Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 441


__ADS_3

Kedatangan Zia di rumah sakit pun langsung di sambut oleh tim medis yang sudah ahli dalam bidangnya. Gadis itu langsung di larikan ke ruang operasi, sedangkan Arash di larikan ke ruangan instalasi gawat darurat.


Papa Arka yang mendapatkan kabar tentang Arash dan Zia pun langsung bergerak menuju rumah sakit. Pengamanan untuk seluruh keluarga Moza pun di perketat.


"Bagaimana keadaan Zia?" tanya Papa Arka kepada Mami Anggun.


"Zia sedang berada di ruangan operasi, sedangkan Arash  berada di ruangan instalasi gawat darurat," jawab Mami Anggun. "Arash bersama Anggel saat ini," ujar Mami Anggun memberitahu.


"Baiklah." Papa Arka pun bergegas menghampiri sang putra untuk mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Arash!" tegur Papa Arka.


"Pa!" Mbak Anggel pun menyambut kedatangan Papa Arka, karena Arash harus mendapatkan pasukan osigen ke dalam paru-parunya.


"Bagaimana keadaan Arash?" tanya Papa Arka.


"Arash sudah mulai membaik, Pa."


Papa Arka pun menghampiri sang putra, dia menggenggam tangan Arash penuh dengan cinta.


"Apa mama tau?" tanya Arash kepada Papa Arka.


Papa Arka hanya menggelengkan kepalanya pelan. "Mama tidak tahu, tapi mungkin sebentar lagi mama akan tahu saat melihat berita," jawab Papa Arka.


"Bagaimana dengan Papa Satria? Apa beliau sudah tahu?" tanya Arash.


"Ya, mertua kamu sedang menuju ke sini saat ini."


Arash menghela napasnya berat, entah mengapa dia merasa bersalah karena telah meninggalkan Zia saat di restoran. Andai saja dia membawa Zia bersamanya, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi. Zia tidak akan mengalami luka parah pada kakinya.


Di tempat lain.


"Mas, aku ikut, ya?" mohon Sifa.


"Tidak, sayang. Saat ini keadaan sedang tidak baik-baik saja. Alangkah baiknya kamu berada di rumah mama untuk sementara," bujuk Abash.


"Mas, Zia begini juga karena aku, Mas. Aku mohon. Aku ingin melihat keadaan Zia." Sifa memohon sambil menangis sesenggukan, sehingga membuat Abash merasa tidak tega.


"Aku janji, aku tidak akan ke mana-mana. Aku menurut dengan kamu, Mas. Aku akan tetap berada di dalam perlindungan para pengawal," ujar Sifa meyakinkan sang suami.


Abash menghela napasnya berat, pria itu pun menarik sang istri ke dalam pelukannya.


"Kamu janji untuk tetap berada di dalam pengawasan pengawal, kan?" bisik Abash yang di jawab anggukan oleh Sifa.


"Iya, Mas. Aku janji."


Abash kembali menghela napasnya dengan berat, pria itu pun merelai pelukannya dengan sang istri. Tapi, sebelum dia merelai pelukan, Abash mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Sifa.


"Tetaplah dalam pengawan aku, sayang," bisik Abash yang diangguki oleh Sifa.


"Iya, Mas. Aku juga sudah memakai kalung yang kamu berikan waktu itu," ujar Sifa sambil menunjukkan kalung yang pernah Abash berikan kepadanya saat dulu.


"Baguslah," lirih Abash merasa lega karena ternyata Sifa terbilang cukup sigap menghadapi masalah. "Sekarang bersiaplah, aku akan menunggu kamu," titah Abash yang diangguki oleh Sifa.


"Iya, Mas. Aku tidak akan lama." Sifa pun berlari menuju kamar dan mengganti pakaiannya. Tak lupa dia mengambil tas untuk memasukkan ponsel miliknya.

__ADS_1


"Ayo, Mas, aku sudah siap."


Abash pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan sang istri.


"Ayo."


Sesampainya di rumah sakit, kedatangan Sifa langsung di jaga oleh para pengawal yang sudah Abash panggil sebelumnya.


"Kenapa kamu bawa Sifa ke sini?" tanya Papa Arka merasa kesal kepada sang putra. Abash membawa Sifa ke rumah sakit, itu sama saja akan membahayakan kondisi Sifa juga nantinya.


Memang, saat ini Papa Arka belum tahu duduk permasalahan yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi untuk melindungi seluruh keluarganya, pria paruh baya itu sengaja memperketat keamanan untuk keluarganya.


"Sifa bersikas minta ikut ke sini, Pa, karena dia merasa bersalah atas apa yang terjadi kepada Zia," ujar Abash memberitahu.


"Apa maksud kamu, Bash?" tanya Papa Arka.


Abash menghela napasnya pelan, pria itu pun mengajak Papa Arka untuk bebicara empat mata.


"Apa yang kamu katakan, Abash? Kenapa kamu baru memberitahunya sekarang?" bentak Papa Arka.


"Maafin Abash, Pa. Abash pikir kami bisa melawan wanita itu," sahut Abash dengan kepala tertunduk.


"Apa kamu tahu siapa orang yang berada di belakang wanita itu?" tanya Papa Arka yang mana membuat Abash menganggukkan kepalanya.


"Orang tuanya adalah seorang pengacara yang selalu membela para pejabat koruptor," jawab Abash.


"Seharusnya kamu cari tahu dulu siapa orang yang di balik wanita itu dengan baik dan teliti," kesal Papa Arka. "Jika hanya seorang pengacara pejabat koruptor, bagaimana bisa dia mengelabui kalian selicik ini?"


Abash mengernyitkan keningnya, perlahan kepala pria itu pun terangkat ke atas untuk memandang wajah Papa Arka. "Maksud Papa?"


Cukup satu kalimat yang terpenggal, Abash sudah paham apa yang di maksud oleh Papa Arka.


Ya, kemungkinan besar di balik Neli ada mafia besar yang tidak bisa mereka hadapi.


"Bagaimana dengan Bara? Apa dia sudah bisa di hubungi?" tanya Papa Arka mengambil alih perhatian Abash.


"Belum, Pa. Alat pelacak pada ponsel Bara juga secara tiba-tiba menghilang."


"Semoga saja Bara baik-baik saja," ujar Papa Arka dengan lirih.


"Iya, Pa."


Empat jam sudah berlalu, operasi kaki Zia pun masih belum juga selesai.


Di tempat lain.


Bara membuka matanya secara perlahan, pria itu merasa nyeri pada seluruh tubuhnya. Dia pun berusaha untuk bangkit dan keluar dari gedung kosong yang entah di mana tempatnya berada saat ini. Saat berada di luar gedung kosong itu. Bara pun bejuang untuk bisa segera tiba di pinggir jalan, atau setidaknya mendapatkan pemukiman warga.


Dengan langkah yang terseok-seok, dia terus berjuang bertahan agar bisa mengetahui kabar tentang adik kesayangannya itu. Hingga tibalah Bara pada sebuah kios kecil, di mana ada televisi yang sedang menayangkan berita di sana.


"Ma-maaf, apakah bisa membesarkan suara televisinya?" tanya Bara yang mana membuat si penjual kopi itu terkejut.


"Ka-kamu kenapa? Kenapa sampai bisa babak belur begini?" tanya pria paruh baya itu.


Para warga yang sedang menikmati kopi pun bergegas membantu Bara, memeriksa tubuh pria itu yang sudah penuh dengan luka lebam. Si pemilik kedai kopi kecil itu pun mengobati luka pada tubuh dan wajah Bara tak lupa dia memberikan baju kaos miliknya yang telah usang.

__ADS_1


"Pakailah, walaupun ini bukan baju baru, tapi baju ini bersih dan baru saja gosok oleh istri saya," ujar si penjual kopi sambil mengulurkan pakaiannya. "Setidaknya baju ini lebih nyaman dari baju kemeja kamu yang sudah penuh dengan darah."


Ya, Bara pun merasa tidak ingin memakai pakaiannya yang sudah penuh dengan darah itu, rasanya sungguh tidak nyaman sekali. Dengan terpaksa, Bara menerima baju bekas yang di berikan oleh si penjual kopi.


"Kenapa kamu bisa babak belur begini? Apa kamu di pukuli oleh para anak buah renternir?" tanya si bapak-bapak si penjual kopi itu.


"Tidak," jawab Bara pelan.


"Lalu?"


Siaran televisi pun kembali menayangkan tentang berita pengeboman yang terjadi di sebuah restoran termalah, ,di mana di sana ada Zia saat kejadian tersebut terjadi. Bara membesarkan matanya di saat melihat layar televisi kotak itu menampilkan wajah Arash yang sedang di bopong oleh petugas pemadam kebakaran. Tak jauh dari pria itu, ada se-seorang yang sedang di bopong dengan menggunakan tandu.


"Apa itu Zia?" batin Bara menajamkan penglihatannya.


Tangan pasien yang berada di dalam tandu pun terjatuh, menampilkan gelang yang melingkar di pergelangan tangan seorang wanita, di mana bentuk gelang itu hanya ada satu di dunia. Ya, gelang itu adalah milik Zia, di mana gelang tersebut adalah hadiah ulang tahun dari Bara untuk sang adik.


"Zia?" lirih Bara dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu kenal dengan orang yang ada di berita?" tanya bapak si penjual kopi itu.


"Iya, dia adik saya," jawab Bara menahan tangisnya.


"Menurut info yang diberitakan, keadaan korban terluka cukup parah. Korban di larikan ke rumah sakit HH untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik," ujar bapak penjual kopi memberitahu.


"A-apakah rumah sakit HH jauh dari sini?" tanya Bara.


"Ya, sekitar tiga jam jika ingin ke sana."


"Ba-bagaimana saya bisa ke sana?" tanya Bara. "Apakah ada taksi yang lewat di daerah ini?" tanya Bara lagi memastikan.


"Di sini tidak ada taksi. Jika kamu mau pergi ke kota, maka kamu bisa menumpang dengan mobil-mobil barang yang ingin menuju kota."


Bara pun bergegas berpamitan karena harus segera tiba di kota. Tak lupa pria itu berterima kasih atas bantuan yang diberikan oleh bapak penjual kopi tersebut. Bara berjanji, jika suatu saat nanti dia akan kembali dan membalas budi si bapak penjual kopi tersebut.


Pria itu pun mencoba menumpang pada mobil yang membawa kambing, agar bisa segera tiba di kota, lebih tepatnya di rumah sakit HH. Sesampainya di kota, Bara harus naik taksi untuk menuju rumah sakit HH. Untuk urusan biaya taksi, nanti akan dia pikirkan saat tiba di rumah sakit, karena saat ini sepeser uang pun Bara tidak memegangnya.


Seorang pengawal keluarga Moza yang melihat Bara keluar dari sebuah taksi pun langsung memberikan kabar keberadaan pria itu kepada kepala pengawal, kemudian menghampiri Bara yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Pak Bara?"


"Ahh, syukurlah kamu di sini," ujar Bara merasa lega.


Melihat lencana kecil yang terdapat dada bagian kiri pun, membuat  Bara tahu jika pria berpakaian hitam itu adalah pengawal dari keluarga Moza.


"Tolong bayarkan taksi ini, nanti saya akan mengganti uang kamu," pinta Bara yang langsung di turuti oleh pengawal tersebut.


Setelah membayarkan uang taksi, pengawal itu pun menuntun Bara untuk menemui Papa Arka.


"Apa orang tua saya sudah tiba di sini?" tanya Bara yang di jawab anggukan oleh pengawal tersebut.


"Ya, Pak."


Bara menghela napasnya berat, karena dia tahu pasti bagaimana terpukulnya sang mama jika mengetahui kabar tentang Zia.


Ah, mengingat tentang Zia, bagaimana kabar gadis itu sekarang? Apakah  dia baik-baik saja?"

__ADS_1


__ADS_2