
"Apa kamu merasa kecewa? Karena Putri kembali terselamatkan?"
Zia yang sedang menghirup udara segar demi mengisi rongga dadanya yang terasa sesak pun, menoleh ke arah sumber suara. Entah mengapa, melihat Arash saat ini membuat Zia juga ikut membenci pria itu. Andai saja Arash tidak menemukan Putri, mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi.
Zia enggan menjawab pertanyaan Arash, gadis itu lebih memilih untuk menghindar demi kewarasan dirinya dan juga perasaannya.
"Mau ke mana kamu?" tahan Arash yang sudah mencengkram lengan Zia.
Zia menggerutu kesal, gadis itu pun berusaha untuk melepaskan lengannya dari Arash.
"Akkkhh ..." ringis Zia, saat dirinya ingin memutar lengan Arash, ternyata pergerakan gadis itu telah terbaca oleh pria yang saat ini sudah mengunci pergerakannya.
Posisi Zia yang membelakangi Arash, dengan punggung gadis itu yang menempel di dada bidang pria itu pun, membuat Zia tidak bisa melepaskan dirinya.
"Jika kamu berharap agar Putri meninggal, maka aku tidak akan pernah membuat hidup kamu bisa bahagia," bisik Abash.
"Lepashh .." lirih Zia sambil memberontak.
Arash memegang lengan Zia yang satunya lagi, sehingga membuat satu tangan pria itu berada melintang di depan tubuh Zia. Jika orang lain melihat posisi mereka saat ini, maka akan terlihat jika Arash sedang memeluk Zia dari belakang.
"Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ada seorang adik yang mengharapkan kakaknya meninggal dunia," geram Arash dengan gigi yang rapat.
"Kamu tidak tahu apapun, jadi diamlah," sahut Zia tak kalah geram.
"Aku tahu, kamu itu gadis egois yang selalu ingin mendapatkan perhatian dari semua orang. Apa tidak bisa kamu membiarkan kali ini Putri mendapatkan perhatian yang lebih?" tanya Arash. "Selama ini Putri menyayangi kamu dengan penuh kasih sayang, tapi apa balasan yang telah kamu perbuat? Kamu malah berharap agar Putri meninggal?" tanya Arash sambil tertawa sumbang.
"Terbuat dari apa hati kamu, Zia?" bisik Arash.
Mata Zia sudah berembun, bahkan air yang menggenang di pelupuk matanya itu sudah tidak bisa terbendung lagi.
"Kamu orang asing, jadi tidak tahu apa yang telah terjadi sebenarnya," lirih Zia.
"Aku memang orang asing, tapi aku tau bagaimana besarnya rasa kasih sayang Putri terhadap kamu. Dia sangat---"
"Cukup---" bentak Zia yang sudah meneteskan air matanya. "Kamu hanya menilai dengan apa yang kamu rasakan dan lihat. Kamu tidak pernah menilai dari sisi orang lain," geram Zia.
Gadis itu pun kali ini mengumpukan tenaga dan melepaskan dirinya dari kuncian Arash. Zia pun menatap Arash dengan penuh kebencian saat ini.
"Ya, aku memang egois. Lalu kamu mau apa? Apa kamu merasa jika diri kamu itu bukan orang yang egois?" tanya Zia sambil tersenyum miring.
Zia mengusap air matanya dengan kasar. "Jika kamu sangat mencintai Mbak Putri, maka bahagiakan dia. Kalau bisa, jauhkan dia dariku." Setelah mengatakan hal itu, Zia pun pergi meninggalkan Arash.
"Seharusnya aku mendengarkan Mas Bara untuk tidak ikut ke rumah sakit," gumam Zia sambil mengusap air matanya dengan kasar.
Arash diam dan tertegun, saat melihat mata Zia yang terlihat penuh dengan rasa kekecewaaan dan terluka. "Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa dia yang terlihat sangat terluka di sini?" gumam Arash sambil menatap kepergian Zia yang semakin menjauh.
__ADS_1
Di sudut lain, Abash dan Sifa ternyata sedari tadi memperhatikan Arash dan Zia yang sedang berdebat dengan cara sedikit berbeda itu. Dalam pikiran Abash, entah apa yang Arash rasakan saat ini. Apa pria itu merindukan sosok Putri dan ingin memeluknya? Sehingga membuat kembarannya itu sampai memeluk Zia, di mana wajah Zia juga terlihat sangat mirip dengan Putri dan juga Mama Nayna.
"Mas, apa Mas merasa ada yang aneh dengan tatapan mata Mas Arash kepada Zia?" tanya Sifa yang mengambil atensi Abash.
Abash tersenyum, pria itu pun menggenggam tangan Sifa dan mengajak tunangannya itu untuk pergi dari sana. Nanti, pada saatnya yang tepat, Abash akan berbicara dengan Arash.
Abash dan Sifa pun menghampiri seluruh keluarga mereka yang berada di luar kamar Putri, terlihat raut kecemasan di wajah semua orang yang ada di sana.
"Ada apa, Ma?" tanya Abash menghampiri Mama Kesya.
"Putri tadi memberikan reaksi, tetapi kondisinya kembali drop," ujar Mama Kesya yang terlihat penuh kecemasan.
Abash teringat, jika pasti saat ini Arash tidak mengetahui apa yang terjadi dengan Putri. Pria itu pun menjauh dari Mama Kesya untuk menghubungi sang kembaran.
Drrtt .. drtrtt ...
Terdengar dua kali nada dering, hingga panggilan pun tersambung.
"Rash, kamu di mana? Cepat ke sini," titah Abash.
Arash yang mendengar perintah dari Abash pun, langsung bergegas berlari menuju ruangan Putri.
"Akhh ..." ringis Arash sambil menyentuh bekas jahitannya yang terasa nyeri.
Arash pun berlutut di lantai, rasa nyeri yang dia rasakan saat ini sungguh sangat menyakitkan.
Arash mendongakkan kepalanya, di saat melihat seseorang berdiri di hadapannya.
"Dasar lemah," cibir Zia yang berada di dekat Arash, saat pria itu berlutut kesakitan.
Zia merangkul lengan Arash dan membantu pria itu berdiri, kemudian menuntut Arash menuju kamar Putri.
"Kenapa kamu membantu aku?" tanya Arash saat mereka berjalan menuju kamar putri.
"Karena kamu sungguh terlihat menyedihkan," sahut Zia pelan.
"Aku menyedihkan karena aku---"
"Aku tidak peduli dan aku tidak mau tau apa yang sudah kamu lakukan untuk Mbak Putri. Anggap saja kita tidak saling kenal dan aku hanya menolong kamu saat ini," potong Zia cepat.
Arash yang sedang kesakitan pun, memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Zia. Bagi pria itu, saat ini dia harus menyimpan tenaganya untuk bertemu dengan Putri. Arash dapat merasakan, jika saat ini tangannya yang memegangi bekas luka jahitan operasi terasa basah. Mungkin itu semua terjadi karena Arash yang bergerak dengan cepat dan tidak hati-hati.
"Mas Arash, Zia?" lirih Sifa saat melihat dua orang itu datang bersamaan.
Abash mengernyitkan keningnya, di saat melihat Zia merangkul Arash saat ini. Di tambah lagi, pakaian Arash yang berwarna biru, sudah ternoda dengan darah.
__ADS_1
"Rash, kamu terluka? Sebaiknya kamu di periksa dulu," titah Abash.
"Tidak, Bash. Aku harus melihat keadaan Putri," lirih Arash menahan rasa sakitnya.
"Tugasku sudah selesai," ujar Zia dan melepaskan lengan Arash yang dia rangkul tadi.
Sreett ...
Tangan Zia tertahan, karena gelangnya tersangkut benang yang ada di pakaian Arash.
"Ck ..." Zia berdecak kesal, gadis itu pun berusaha untuk melepaskan benang tersebut.
"Tarik saja biar lepas," titah Arash.
"Enak saja. Gelang ini hadiah dari Mas Bara. Aku tidak akan merusak gelang kesayanganku ini karena baju rumah sakitmu itu," geram Zia.
"Kalau begitu gigit saja benangnya, biar putus," titah Arash lagi.
"Apa kamu tidak melihat gigiku? Gigiku saat ini sedang memakai behel, jadi sudah pasti aku tidak bisa memutuskan benang dengan gigiku," sahut Zia lagi dengan geram.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun mengambil pergelangan tangan Zia dan membawanya ke mulut. Arash menggenggam pergelangan tangan Zia, sehingga membuat pria itu dapat merasakan denyut nadi gadis itu. Di tambah lagi jarak mereka yang sangat dekat, membuat Arash dapat mendengar suara detak jantung Zia.
Deg ....
Tiba-tiba saja darah Arash berdesir, di saat mendengar suara detak jantung yang sama dengan Putri. Arash mendongakkan pandangannya untuk menatap wajah Zia.
"Apa? Cepat putuskan," titah Zia dengan jutek.
"Apa aku salah dengar?" batin Arash dan melanjutkan aksinya untuk memutuskan benang yang tersangkut di gelang Zia.
Setelah benang itu terputus, Arash langsung masuk ke dalam ruangan Putri.
"Dek, kamu baik-baik saja?" tanya Bara, saat benang yang berasal dari baju Arash telah terputus.
"Hmm, ya. Kita kembali sekarang?" tanya Zia balik.
"Zia, apa kamu tidak ingin melihat Putri?" Sifa yang selama ini memperhatikan adik dari calon iparnya itu pun, akhirnya membuka suara.
"Tidak, Mbak. Lagi pula keberadaan aku di sini tidak di harapkan," ujar Zia dengan lembut.
"Zia," panggil Papa Satria, sehingga membuat gadis itu menoleh.
"Masuklah, dan lihat Mbak kamu," ujar Papa Satria dengan wajah yang terlihat sedih dan sendu.
Deg ..
__ADS_1
Jantung Zia berdetak, di saat gadis itu memiliki firasat yang tidak enak. "Kenapa wajah papa terlihat sedih? Apa itu artinya Mbak Putri---" batin Zia yang tidak bisa lagi berkata-kata di dalam hati.
"Dek, sebaiknya kamu melihat Mbak Putri," bujuk Bara yang juga memiliki firasat yang tidak enak.