Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 461


__ADS_3

Zia menghela napasnya panjang dan pelan, setelah membaca pesan yang baru saja masuk ke dalam ponselnya.


"Haruskah aku menemuinya?" gumam Zia sambil menatap luas ke arah tanaman hias yang ada di taman depan.


Pesan yang masuk ke dalam ponsel Zia adalah pesan yang di kirimkan oleh pria bermasker. Pria itu mengajak Zia untuk kembali bertemu. Haruskah Zia menemui pria itu? Tapi, bagaimana jika Zia ternyata masih menyimpan perasaan untuk pria itu? Sedangkan dirinya sudah memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Ibra.


Lagi, Zia menghela napasnya. Kali ini gadis itu menghelanya dengan sedikit kencang.


"Ada apa, sayang?" tanya Mama Nayna yang ternyata sedari tadi memperhatikan sang putri.


"Hmm? Oh, enggak apa-apa, Ma," bohong Zia sambil tersenyum.


"Lalu, kenapa sedari tadi Mama perhatikan kamu menghela napas terus?" tanya Mama Nayna lagi.


Zia kembali tersenyum, gadis itu mengambil tangan sang mama yang ada di bahunya. "Beneran, Ma. Gak ada apa-apa kok. Zia hanya memikirkan pekerjaan saja."


Mama Nayna tersenyum mendengar jawaban sang putri. Wanita paruh baya itu pun mengusap punggung tangan sang anak.


"Apa kamu sedang memikirkan pangeran kodok itu?" tanya Mama Nayna dengan menggoda.


"Maaa …."


Mama Nayna pun terkekeh pelan, di saat melihat wajah kesal sang putri. Beberapa hari lalu, apa yang di katakan oleh Bang Fatih ternyata benar. Jika kediaman Bara akan di datangi oleh pangeran kodoknya Zia. Menurut Mama Nayna, pria yang di juluki pangeran kodok oleh Zia pun, nyatanya memiliki rupa yang begitu tampan. Bahkan, pangeran kodok itu juga berparas bule, karena orang tuanya yang menikah dengan warga negara Belanda.


Tapi, kenapa Zia bisa mengatakan pria tampan itu pangeran kodok? Apa Zia masih memiliki rasa trauma memiliki hubungan dengan pria yang berdarah Indo?


Ya, kalian masih ingat dengan sahabat Zia yang bernama Davidson kan? Saat Zia baru saja mengalami kecelakaan, sehingga menyebabkan dirinya tidak bisa berjalan. Davidson ingin memperbaiki hubungan mereka, sehingga membuat Zia memberikan kesempatan itu. Nyatanya, Davidson hanya ingin memanfaatkan Zia saja. Untung Bara cepat bergerak dan langsung membongkar semua kebohongan pria itu. (Eh, ini udah emak ceritain belum, ya? Kalau udah, gak papa ya di jelasin lagi. Emak lupa soalnya. hehehe…)


"Emm, Ma, ada yang ingin Zia katakan kepada Mama," ujar Zia menatap serius ke arah sang mama.


"Apa itu, sayang?" tanya Mama Nayna yang sudah berjongkok di depan sang putri.

__ADS_1


"Emm, sebenarnya Zia---"


"Maaf, Buk, mengganggu, ada telepon dari Pak Arash." Asisten rumah tangga tiba-tiba datang dan memotong pembicaraan Zia dan Mama Nayna. Andai saja panggilan dari Araash bukanlah hal yang penting, mungkin asisten tersebut tidak akan berani mengganggu pembicaraan Mama Nayna dan Zia.


"Ya, Mbok, ada apa?" tanya Mama Nayna yang sudah menoleh ke arah asisten rumah tangga tersebut.


"Ini, Buk, ada panggilan dari Pak Arash. Katanya ini sangat penting sekali," ujar asisten tersebut sambil memberikan gagang telepon kepada Mama Nayna.


"Arash?" Mama Nayna mengernyitkan keningnya sambil mengambil gagang telepon yang di berikan oleh asisten rumah tangga.


Jika Arash ingin menghubungi Mama Nayna, kenapa harus menggunakan telepon rumah?


Mama Nayna pun teringat, jika ponselnya sedang dalam pengisian daya. Maka dari itu, Mama Nayna tidak membawa ponsel bersamanya. Wanita paruh baya itu pun menempelkan gagang telepon itu ke telinganya, kemudian memberikan salam kepada orang yang ada di seberang panggilan.


"Assalamualaikum, Rash!" sapa Mama Nayna.


"Walaikumsalam, Ma, hiks .. Ma, Putri … Putri …"


"A-ada apa dengan Putri, Rash?" tanya Mama Nayna dengan jantung yang berdetak cepat.


Zia mengernyitkan keningnya, merasa jika ada sesuatu yang terjadi dengan sang kakak saat ini. Melihat bagaimana reaksi Mama Nayna yang sedang berbicara dengan orang yang ada di seberang panggilan.


"Putri, hiks .. Putri pingsan, Ma. Hiks … Sekarang kami sedang berada di IGD," ujar Arash memberi tahu.


"Apa?"


Mama Nayna langsung terduduk di lantai. Wanita paruh baya itu merasa jika kakinya terasa begitu lemah saat ini, sehingga tak mampu menampung tubuhnya lagi.


"Ada apa, Ma?" tanya Zia yang juga ikut merasa panik.


"Putri … Putri …"

__ADS_1


Zia pun meraih gagang telepon yang ada di tangan Mama Nayna, kemudian menempelkannya di telinga.


"Halo, Mas? Ada apa dengan Mbak Putri?" tanya Zia kepada orang yang ada di seberang panggilan.


"Hiks … Putri, Zi. Mbak kamu tak sadarkan diri. Saat ini sedang berada di IGD."


"Ya Allah … Kami akan segera ke sana, Mas." Zia pun memutuskan panggilannya dengan Arash. Gadis itu langsung menghubungi satpam yang berjaga dan menyuruh supir untuk menyiapkan mobil.


"Ma, Mama harus kuat. Mbak Putri pasti baik-baik saja," ujar Zia mencoba menenangkan sang mama.


"Putri, hiks … Putri …."


*


Mama Nayna sudah  menangis di dalam pelukan Mama Kesya. Kedua wanita paruh baya itu saling menangis dan berpelukan. Zia sudah menghubungi Bara dan Papa Satria yang sedang berada di Bandung. Beberapa jam lagi Bara dan Papa Satria pasti akan tiba di Jakarta.


"Zi," sapa Sifa yang ternyata juga ikut ke rumah sakit.


"Mbak!" Zia langsung menerima pelukan Sifa, kemudian gadis itu menangis di dalam pelukan sahabat sang kakak.


"Kamu yang sabar, ya. Putri pasti baik-baik saja," bisik Sifa mencoba menenangkan Zia.


"Iya, Mbak, hiks … Mbak Putri pasti kuat dan akan sembuh kembali."


Sebenarnya Sifa di larang oleh Abash untuk datang ke rumah sakit. Akan tetapi, wanita itu bersikeras untuk tetap pergi ke rumah sakit. Lagi pula, kondisi rumah sakit HH yang di miliki oleh keluarga Moza kan lumayan bersih. Pekerja cleaning servicenya juga selalu menggunakan SOP dalam pekerjaannya.


Abash pun akhirnya luluh di saat mendengar rengekan sang istri yang penuh dengan memohon, pria itu pun mengizinkan Sifa untuk ikut bersamanya di rumah sakit. Lagi pula, kondisi Putri memang benar-benar kritis saat ini.


"Kamu harus kuat, Zi. Doakan yang terbaik untuk kakak kamu. Kita ada di sini semuanya untuk mendoakan yang terbaik untuk Putri," bisik Sifa yang diangguki oleh Zia.


"Iya, Mbak. Terima kasih banyak."

__ADS_1


__ADS_2