
"Eeh, jangan ke sana," pekik Abash yang mana menahan langkah Arash.
"Terus? Aku harus ke mana? Aku udah gak tahan lagi nih.. udah d ujung tanduk," lirih Arash sambil menahan rasa yang semakin ingin mendesak keluar.
"Kamar mandi yang di dapur aja, yaa ... kamar mandi yang di dapur," lirih Abash sambil berjalan cepat ke arah dapur dan membukakan pintu kamar mandi untuk sang kembaran.
Mata Abash pun terbelalak saat melihat pakaian dalam yang terjemur di dalam kamar mandi.
"Apa-apaan ini," lirihnya dengan mata melotot.
"Minggir!" seru Arash yang sudah berjalan mendekat ke arah kamar mandi.
Bammm ...
"Tidaaaak ...." pekik Abash sambil menutup pintu kamar mandinya dengan kuat, sehingga membuat Arash terkejut.
"Apaan sih, Bash?" kesal Arash yang sudah tak tahan lagi ingin membuang air kecil.
"Kita ke apartemen aku yang di lantai atas aja.. oke," titah Abash dan berjalan mendekat ke arah sang kembaran.
"Kamar mandi ini kenapa memangnya?" tanya Arash dengan wajah yang sudah di penuhi keringat dingin.
"Ini, itu... WC nya mampet. Yaa... Masih ada kotorannya di WC," ujar Abash mencari alasan.
"Dasar jorok, cepat suruh bersihkan dengan petugasnya," kesal Arash dan langsung berlari menuju kamar Abash.
__ADS_1
"Rash? Mau ke mana kamu? Ngapain ke kamar aku?" tanya Abash yang mana melihat sang kembaran sudah berlari ke arah kamarnya.
"Aku gak tahan lagi, udah mau keluar," pekik Arash sambil berlari.
Abash pun membelalakkan matanya dan langsung berlari mengejar sang kembaran.
Cekleekk...
Arash telah berhasil membuka pintu, di saat bersamaan, Abash pun menahan tubuh sang kembaran dengan menghalangi jalannya.
"Apaan sih, Bash?" pekik Arash yang semakin kesal dengan sikap aneh sang kembaran.
"Ki-kita ke apartemen aku aja yaa, yukk.. lebih nyaman kamar mandinya," ujar Abash membujuk sang kembaran.
"Puas kamu bikin aku kencing di celana?" kesal Arash dan mendorong tubuh sang kembaran dari hadapannya.
Abash mengerjapkan matanya, pria itu pun mengikuti Arash masuk ke dalam kamar dan mencari keberadaan Sifa.
'Di mana dia?' tanya Abash dalam hatinya.
"Kamu yang bersihi itu, aku gak mau. Itu salah kamu," pekik Arash dari dalam kamar mandi.
"Iya," jawab Abash sambil mencari keberadaan Sifa di dalam kamarnya.
Kreeekk ...
__ADS_1
Abash menoleh ke arah lemari, yang mana pintunya terbuka secara perlahan. Pria itu pun menghela napasnya dengan pelan.
"Pak Arash mana?" tanya Sifa dengan menggerakkan bibirnya.
Abash pun menunjuk ke arah kamar mandi. Terlihat Sifa menghela napasnya lega, wanita itu pun berniat untuk keluar dari dalam lemari.
"Abash," panggil Arash yang mana membuat Sifa kembali masuk ke dalam lemari.
Abash pun berlari cepat menuju lemari dan menahan pintunya.
"Ya?" pekik Abash.
"Sejak kapan kamu pakai shampo wangi melon?" tanya Arash dari dalam kamar mandi.
"Hanya koleksi saja, itu karena aku suka wanginya," pekik Abash.
Tak mendengar jawaban dari sang kembaran, Abash pun membuka pintu lemari di saat merasa aman. Pria itu ingin mengeluarkan Sifa dari dalam sana dan menyuruhnya keluar apartemen dengan cepat.
"Ayo keluar, sudah aman," bisik Abash yang di angguki oleh Sifa.
Sifa pun bersiap keluar dari dalam lemari, tetapi, suara pintu kamar mandi yang terbuka membaut Abash panik dan mendorong kepala Sifa untuk kembali masuk ke dalam lemari. Pria itu pun menutup dengan cepat pintu lemari.
"Cepat banget mandinya," ujar Abash kepada sang kembaran yang sudah keluar dari dalam kamar mandi dan menggunakan handuk bergambar hello Kitty.
"Emangnya aku itu kamu? Yang mandinya lama," sindir Arash. "But the way, sejak kapan kamu suka hello Kitty?" tanya Arash sambil menunjuk ke arah handuk yang menutupi bagian bawah miliknya.
__ADS_1