oleh Arash.
"Duh, merah deh. Bakal memar gak ya ini?" lirih Putri pelan. "Huff." Putri pun kembali mengenakan jasnya dan merapikan tampilannya di cermin.
Setelah merasa rapi, gadis itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Suara ponsel yang berbunyi pun membuat Putri meraih ponselnya dan membaca isi pesan yang tertulis di sana.
Putri tersenyum tipis di saat mendapatkan pesan semangat dari adik-adiknya.
"Terima kasi--"
Putri meringis pelan, kemudian bergegas mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai, bersamaan dengan itu, tangannya ikut menyentuh tangan pria yang juga ingin mengambil ponselnya.
"Kamu?" lirih Putri dengan kesal.
"Ini, ponsel Anda," ujar Arash sambil menyodorkan ponsel Putri yang sudah retak layarnya.
"Teri---,"
__ADS_1
"Ponsel kamu layarnya retak, sebentar." Arash pun mengambil sejumlah uang di dalam dompetnya, kemudian memberikan uang tersebut kepada Putri.
"Ini, uang ganti rugi untuk benerin ponsel Anda yang retak karena saya," ujar Arash dengan tersenyum lebar.
Terlihat perubahan ekspresi di wajah Putri, gadis itu pun menatap kesal ke arah Arash.
"Gak perlu, saya bisa membenarkannya sendiri. Lagi pula, ini tidak sepenuhnya salah Anda. Saya yang salah, karena jalan tidak lihat ke depan."
Putri pun mengambil ponselnya yang ada di tangan Arash.
"Terima kasih, sekali lagi saya minta maaf."
Putri berlalu begitu saja, meninggalkan Arash yang tersenyum tipis mendengar kalimat yang keluar dari bibir gadis cantik itu.
"Terdengar angkuh, tapi---," Arash pun membalikan tubuhnya dan menatap kepergian Putri yang semakin menjauh.
"Gadis yang unik, tidak gengsi untuk meminta maaf. Berbeda dengan gadis jaman sekarang. Hmm, Sifa juga murah senyum, tapi mereka jelas terlihat dari kasta yang berbeda," lirih Arash yang masih menatap kepergian gadis itu.
Arash pun merogoh kantongnya untuk mengambil kartu nama yang di berikan oleh gadis itu.
"Putri Zahara Kusuma," lirih Arash pelan. "Hmm, jadi dia seorang pengacara!" Arash menatap dari kejauhan, di mana Putri dan teman wanitanya duduk.
__ADS_1
"Kenapa aku malah memperhatikan dia ya?" sadar Arash dan kembali berbalik menuju toilet.
"Hmm, kira-kira siapa ya yang menangis hadiah utama ke Bali? Duh, penasaran banget," lirih Arash sambil berjalan menuju toilet.