Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 160 - Pengacara cantik


__ADS_3

Hari ini, Putri kembali berkunjung ke perusahaan Abash, karena ada suatu pekerjaan yang harus dia bahas dengan Abash.


"Baik, Pak Abash, terima kasih atas waktunya. Sampai jumpa di lain waktu," ujar Putri sambil berjabat tangan dengan pria itu.


"Sama-sama."


Putri pun merapikan berkasnya dan memasukkan ke dalam tas.


"Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak Abash."


"Ah ya, mari, saya kebetulan juga mau keluar," ujar Abash dan mempersilahkan Putri untuk keluar duluan.


Abash dan Putri pun keluar dari lift secara bersamaan, mereka terlihat sedang mengobrol dan tersenyum.


"Lihat, Pak Abash cocok banget ya sama pengacara itu," bisik salah satu karyawan Abash kepada temannya.


"Iya, cantik, pinter, pengacara lagi. Setau gue, dia itu bukan pengacara kaleng-kaleng. Latar belakangnya aja sudah bikin merinding."


"Merinding gimana?"

__ADS_1


"Itu, dia itu anak dari pengacara sukses di Bandung, Bapaknya juga punya perusahaan properti atau apa gitu, gue juga kurang tau, yang jelas, dia itu bukan perempuan biasa."


"Hmm, kalau Pak Abash berjodoh sama dia, gue sih setuju-setuju aja kalau gitu, sadar diri."


Dan, pembahasan tentang Putri dan Abash pun berlanjut ke group kantor yang berwarna hijau.


Sifa memandang ponselnya, bahkan salah satu dari mereka ada yang sempat mengambil gambar Putri dan Abash tengah tertawa bersama. Ya, walaupun terlihat jika Abash hanya tersenyum tipis, tetapi sangat jelas sekali perubahan pada wajah pria itu, karena Abash memang sangat jarang sekali tersenyum.


"Patah hati sekantor ini, kalau Pak Abash beneran jadian sama pengacara cantik itu," ujar Uli sambil mendesah pelan.


Walaupun Uli sudah berkeluarga, akan tetapi dia masih mengagumi ketampanan bos besarnya itu. Ya, wajar saja kan kalau kita mengagumi seseorang.


"Ya, Mbak?"


"Itu, Foto Pak Abash dan pengacara cantik. Jangan di pandang lama-lama, karena sepertinya mereka terlihat sangat cocok sekali, kan? Hmm, yang satu tampan, yang satu cantik. Dua-duanya dari keturunan orang berada lagi. Hadew, sadar diri aja deh kita yang bukan siapa-siapa ini," ujar Uli sambil terkekeh.


Sifa hanya tersenyum dan kembali melihat foto yang ada di ponselnya.


"Memang terlihat sangat serasi," batin Sifa dengan perasaan perih yang menusuk-nusuk di hati.

__ADS_1


Sifa kembali teringat akan pertemuan dirinya dengan Putri, di mana gadis itu terlihat sangat cantik sekali walaupun tanpa make up yang menghiasi wajahnya.


"Tapi Mbak Putri kan udah tau kalau aku ini pacarnya Mas Abash. Apa yang harus aku khawatirin?" batin Sifa yang tiba-tiba saja untuk pertama kalinya dia merasa takut kehilangan Abash.


Jam istirahat kantor pun tiba, seperti biasa, Sifa selalu memilih untuk menikmati makan siangnya di balkon taman kantor yang ada di lantai kerjanya.


"Hmm, Mas Abash kok gak ada kirim pesan, ya? Dia udah makan siang apa belum?" lirih Sifa.


Gadis itu pun meraih ponselnya dan melihat pesan percakapan antara dirinya dan Abash.


"Ah, aku tanyain aja deh, lagi pula selama ini juga Mas Abash yang selalu kirim pesan duluan. Sekali-kali aku yang kirim kan gak masalah."


Sifa pun mengetik pesan untuk menanyakan kabar Abash.


"Mas di mana? Udah makan?" send.


Lima menit sudah berlalu, akan tetapi pesannya pun belum di baca atau pun di balas oleh sang kekasih.


Putri menghela napasnya pelan dan melihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang ada di seberang gedung tempatnya bekerja.Tiba-tiba saja ada seseorang yang datang dan membuatnya kaget.

__ADS_1


"Hayo, mikirin siapa?"


__ADS_2