
"Kok gak di balas?" send.
"Kok belum tidur?"
Saat Arash mengirimkan pesan kepada Putri, bersamaan dengan itu juga Putri membalas pesan pria itu. Senyuman Arash yang tadinya sudah luntur pun langsung berubah menjadi sebuah senyuman yang sangat indah sekali.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" send.
Bukan nya menjawab pesan yang di kirim oleh Putri, Arash lebih memilik kembali bertanya kepada gadis itu.
Tiga menit telah berlalu, akhir nya Putri kembali mengirimkan pesan kepada nya.
"Ini mau tidur."
Senyuman Arash pun kembali mengendur, di saat membaca tiga kata yang di kirim kan oleh Putri. 'Ini mau tidur'. Apa berbalas pesan dengan nya terasa sangat membosankan?
"Oh, ya sudah kalau begitu. Selamat tidur." send.
Arash pun langsung meletak kan ponsel nya kembali di atas meja. Pria itu kembali merebahkan tubuh nya di sofa dan mencoba untuk menutup mata dan melupakan tentang Putri.
Cling ..
Arash menoleh ke arah ponsel nya kembali, pria itu pun melihat notif pesan yang masuk dari Putri. Karena merasa jika Putri bosan berbalas pesan dengan nya, Arash lebih memilih untuk tidur dan mengabaikan balasan pesan tersebut.
*
Putri baru saja terbangun, karena merasa perut terasa lapar. Gadis itu pun bangkit dari tidur nya dan keluar kamar untuk mencari makanan apa yang ada di dapur.
Putri yang memang juga terbilang dekat dengan Om Martin dan Tante Riska pun, membuat gadis itu tidak merasa segan dan sungkan untuk mengobrak abrik dapur sahabat papa nya itu.
"Loh, Put," tegur Tante Riska yang juga baru tiba di dapur.
"Eh, Tante," sapa Putri dengan tersenyum lebar.
Tante Riska pun melihat sepotong roti yang ada di tangan Putri, sehingga membuat wanita paruh baya itu pun tersenyum.
"Lapar, ya?" tanya nya, yang mana di jawab anggukan oleh Putri.
"Tante kemarin ada beli kebab frozen, kalau kamu mau, kamu bisa memasak nya," ujar Tante Riska memberi izin kepada Putri.
"Iya, Tante, terima kasih banyak. Putri ambil ya kebab nya," ujar Putri meletakkan roti yang ada di tangan nya dan beralih kepada kebab yang ada di dalam kulkas.
Gadis itu pun tiba-tiba terdiam, kemudian mengurungkan niatnya untuk membuka lemari pendingin tersebut.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tante Riska yang melihat jika Putri tidak jadi mengambil kebab yang ada di dalam kulkas.
"Gak papa, Tan," jawab Putri dengan tersenyum kecil.
"Ah, Tante lupa," lirih Tante Riska dan berjalan menuju lemari pendingin.
Wanita paruh baya itu pun mengambilkan kebab yang ada di dalam kulkas dan memberikannya kepada Putri.
"Ini, kebetulan cup yang ini tinggal dua lagi," ujar Tante Riska sambil memberikan cup kebab yang ada di tangannya.
"Terima kasih, Tante." sambut Putri mengambil cup kekab yang di ulurkan oleh Tante Riska.
Melihat jika masih ada dua kebab lagi di dalamn nya, Putri pun menawarkan satu untuk Tante Riska.. "Tante, mau?" tawar Putri.
"Enggak, kamu aja. Lagian Om Martin tadi udah pesan pizaa juga, tetapi karena kamu sudah tidur, maka nya Tante gak bangunin lagi," ujar Tante Riska.
Ya, Om Martin tadi membeli piza untuk menemani nya bergadang. Tante Riska yang terkadang juga sering menemani sang suami bergadang pun, ikut menikmati makanan yang tersaji di sana.
"Iya, Tante."
Putri kembali mengambil roti yang dia letakkan di atas meja, kemudian gadis itu mengolesinya dengan selai coklat.
"Kamu mau susu?" tawar Tanter Riska.
Tante Riska pun membuat kan satu buah gelas susu untuk Putri, dan dua buah kopi untuk diri nya dan sang suami.
"Ini, sayang," ujar Tante Riska sambil menyodorkan segelas susu hangat kepada Putri.
"Terima kasih, Tante."
"Kalau begitu Tante duluan, ya," pamit Tante Riska yang di angguki oleh Putri.
Setelah kepergian Tante Riska, Putri pun memasak kedua kebab yang ada di dalam cup, kemudian membawa nya masuk ke dalam kamar bersama susu yang di buatkan oleh Tanter Riska untuk nya.
Gadis itu pun meletakkan nampan yang berisi kebaba dan susu ke atas meja, kemudian dia berjalan menuju kamar mandi dan mengambii wudhu.
Gadis itu berniat untuk melaksanakan sholat malam, sebelum menikmati cemilan larut malam nya.
Setelah sholat, Putri pun meraih ponsel nya yang berdenting, melihat siapa yang mengirimkan pesan di malam-malam begini.
"Araash?" lirih nya pelan dan membuka isi pesan tersebut.
Putri mengernyitkan keningnya, di saat membaca sebaris kalimat yang tertulis di layar pipihnya.
__ADS_1
"Tumben banget dia kirim pesan begini?" gumam Putri.
Gadis itu pun menatap jam yang ada di dinding. Ini sudah terlalu larut untuk menanyakan kabar, kan?
Walau bagaimana pun, Putri tetap membalas pesan tersebut.
Selagi menunggu balasan dari Arash, Putri pun membuka mukena nya dan menyimpan nya kembali. Gadis itu pun duduk di sofa yang ada di dalam kamar nya, kemudian menikmati kebab dan susu yang tersaji di atas nampan.
Sambil gadis itu makan, dia pun membalas pesan yang kembali masuk ke dalam ponselnya.
Putri menebak, jika Arash mengirimi nya pesan saat ini, karena ingin menghilangkan rasa sakit hatinya. Sebagai teman yang baik, Putri setidak nya harus menghibur pria itu, kan?
Baru saja Putri ingin membalas kembali pesan dari Arash, akan tetapi panggilan dari Soni pun masuk, sehingga membuat gadis itu menerima panggilan tersebut.
"Kenapa belum tidur?" tanya Soni saat panggilan video call nya sudah terhubung.
"Baru selesai sholat, terus laper," jawab Putri sambil menunjuk kebab yang ada di tangan nya.
"Kamu sendir, kenapa belum tidur?" tanya Putri.
Gadis itu sudah bisa menebak, pasti Soni baru saja selesai meeting dengan klien nya yang berada di negara yang berbeda. Cukup melihat jas yang masih pria itu kenakan saja, pasti dugaan Putri pun tidak salah.
"Baru selesai meeting," jawab Soni sambil melonggarkan dasi nya.
Kan benar dugaan Putri, jika Soni baru saja selesai meeting dengan kien nya.
"Sudah makan?" tanya Putri lagi.
"Makan malam bareng kamu tadi aja. Kalau sekarang belum ada lagi," jawb Soni. "Aku mau dong kebab nya," pinta Soni.
"Ke sini lah, biar aku kasih," ujar Putri yang mana membuat Soni tersenyum lebar.
"Aku otewe ke sana, ya?" ujarnya dan meraih kunci mobil.
"Eh, serius?" tanya Putri yang sebenarnya tadi hanya bercanda saja.
"Kamu yang suruh, jadi aku ada alasan untuk datang ke sana," jawab Soni. "Kalau gitu aku matiin dulu telponnya, mau nyetri."
"Hah? Ah, ya. Tapi, ini sudah malam," ujar Putri yang memang sangat tahu, jika Soni memiliki sifat yang pantang di pancing.
"Si Qatar masih terang," jawab Soni dan memutuskan panggilannya.
Putri pun menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke pesan nya bersama Arash, gadis itu pun dengan segera membalas pesan dari pria itu.
__ADS_1