
"Pak, apa ini sudah benar?" tanya Sifa saat pekerjaannya telah selesai.
"Sebentar." Abash mengetikkan sesuatu di layar komputernya, kemudian pria itu bangkit dan menghampiri Sifa yang duduk di sofa.
Entah Abash yang tak hati-hati atau memang karpet itu saja yang salah, sehingga membuat pria itu tersandung dan terjatuh.
Sifa yang terkejut menoleh, hingga gadis itu membelalakkan matanya di saat sang bos kehilangan keseimbangannya dan terjatuh ke atasnya.
Bruk...
Masih dengan mata yang melotot, gadis itu langsung terdiam membeku saat bibirnya menempel sempurna di bibir sang bos.
Abash langsung berdiri dan memberikan jarak di antara mereka.
"Maaf, gak sengaja," ujar pria itu seolah hal tersebut bukanlah hal yang besar.
Sifa masih tak percaya dengan apa yang terjadi, baru saja semalam sang bos ingin menciumnya, tapi sekarang hal itu saat ini telah terjadi.
"Yang mana yang mau saya periksa?" tanya Abash membuyarkan lamunan Sifa.
"Hah? Oh, yang ini, Pak."
Abash pun memperhatikan layar laptop yang di berikan oleh Sifa. Pria itu meneliti satu persatu coding yang tertera di layar hitam itu.
'Tenang Bash, kenapa lonjadi grogi gini sih?' batin Abash masih dengan fokus ke layar laptop.
'Pak Abash kok santai banget sih? Kayak gak terjadi apa-apa tadi,' batin Sifa melirik ekspresi sang bos yang terlihat sangat tenang.
"Oke, udah bagus. Lanjutkan," titah Abash yang mana membuyarkan lamunan Sifa.
Tak berapa lama Bimo pun kembali, Abash langsung memerintahkan Bimo untuk mengerjakan pekerjaan yang lain.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah, Abash yang memang gila kerja selalu lupa untuk makan siang, kecuali jika ada yang mengingatkan.
Pintu ruangannya di ketuk, pria itu hanya menyahut dan menyuruh orang yang berada di balik pintu itu untuk masuk.
"Mama ganggu?" ujar Wanita paruh baya dengan senyum yang mengembang.
"Ma!" Abash langsung berdiri dan menyambut kehadiran sang mama.
Sifa dan Bimo pun juga ikut berdiri, karena ratu Moza telah hadir ke ruangan bos mereka.
"Loh, ada Sifa juga?" ujar Mama Kesya dan menghampiri gadis itu.
"Iya Tante," jawab Sifa dengan tersenyum ramah.
Bimo melirik ke arah bos dan Sifa, merasakan ada sesuatu yang aneh di saat ratu Moza itu menghampiri Sifa dan mencium pipi kiri dan kanan gadis itu.
"Ini siapa?" tanya Mama Kesya kepada Bimo.
"Perkenalkan, saya Bimo, Nyonya," ujar Bimo memperkenalkan dirinya.
__ADS_1
"Saya Mama Kesya, mamanya Abash,"
"Iy, Nyonya. Saya sudah mengenal Nyonya." ujar Bimo dengan tersenyum kikuk.
"Jangan panggil Nyonya, panggil Tante aja ya," titah Mana Kesya.
Bimo melirik ke arah Sifa, gadis itu malah mengendikkan bahunya. Kemudian dia melirik ke arah sang bos, sehingga Abash menganggukkan kepalanya.
"Iya, Ta-tante."
"Nah, gitu dong. Oh ya, kalian pasti belum makan siang kan? Mama udah bawaain makanan untuk kalian," ujar Mama Kesya dan memerintahkan pengawalnya untuk masuk dan menghidangkan makanan.
"Tapi__" Abash menggantung ucapannya, pria itu melirik ke arah Sifa dan Bimo.
"Tenang aja, Mama bawa banyak kok."
Abash menganggukan kepalanya dan menyuruh Abash dan Sifa untuk menghentikan pekerjaan mereka.
"Ayo makan," ajak Mamak Kesya kepada Sifa dan Bimo. Kedua orang itu saling memandang.
"Kok malah bengong? Ayo sini, makan," titah Mama Kesya yang mana langsung di turuti oleh Sifa dan Bimo.
Makan siang ini sungguh terasa spesial bagi Bimo, karena makan siang kali ini di hidang oleh ratu keluarga Moza.
*
Sifa baru saja keluar dari kantor, mengayuh sepedanya di pinggir jalan.
Sifa terkejut saat seorang pria memukul seorang wanita tanpa perasaan di depan hadapannya. Merasa wanita itu butuh pertolongan, Sifa pun menghentikan mengayuh sepeda dan menolong wanita tersebut.
Di snaa banyak orang yang berlalu lalang, akan tetapi tak ada yang berani untuk membantu wnaita tersebut. Tapi, salah satu dari mereka telah melapor ke polisi.
"Hentikan," pekik Sifa sambil menarik tubuh wanita itu ke belakangnya.
"Jangan ikut campur Lo" pekik pria itu dengan emosi yang menggebu-gebu.
"Anda seharusnya malu karena telah memukul seorang wanita," pekik Sifa dengan lantang dan tanpa takut.
"Dasar brengsek, gue bilang jangan ikut campur, ya jangan ikut campur." pekik pria yang sepertinua sedang di bawah pengaruh alkohol.
"Tolong saya, mbak," lirih wanita yang sudah babak belur itu.
"Gue bakal lapor ke polisi," uajr Sifa dan meraih ponselnya.
Saat dia gadis itu mengeluarkan ponselnya, pria itu memukul tangan Sifa sehingga ponselnya terjatuh dan hancur.
Sifa menatap tajam ke arah pria itu, akan tetapi gadis itu langsung melindungi wajahnya di saat pria mabuk itu ingin memukulnya.
Sifa menanti rasa sakit itu, akan tetapi gadis itu tak merasakan apapun, sehingga perlahan Sifa menurunkan tangannya.
Sifa langsung menoleh ke arah pria yang berdiri di hadapannya dengan melindungi dirinya.
__ADS_1
"Pak Arash," lirih Sifa.
Arash menoleh ke belakang dan tersenyum ke pada Sifa.
"Kamu gak papa?" tanya Arash.
Sifa menganggukkan kepalanya, setelah memastikan keadaan gadis itu, Arash langsung memelintir tangan pria mabuk itu dan membawa tangan pria itu ke punggungnya.
Dengan gerakan cepat, Arash memborgol tangan pria itu dan menyuruh anak buahnya untuk menahannya.
"Anda gak papa?" tanya Arash kepada wanita yang sudah babak belur.
"Di-dia ingin menjual saya, tolong saya, pak, hiks," tangis wanita itu sambil berlutut di bawah kaki Arash.
"Iya .. iya ... sekarang kamu aman." Arash menyuruh wanita itu berdiri, kemudian dia serahkan kepada polisi wanita untuk di lindungi.
"Makasih banyak ya, Pak. Kalau bapak gak datang, bisa-bisa saya juga ikut babak belur," kekeh Sifa.
"Kamu juga, berani banget sih? Saya pikir kamu bisa bela diri, makanya seberani itu," ujar Arash dengan menggelengkan kepalanya.
"Saya gak bisa bela diri, Pak. Tapi saya juga gak bisa lihat orang di tindas di depan mata saya," ujar Sifa sambil terkekeh.
"Kamu ini, lain kali jangan ceroboh seperti ini. Ini bisa membahayakan kamu," Ujar Arash.
"Iya, Pak."
"Ya sudah kalau gitu, kamu lagi gak sibuk kan?" tanya Arash.
"Gak, Pak. saya baru pulang kerja, kenapa?"
"Ikut ke kantor polisi, buat laporan ke kantor atas kejadian ini."
"Oh, bisa pak."
Sifa menoleh ke arah sepedanya, gadis itu tersenyum dan langsung pamit kepada Arash.
"Naik sepeda?" tanya Arash.
"Iya, Pak. Lagian Deket juga."
"Kamu naik sama saya aja, sepedanya biar di bawa dengan anak buah saya."
"Tapi___"
"Gak ada bantahan, ayo."
Sifa menghela napasnya pelan, gadis akhirnya mengikuti Arash ke kantor polisi dengan menggunakan mobil polisi bersmaa Arash.
...Jangan lupa Vote, Like, and komen ya .....
...Salam sayang dari Abash n Sifa...
__ADS_1
...Follow IG Author : Rira Syaqila...