Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 295 - Membuat kesalahan lagi


__ADS_3

"Terima hukuman kamu sayang."


Putri mengerjapkan matanya, jantungnya berdegup dengan kencang di saat wajah Arash semakin mendekat ke arahnya. Perlahan, mata Putri pun tertutup di saat gadis itu merasakan hembusan napas Arash yang mengenai kulit wajahnya.


Arash tersenyum, detik selanjutnya Putri memekik terkejut dan kegelian karena pinggangnya telah di gelitik oleh sang tunangan.


"Arash ... haa.. haa.. ha.. ampun, haa.. jangan gelitik ...ha..ha.." Putri terus tertawa kegelian, di saat Arash menggelitik pinggangnya.


"Ini hukuman kamu, sayang. Jadi kamu harus menerimanya," ujar Arash sambil ikut terkekeh.


"Ampun ... ha.. ha.. aku gak kuat, ampuun ..." pekik Putri kegelian, tetapi Arash terus menggelitiknya.


"Aku gak akan berhenti, sebelum kamu berjanji untuk tidak membohongi aku," Arash masih terus menggelitik pinggang Putri, sehingga membuat mata gadis itu terlihat basah.


"Tapi kan itu bukan salah aku," kekeh Putri di tengah tawanya yang kegelian.


"Saat kamu tau, kenapa gak bilang ke aku?" tanya Arash tanpa berniat untuk menghentikan tangannya untuk menggelitik pinggang Putri.


"Iya .. iya .. ampun, udah .. berhenti, aku gak kuat, aku mau pipis." Putri pun berusaha untuk melepaskan tangan Arash dari pinggangnya, tetapi rasanya percuma saja, gadis itu seakan kehilangan tenaganya di saat seperti ini.

__ADS_1


"Aku gak mau berhenti, sampai kamu benar-benar menyesali perbuatan kamu," kekeh Arash yang sangat suka melihat wajah sengsara Putri karena kegelian.


"Ampun .. Arash .. aku gak tahan, berhenti," pinta Putri.


"Gak mau," tolak Arash yang terus menggelitik pinggang sang tunangan.


"Araashh ..." pekik Putri setelah berhasil mengumpulkan semua tenaganya, gadis itu pun mencengkram kerah kemeja sang tunangan yang saat ini sangat menyebalkan di mata Putri.


Arash menghentikan pergerakan tangannya untuk menggelitik pinggang Putri, di saat yang bersamaan, Putri pun merasa panas di bagian sensitif nya.


"Hiks ...." rengek Putri di saat mulai merasa jika bajunya sudah basah.


Putri menundukkan kepalanya, sehingga membuat Arash ikut melihat apa yang saat ini Putri lihat.


Putri mengangkat pandangannya, gadis itu menatap tajam ke arah sang tunangan. Jangan di tanya lagi, bagaimana tajamnya tatapan mata Putri saat ini. Mungkin bisa di bandingkan dengan pisau silet yang sangat tajam.


Arash menelan ludahnya dengan kasar, pria itu pun mencoba untuk tersenyum dengan menampilkan giginya yang putri dan rapi.


"A-aku minta maaf," pinta Arash merasa bersalah.

__ADS_1


Putri mengepalkan tangannya, giginya menggeram kesal, matanya pun menatap Arash seolah sedang mengikuti kulit pria itu.


"Maaf, sayang. Maaf," pinta Arash dengan gugup.


"Euugghh... dasar nyebeliinn ..." pekik Putri kesal dan memukul Arash dengan geram.


"Ampun ... sayang, sayang. Aku cuma bercanda," mohon Arash dan menahan pukulan sang kekasih yang terasa sangat sakit.


"Bercanda? Kalau begitu aku sekarang juga bercanda," kesalnya dan menjambak rambut Arash.


"Aww ... ampun sayang, ampuun ..." pinta Arash sambil berusaha melepaskan rambutnya dari dari cengkraman tangan Putri.


"Nyebeliinn ..." pekik Putri dengan geram.


"Ampun, sayang. Ampun. belum nikah jangan KDRT dulu dong, ntar kalau aku botak sebelum nikah gimana?" ujar Arash yang mana membuat Putri akhirnya melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Arash.


Arash mengusap kepalanya yang terasa perih, kemudian pria itu mengambil tangan Putri dan menggenggamnya dengan hangat.


"Aku minta maaf, ya." ujar Arash benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


"Maafin aku, sayang. Maafin aku," mohon Arash dan mengecup punggung tangan Putri berkali-kali.


"Aku mau pulang, hiks ..." rajuk Putri yang mana membuat Arash semakin gelisah


__ADS_2