
Mama Nayna menghela napasnya dengan pelan, wanita paruh baya itu menatap sang putri yang terbaring lemah dan masih betah menutup matanya dengan rapat.
"Kapan Putri akan bangun, Rash?" tanya Mama Nayna saat menyadari calon menantunya itu masuk ke dalam ruangan.
"Arash juga tidak tahu, Tante. Kita berdoa saja, ya, agar Putri segera sadar," lirih Arash.
Mama Nayna berbalik menghadap Arash yang berdiri di belakangnya.
"Keadaan kamu bagaimana, Rash? Apa kamu baik-baik aja? Bagaimana dengan bekas luka operasi kamu?" tanya Mama Nayna dengan perasaan khawatir.
Tanpa Mama Nayna sadari, jika di belakang Arash ada Zia yang berdiri dan mendengar semuanya. Zia tersenyum tipis dan miring, di saat sang mama lebih perhatian kepada orang asing, ketimbang putrinya sendiri. Padahal, Bara sudah mengatakan jika dirinya sedang sakit datang bulan, tapi apa yang mama Nayna lakukan? Wanita itu malah tidak memberikan sedikit rasa perhatian untuk dirinya.
Bahkan, saat Papa Satria berjanji hari itu, di mana Satria dan Mama Nayna akan menginap di hotel bersamanya, Mama Nayna tidak datang dan memilih untuk tidur di samping putrinya yang terbaring lemah. Apa di tempat itu tidak ada orang lain yang bisa berjaga bergantian?
Rasa kecewa Zia pun semakin membesar kepada wanita yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkannya ke dunia. Bolehkan Zia merasa kecewa di saat-saat seperti ini?
"Arash baik-baik saja, Tante," sahut Arash dengan tersenyum kecil.
"Syukurlah, kamu harus menjaga makanan dan jangan lupa untuk meminum obat, Arash. Kamu juga harus istirahat yang cukup. Putri biar Tante aja yang jaga," ujar Mama Nayna.
"Iya, Tante."
Zia mendengus pelan sekali, gadis itu merasa lucu melihat mamanya saat ini. Dia seolah tidak mengenali siapa wanita yang ada di hadapannya saat ini. Apakah dirinya ini tidak berarti di dalam hidup mama Nayna? Sehingga sedikit rasa perhatian pun tidak pernah wanita paruh baya itu ucapkan. Bahkan, untuk melihat keadaannya saja, Mama Nayna tidak berpaling sedikit pun ke arahnya. Padahal selama ini, jika dirinya sedang datang bulan, Mama Nayna akan memberikan perhatian yang ekstra untuknya. Merawatnya dan bertanya setiap lima menit sekali tentang kabarnya. Tapi beberapa hari ini? Semua itu seolah tidak pernah Mama Nayna lakukan terhadapnya.
"Kenapa gak mati saja kamu, Mbak?" batin Zia dengan penuh rasa kesal, kecewa dan amarah kepada Mama Nayna yang dia tumpahkan kepada Putri.
Tit ... tiiit .. tiiit ...
Tiba-tiba saja suara mesin yang mengukur detak jantung Putri pun berbunyi cepat, sehingga membuat grafik yang tidak stabil di layar monitor. Hal itu pun membuat Arash dan Mama Nayna langsung menoleh ke arah Putri, detik selanjutnya Arash langsung bergerak cepat untuk menekan tombol darurat.
Darah Zia pun berdesir dengan cepat, di saat doa-nya seolah langsung di jabah oleh Allah. Tidak, Zia tidak bermaksud seperti itu.
Menyesal? Tentu saja, tapi Zia mencoba tenang dan menganggap semua itu bukan karenanya.
"Akkhh ..." ringis Arash di saat merasakan nyeri pada perutnya, di saat bergerak terlalu cepat.
Mama Nayna menoleh ke arah Arash yang meringis dan menahan sakit, kemudian menyadari jika Zia berada di antara mereka dan hanya berdiam diri di sana.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan, Zia? Kenapa malah berdiri saja? Cepat panggil Dokter," bentak Mama Nayna, sehingga membuat rasa sesal yang baru saja Zia rasakan, lenyap begitu saja.
Darah Zia seolah berhenti, di saat sang mama bukannya memberikan perhatian kepadanya, malah saat ini membentak dirinya.
"Tunggu apa lagi, Zia? Cepat panggil dokter," pekik Mama Nayna dengan air mata yang mengalir deras.
"Ini bukan jaman batu, Ma. Zia gak perlu berlari untuk memanggil dokter keluar kamar, karena sebentar lagi dokter akan tiba dengan berlari ke sini," jawab Zia dengan air mata yang berlinang di matanya.
"Kamu---"
Ceklekk ..
Benar saja, dokter dan tim medis lainnya masuk ke ruangan Putri dengan berlari. Mereka langsung memeriksa keadaan Putri yang kritis. Mama Nayna, Zia, dan Arash pun di perintahkan keluar dari ruangan tersebut.
Di luar ruangan sudah ada Mama Kesya, Papa Arka, Sifa, dan juga Abash.
"Mbak, tenang yaa, semua pasti akan baik-baik saja," ujar Mama Kesya yang sudah memeluk Mama Nayna dan menenangkannya.
Tak berapa lama, seorang perawat keluar dari ruangan Putri dan mengatakan jika saat ini gadis itu membutuhkan donor darah dengan segera.
"Zia, cepat kamu donorkan darah untuk mbak kamu. Ayo, sayang," titah Mama Nayna.
Zia mendengus pelan, gadis itu menggelengkan kepalanya dan menolak untuk mendonorkan darahnya.
"Zia? Apa maksud kamu?" tanya Mama Nayna dengan kening mengkerut.
"Setetes darah pun tidak akan Zia berikan, Ma. Zia tidak akan pernah mendonorkan darah Zia untuk dia," geram Zia dengan tangan yang terkepap kuat.
"Apa maksud kamu, Zia? Kenapa kamu tidak ingin mendonorkan darah untuk Mbak kamu? Hanya kamu saat ini yang memiliki golongan darah dengan Mbak kamu, selain papa," lirih Mama Nayna penuh penekanan.
"Enggak, Ma. Zia gak mau mendonorkan darah Zia untuk Mbak Putri."
"Ziaa ..." bentak Mama Nayna, sehingga membuat semua orang yang ada di sana pun mengernyitkan keningnya.
"Apa kamu ingin melihat Mbak kamu meninggal?" tanya Mama Nayna.
"Lebih baik dia meninggal, Ma," lirih Zia dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Plaaak ...
Sebuah tamparan pun mendarat di pipi Zia, sehingga membuat sakit di hati gadis itu semakin terasa nyeri.
"Ma, apa yang mama lakukan?" tanya Bara yang baru saja tiba di rumah sakit dan melihat jika Mama Nayna menampar adiknya itu.
"Tanyakan saja kepada adik kamu, Bara. Tanyakan saja, terbuat dari apa hatinya?" geram Mama Nayna.
"Dan Mama. Terbuat dari apa hati Mama? Apa Zia ini bukan anak kandung Mama? Apa sebenarnya Zia yang anak angkat Mama, bukannya Mbak Putri?" sahut Zia dengan air mata yang berlinang.
"Zia, kamu---"
"Ma, cukup," tahan Bara yang sudah berdiri di depan Zia.
"Bara, adik kamu---"
"Ma, jangan paksa Zia untuk melakukan apapun yang tidak dia sukai. Jangan paksa dia, Ma. Zia juga punya perasaan," ujar Bara dan memeluk adiknya itu.
"Bara, apa yang kamu katakan? Mbak kamu saat ini sedang membutuhkan donor darah dengan segera. Zia memiliki golongan darah yang sama dengan Putri, jadi sebagai saudara, sudah sepantasnya dia---"
"Ma, Bara tidak akan mengizinkan Mama untuk memaksa Zia untuk mendonorkan darahnya. Tidak akan," potong Bara cepat.
"Bara? Apa yang kamu katakan?"
"Papa sudah datang, bukankah golongan darah Papa sama dengan Mbak Putri? Jadi minta papa saja yang mendonorka darahnya," ujar Bara dan membawa Zia pergi dari tempat itu.
"Bara----" lirih Mama Nayna merasa geram dengan kedua anak yang telah dia kandung selama sembilan bulana.
"Ada apa ini, Ma?" tanya Papa Satria yang sudah berada di dekat Mama Nayna.
"Zia, Pa, Zia. Dia tidak ingin mendonorkan darahnya untuk Putri. Saat ini Putri sangat membutuhkan donor darah, hiks .. Tolong selamatkan, Putri, Pa. Tolong ..." mohon Mama Nayna.
Papa Satria menghela napasnya pelan, pria paruh baya itu pun menatap kepergian Bara dan Zia yang sudah menjauh dari pandangannya.
"Biarkan papa yang mendonorkan darah," ujar Papa Satria yang membuat Mama Nayna sedikit bernapas lega.
Tapi, di dalam hati Mama Nayna, masih ada rasa kecewaterhadap putri bungsunya itu, karena tidak ingin mendonorkan darah untuk putri sulungnya.
__ADS_1