
Kak Uli, Amel, Bima, Afgan dan Sifa pun mengikuti Arash menuju meja mereka.
"Put, aku ajakin mereka bergabung dengan kita, kamu gak papa kan?" tanya Arash dengan tersenyum manis.
Putri mengernyitkan keningnya, gadis itu pun mau tak mau menganggukkan kepalanya.
"Maaf, Anda pengacara yang sedang dekat dengan Pak Abash, kan?" tanya Afgan merasa penasaran.
"Hah?" Putri pun merasa bingung, perasaan dirinya tidak sedang dekat dengan pria mana pun, temasuk dengan Abash atau pun Arash.
Putri melirik ke arah Sifa, gadis itu pun merasa tak enak dengan pacar dari rekan bisnisnya itu. Di mana wajah Sifa sudah terlihat murung mendengar pertanyaan dari temannya.
"Saya gak punya hubungan apa-apa dengan Pak Abash. Saya dan Pak Abash hanya rekan kerja saja," tekan Putri yang tak ingin membuat Sifa salah paham.
"Jadi, tolong jangan menyebar gosip sembarangan," tegur Putri gak suka.
Melihat cara Putri yang berbicara dengan tegas, membuat Sifa merasa yakin, jika di antara Abash dan gadis itu memang tidak ada hal yang serius terjadi.
"Sepertinya Mbak Putri dan Mas Abash memang gak punya hubungan," batin Sifa. "Aku mungkin benar-benar sudah salah paham dengan mereka berdua," sambungnya dalam hati.
"Oh, begitu. Tapi, gosipnya sudah hangat banget di kantor, kalau Anda berpacaran dengan Pak Abash. Bahkan katanya kalian akan segera bertunangan," tambah Afgan.
"Dari mana kamu tau?" sambar Arash.
"I-itu, Pak, gosip," kekeh Afgan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan gugup.
"Kalau kembaran saya mau menikah, pasti saya yang pertama tahu," jawab Arash dengan tersenyum.
"Maaf, Pak. Saya hanya penasaran saja dengan gosip yang ada," ujar Afgan merasa tak enak.
"Minta maaf sama yang bersangkutan," titah Arash sambil menoleh ke arah Putri, yang diangguki oleh Afgan.
"Maaf ya, Buk," pinta Afgan kepada Putri.
__ADS_1
"Iya, lain kali jangan di ulangi ya," ujar Putri dengan tersenyum kecil.
"Makanya, lain kali mulut tuh di jaga," tegur Kak Uli kepada Afgan.
"Kan aku cuma penasaran aja, Kak. Dari pada aku termakan gosip yang gak bener?" balas Afgan dengan berbisik pula.
Bakso pesanan Arash dan Putri pun tiba, kemudian mereka meminta tambahan pesanan untuk Sifa, Amel, Kak Uli, Afgan dan Bimo.
"Kami duluan, ya," ujar Arash dan Putri hampir berbarengan.
"Silakan, Pak, Buk," ujar Kak Uli dengan sopan.
Arash yang melihat Putri memasukkan sambal dengan banyak pun, menegur gadis itu.
"Jangan banyak-banyak, nanti sakit perut," bisik Arash dengan tersenyum penuh arti.
"Iih, itu aku belum minum obat, ya," cibir Putri dengan memanyunkan sedikit bibirnya.
"Uhuukk .. Uhuk .... "
Tiba-tiba saja Sifa tersedak kuah bakso, Arash pun dengan sigap langsung memberikan air minum miliknya kepada gadis itu.
"Minum dulu," titah Arash yang mana membuat semua orang menoleh ke arahnya.
Bahkan, Bimo yang sudah memegang botol air mineral pun, langsung menghentikan pergerakannya untuk membuka tutup botol yang ada di tangannya.
"Pelan-pelan makannya, Sifa," tegur Arash sambil menepuk pelan punggung gadis itu.
"Ekhem, iya, Mas," lirih Sifa dengan pelan.
Putri yang memperhatikan cara Arash memberikan perhatian kepada Sifa pun, membuat gadis itu merasakan ada yang aneh dengan pria itu.
"Kok? Arash seperti naksir dengan Sifa, ya?" batin Putri. "Tatapan matanya juga beda banget cara natapnya."
__ADS_1
Arash pun mengambi tisu dan membersihkan sudut bibir gadis itu yang sedikit belepotan.
"Sa-saya bisa sendiri, Mas,'' ujar Sifa merasa tak enak kepada Arash dan yang lainnya, gadis itu pun mengambil tisu yang ada di tangan Arash dan membersihkan sendiri sudut bibirnya yang belepotan.
"Duh, Mas Arash ngapain sih pakai lap-in bibir aku? Ntar, kalau yang lainnya mikir macem-macem gimana? Apa lagi di sini ada Amel, takutnya dia salah paham lagi," batin Sifa merasa tak enak hati.
Setelah makanan mereka semua habis, Sifa, Amel, Bimo, Kak Uli, dan Afgan pun pamit pulang. Awalnya Arash sempat menawarkan tumpangan untuk Sifa, tetapi gadis itu menolaknya, karena dia akan pulang bersama teman-temannya. Arash pun tidak ingin memaksa gadis itu untuk ikut dengannya, karena melihat gelagat gadis itu yang merasa kurang nyaman dengan perlakuan yang dia berikan saat makan tadi.
"Kita pulang?" Arash pun mengajak Putri yang di jawab anggukan oleh gadis itu.
Saat di dalam mobil, Putri pun merasa penasaran dengan apa yqng dia pikrikan. Jadi, dari pada merasa penasaran dan berpikir yang macaem-macem, Putri pun memutuskan untuk menanyakan langsung apa yang sedang dia curigai saat ini.
"Emm, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Putri sambil menatap ke arah wajah Arash yang sedang fokus menyetir.
"Boleh, mau tanya apa?" tanya Arash balik dengan menoleh ke arah Putri sekilas.
"Apa kamu menyukai Sifa?" tebak Putri yang mana membuat Arash langsung tersenyum lebar.
"Apa sejelas itu?" jawab Arash yang mana membuat Putri membulatkan matanya.
"Kamu beneran menyukai Sifa?" tanya Putri dengan terkejut.
Arash pun menghentikan mobilnya di saat lampu jalan berwarna merah. Pria itu pun menoleh ke arah gadis yang sedang duduk di sebelahnya saat ini.
"Iya, aku menyukai Sifa," jawab Arash dengan tersenyum lebar dan penuh keyakinan.
Putri pun menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua tangannya.
"Gak mungkin?" lirihnya pelan.
"Hm? Kamu bilang apa?" tanya Arash yang mendengar samar dengan apa yang Putri katakan.
"Kalau Arash menyukai Sifa? Bagaimana dengan Sifa dan Abash?" batin Putri sambil menatap iba kepada Arash. "Kasihan dia."
__ADS_1