
"Kalian?"
Arash dan Sifa sedikit terkejut dengan kehadiran suami istri yang ada di hadapannya saat ini.
"Mama, Papa," lirih Arash.
Mama Kesya tersenyum dan langsung melirik ke arah Papa Arka.
"Kalian mau makan juga?" tanya Mama Kesya.
"Iya, Mama dan Papa juga?" tanya Arash balik.
"Siapa bilang kami mau makan," ujar Papa Arka yang mana membuat Sifa mengerutkan keningnya.
"Lalu?"
"Kami mau nostalgia aja di sini," ujar Papa Arka yang mana membuat Arash memutar bola matanya malas.
"Ya udah yuk, Masuk. Di luar dingin," ujar Mama Kesya dan merangkul lengan sang suami.
"Tuan Arka lucu ya," cicit Sifa
"Lucunya?" tanya Arash.
"Hah? Oh, itu, lucu aja gitu, pantesan aja Tante Kesya selalu terlihat awet muda. Punya suami yang humoris," kekeh Sifa.
__ADS_1
"Kamu kepingin punya suami yang humoris?" tanya Arash.
"Hah? Gak juga sih. Saya gak terlalu pilih-pilih. Lagian saya juga belum ada kepikiran ke sana, Pak," ujar Sifa dengan tersenyum.
"Bagus lah, sebaiknya kamu fokus dengan kuliah kamu, terus cari kerja. Soal pasangan, nanti pasti akan datang sendiri," ujar Arash.
"Iya, Pak. Bapak benar."
Sifa dan Arash pun masuk ke dalam restoran tersebut, mereka duduk di mana Papa Arka dan Mama Kesya duduk.
"Kamu mau pesan apa, Sifa?" tanya Mami Kesya.
"Apa aja, Tante. Yang penting gak pake nasi," ujar Sifa sambil terkekeh.
Mama Kesya pun memesankan sop iga yang terkenal sangat enak dan paling best seller di restoran tersebut.
"Satu banyakin sayurnya ya, karena si cantik ini gak suka makan nasi, cuma makan sayur aja," ujar Mama Kesya kepada si pemilik restoran sederhana itu.
"Oke, gampang itu. Untuk pelanggan setia apapun akan di laksanakan."
Setelah memesan, Mama Kesya pun memandang penuh curiga ke arah Sifa dan Arash.
"Kalian punya hubungan apa? Kenapa bisa bareng gini?" tanya Mama Kesya dan menatap lekat ke arah sang putra dan Sifa.
"Gak punya hubungan apa-apa, Ma. Kebetulan aja tadi Sifa di kantor polisi sedang memberikan laporan tentang penganiayaan."
__ADS_1
Arash pun mulai menceritakan tentang apa yang terjadi kepada Sifa sehingga bagaimana bisa gadis itu berakhir memberika laporan di kantor polisi.
"Oh, jadi gitu ceritanya. Eh tapi, kalian kok bisa kenal sih? Kenal di mana?" tanya Mama Kesya kepo.
Arash mulai kembali bercerita tentang pertemuan pertama dirinya dengan Sifa, yang mana membuat Mama Kesya tertawa terbahak-bahak.
"Serius, Sifa? Kamu bilang begitu? tanya Mama Kesya yang mana mengingatkan dirinya kaan film Bollywood.
"Iya, Tante. Habisnya di tanya-tanyain begitu, kayak Sifa ini teror*s aja," ujar Sifa sambil melirik ke arah Arash yang saat ini sedang tersenyum.
"Eh tapi, kamu ini termasuk wanita pemberani yaa. Sepeti seseorang," ujar Mama Kesya dan melirik ke arah sang suami. "Iya kan, Mas?" tanya Mama Kesya kepada Papa Arka.
"Iya, persis Mbak Sasa. Tapi bedanya Sifa ini gak bisa bela diri. Modal nekad. Om harap kamu harus lebih berhati-hati, Sifa. Menolong orang itu boleh, tapi lihat situasi dan kondisi juga. Alangkah baiknya jika kamu langsung menghubungi polisi," ujar Papa Arka.
"Iya, Om. Terima kasih nasehatnya."
Tak berapa pesanan makanan mereka pun tiba. Mama Kesya, Papa Arka dan Arash lun menikmati makanan mereka.
"Gimana Sifa? enakkan kan?" ujar Mama Kesya.
"Iya, Tante. Enak banget. Dagingnya lembut."
"Komentar kamu sama seperti Abash saat pertama kali Tante ajakin ke sini," ujar Mama Kesya.
Mendengar nama Abash di sebut, Sifa pun entah kenapa jadi kepikiran dengan bosnya itu.
__ADS_1