
Apa? Jadi, kamu cewek sombong dang angkuh yang di bilang oleh Arash?"
Putri mengerjapkan matanya, gadis itu pun langsung menoleh ke arah Arash.
"Eh, itu bukan buat kamu kok," ujar Arash dan langsung memberi kode kepada Quin.
Quin yang paham pun menganggukkan kepalanya dan langsung mengambil alih perhatian Putri.
"Aku bercanda kok, jangan tegang gitu," ujar Quin yang sudah merangkul lengan Putri.
"Ayo, kita makan malam," ajak Quin dan berpamitan kepada Empus.
"Empus, Mama makan dulu ya. Kamu sana pergi main di taman," ujar Quin yang langsung di turuti oleh Empus.
"Peliharaan, Mbak?" tebak Putri, karena menurut gadis itu, jika si pemilik menyebut dirinya Mama, maka peliharaan itu adalah miliknya.
"Iya, peliharaan aku."
"Huaaa, keren Bangeet," seru Putri dengan takjub.
"Aku pernah minta beliin singa sama Papa, eh malah di beliin kucing. Gak di kasih Oma, lagian halaman rumah kami gak terlalu luas alasannya, padahal Oma takut sama singa," kekeh Putri yang langsung merasa akrab dengan Quin.
"Oh yaa? Nasib kita hampir sama, aku juga dulu hampir gak di kasih izin buat pelihara Empus sama Mama, karena bisa bikin orang takut. Tapi akhirnya dapat izin juga, berkat my Hero," ujar Quin sambil menunjuk ke arah Papa Arka.
"Aah, gitu ya. Hmm, enak banget. Aku malah di beliin lumba-lumba sama Papa, padahal aku mintanya buaya," ujar Putri yang mana membuat Quin membulatkan matanya.
"Buaya?" tanya Quin memastikan pendengarannya.
"Heum, tapi ya wajar aja sih kalau gak di kasih. Buaya itu beda cara jinakinnya dengan singa," ujar Putri.
"Iya sih," lirih Quin. "Abi, kamu pernah sikat giginya buaya?" tanya Quin kepada sang suami.
"Gak, makasih," jawab Abi sambil bergidik ngeri.
"Trus, lumba-lumbanya di mana?" tanya Quin.
"Di danau, di pelihara sama penjaga pantai. Aku sering ke sanan, berenang sama mereka."
"Oh ya? Waah, aku pingin dong berenang sama lumba-lumba," pinta Quin.
"Boleh, Mbak. lain kali kita ke sana ya," ajak Putri.
"Janji, ya."
__ADS_1
"Iya, Mbak."
"Selain buaya, hewan apa lagi yang kamu suka?" tanya Quin.
"Emm, ular, Mbak," jawab Putri. "Tapi ya itu, gak di kasih sama Papa, karena Mama takut ular," kekeh Putri.
"Ular?" tanya Quin.
"Iya, Mbak."
"Aku punya satu ular, tapi gak di bolehi nginap di rumah," ujar Quin.
"Oh ya, jadi ularnya nginap di mana?" tanya Putri.
"Di klinik suami aku. Lain kali kamu main-main ke toko kue aku, bersebelahan sama klinik suami aku, nanti kita bisa main sama berbi."
"Berbi?"
"Nama ular aku," jawab Quin.
"Boleh, di mana toko, Mbak?" tanya Putri.
Quin pun memberi tahu di mana toko kue yang dia kelola.
Quin dan Putri pun duduk di kursi mereka masing-masing, menikmati makan malam yang tersajikan saat ini.
Setelah selesai makan malam, Mama Kesya pun mengajak Putri untuk mengobrol di ruang keluarga. Putri pun melihat ke arah jam di dinding, di mana sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam.
"Om, Tante, sudah hampir larut malam. Sebaiknya Putri pulang ya," pamit Putri.
"Eh, iya. Maaf ya, keasyikan ngobrol jadi gak ingat waktu. Kamu pulangnya di antar Om Duda, ya," ujar Mama Kesya.
"Eh, jangan Tante. Putri pulang naik ojek aja," tolak Putri.
"Gak, kamu gak boleh pulang naik ojek. Biar di antar sama Om Duda aja, biar lebih aman dan Tante pun tenang."
"Iya, bener kata Mama, Put. Biar di antar sama Om Duda aja, ya," bujuk Quin juga.
Putri pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mama Kesya pun menyuruh asisten rumah tangga untuk memanggil Om Duda dan menyiapkan mobil untuk mengantar Putri.
"Terima kasih, Tante, Om, atas makan malamnya," ujar Putri.
"Sama-sama, Sayang. Terima kasih juga karena kamu sudah mau makan malam di sini," jawab Mama Kesya.
__ADS_1
"Iya Tante, sama-sama."
Putri pun mencium punggung tangan Mama Kesya untuk berpamitan.
"Lain kali mampir lagi ya, Put," ujar Quin.
"Iya, Mbak. Pasti. Putri senang bisa main sama Empus," ujar gadis itu dengan tersenyum.
Setelah kembali berpamitan, Putri pun masuk ke dalam mobil.
"Ma, Kenapa gak jodohi Putri sama Arash atau Abash aja?" tanya Quin.
"Kenapa?"
"Quin lgsg merasa klop aja gitu sama Putri," kekeh Putri.
"Kayak adik kamu mau di jodohi aja," ujar Mama Kesya. "Kamu aja di jodohi dulu gak mau, pake acara kabur dari jendela," kekeh Mama Kesya.
"Iih, Mama. Itu kan dulu," rengek Quin yang mana membaut Mama Kesya tertawa.
*
Mobil yang di tumpangi oleh Putri pun akhirnya tiba di apartemennya.
"Makasih ya, Om," ujar Putri kepada Om Duda.
"Sama-sama."
Putri pun turun dari mobil dan tersenyum kepada Om Duda, gadis itu pun menunggu hingga mobil yang di tumpanginya tadi pun berlalu, barulah dia masuk ke dalam apartemen.
"Malam Mbak Putri," sapa satpam.
"Malam, Pak," jawab Putri dengan tersenyum ramah.
Gadis itu pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar apartemennya.
"Hmm, ternyata keluarga Om Arka sangat baik dan ramah," lirih Putri. "Tapi, kenapa Pak Arash terlihat menyebalkan sekali?" kesalnya.
"Hmm, ternyata dia menilai aku sombong dan angkuh ya, gak masalah sih, lagian aku juga gak punya urusan apa-apa sama dia," gumam Putri berbicara sendiri.
Lift pun terbuka, gadis itu melangkahkan kakinya keluar lift dan menuju kamarnya.
"Hah, lelah banget. Rasanya pingin langsung tidur."
__ADS_1