
Putri menatap penampilan dirinya di cermin. Wajah cantiknya yang di hiasi dengan singer sunda pun membuat penampilannya semakin terkesan ayu. Bahkan, siapapun yang melihat wajahnya saat ini, di pastikan tidak akan bisa berkedip, karena tidak ingin melewatkan kecantikan Putri yang bagaikan bidadari dunia.
"Mbak-nya siapa ini?"
Terdengar suara Zia dari sambungan panggilan selullar, sehingga membuat Putri menoleh ke arah belakang. Di sana sudah ada Mama Nayna yang sedang memegang ponsel.
"Ziaa ..." seru Putri dengan perasaan bahagia.
"Selamat ya, Mbak, akhirnya Mbak menemukan pangeran berkuda," kekeh Zia dari seberang panggilan.
"Makasih, Dek. Tapi, sebenarnya Mbak lebih bahagia kalau kamu di sini," lirih Putri dengan sendu.
"Maaf, Mbak, aku gak bisa hadir. Aku lagi ujian, Mbak. Jadi .. Yaa ... demi segera lulus, aku gak boleh bolos kuliah kan, Mbak," ujar Zia dengan tersenyum kecil.
"Iya, Mbak ngerti kok."
"Mbak terlihat sangat cantik hari ini. Aku doain semoga acaranya berjalan lancar ya, Mbak."
"Amin, makasih Zia."
"Iya, Mbak. Ya sudah kalau gitu, aku tutup dulu ya, Mbak. Udah ngantuk banget ini," izin Zia.
"Iya, Dek. Kamu jaga kesehatan ya di sana. Pokoknya pas liburan kuliah, kamu harus pulang," pinta Putri.
Zia hanya tersenyum, tanpa ingin menjawab permintaan sang kakak.
"Baik-baik di sana, Sayang. Selamat tidur," ujar Mama Nayna sebelum memutuskan panggilannya.
Mama Nayna menghela napasnya pelan, kemudian menatap wajah Putri yang terlihat mirip dengan dirinya dan juga Zia.
"Ma, boleh Putri minta hadiah pernikahan yang spesial?" pinta Putri dengan wajah memohon.
"Apa itu sayang?" tanya Mama Nayna.
"Zia di mana, Ma? Kenapa hanya Putri yang tidak boleh mengetahui di mana dia berada?" tanya Putri dengan sendu.
Mama Nayna menangkup pipi Putri, putri sulungnya yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya itu.
"Maaf, sayang, Mama tidak bisa mengatakannya. Mama sudah berjanji dengan Zia untuk merahasiakannya," ujar Mama Nayna dengan suara yang sendu juga.
"Tapi, kenapa Ma? Kenapa Zia seolah menghindar untuk bertemu Putri?" lirih Putri lagi.
__ADS_1
Mama Nayna hanya bisa menatap putrinya itu dengan sendu, wanita paruh baya itu tidak bisa mengatakan apa-apa tentan alasan Zia untuk pergi menjauh dari kehidupan mereka. Karena pada dasarnya, semua ini adalah kesalahan dirinya. Karena satu kesalahan Mama Nayna, membuat ketiga anak-anaknya menjadi korban keegoisan dirinya. Tapi, Zia memilih untuk menyalahkan dirinya sendiri, karena telah mengucapkan hal yang tidak pantas untuk sang kakak yang sedang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Semua ini karena kesalahan Mama, sayang. Karena Mama, Zia pergi," ujar Mama Nayna dengan air mata yang berlinang.
Melihat mata sang mama sudah di genangi air mata, membuat Putri tidak lagi tega memberikan pertanyaan-pertanyaan tentang kepergian Zia--sang adik.
"Tante, Put," tegur Luna, saat masuk ke dalam ruang ganti Putri.
Putri dan Mama Nayna pun menoleh ke arah sumber suara, di mana di sana terlihat wanita berhijab dan berwajah ayu sedang tersenyum.
"Semuanya sudah menunggu," ujar Luna memberitahu.
Mama Nayna menoleh ke arah sang putri yang sudah terlihat sangat cantik sekali.
"Apa kamu siap, sayang?" tanya Mama Nayna.
"Bismillah, Putri siap, Ma."
Dengan di dampingi Mama Nayna dan Luna, Putri pun berjalan keluar menuju ke tempat pernikahan yang sudah di sediakan. Terlihat di sana Arash sudah duduk di kursinya, di mana di hadapan pria itu terlihat Papa Satria yang juga sudah terlihat tampan, walaupun umurnya sudah tidak muda lagi.
Luna pun mengantarkan Putri ke tempat duduknya, di mana gadis itu akan duduk di samping Arash dan mendampingi pria itu untuk mengucapkan ijab qabul.
"Kamu terlihat sangat cantik, Put," bisik Arash yang tidak bisa memalingkan wajahnya dari calon istrinya itu.
"Sudah dulu ngobrolnya, ya. Biar kita bisa mulai acara ijab qabulnya," tegur Pak penghulu yang mana membuat Arash dan Putri tersenyum malu.
MC memimpin acara akad nikah Putri dan Arash, di mana acara tersebut akan di buka dengan pembacaan ayat suci al-quran dan di lanjutkan dengan ceramah atau pemberian nasehat yang akan di sampaikan oleh penghulu. Setelah semuanya selesai, barulah acara ini masuk ke intinya, di mana acara ijab qabul akan segera di mulai.
Penghulu pun menyuruh Arash dan Papa Satria untuk berjabat tangan, dengan di saksikan oleh dua orang saksi dari kedua belah pihak, maka acara ijab qabul pun siap di ucapkan dengan lantang.
Papa Satria pun mengucapkan bagiannya atas perintah dari penghulu dengan satu tarikan napas, kemudian kalimat tersebut di sambut oleh Arash dengan suara yang lantang dan tegas, da, pastinya dengan satu tarikan napas juga. Suara Arash yang terdengar sangat lantang dan tegas tanpa ada rasa keraguan pun, membuat seluruh para tamu undangan dan keluarga yang hadir, merasa merinding, hingga suara sah di ucapkan oleh kedua saksi yang mana membuat hati para tamu undangan bergetar dan merasa ikut bahagia.
Ucap syukur pun terucap dari semua orang yang ada di ruangan tersebut. Begitu juga dengan Zia yang sedang melakukan panggilan video call dengan Sifa dan ikut menyaksikan akad nikah sang kakak.
"Terima kasih, Mbak Sifa," ujar Zia sambil mengusap air matanya yang membasahi pipi.
"Sama-sama," sahut Sifa dengan lembut.
Panggilan pun berakhir, Sifa menyimpan kembali ponselnya.
"Kamu masih sering berhubungan dengan Zia?" bisik Abash yang duduk di samping sang tunangan.
__ADS_1
"Iya, kenapa Mas?" tanya Sifa.
"Gak papa." Abash tersenyum dan mengambil tangan Sifa, kemudian mengecup punggung tangan sang tunangan dengan cepat.
"Mas?" tegur Sifa dengan pelan.
"Namanya juga ambil kesempatan dalam kebahagiaan," ujar Abash sambil mengedipkan matanya sebelah.
"Yang bener itu mengambil kesempatan dalam kesempitan, Mas," Sifa pun membenarkan perkataan sang kekasih.
Setelah ijab qabul selesai, Putri pun harus mencium punggung tangan Arash untuk pertama kalinya sebagai seorang istri. Sedangkan Arash mendaratkan sebuah kecupan di kening Putri sebagai seorang suami.
"Pingin cium di tempat lain yang lebih menggoda, tapi takut kena pukul Mama," bisik Arash sambil terkekeh.
"Dasar mesum," cibir Putri sambil mencubit pelan perut Arash.
Setelah semuanya selesai, saatnya Arash dan Putri sungkeman dengan Mama Nayna, Mama Kesya, Papa Satria, dan Papa Arka.
"Satu pesan saya, Rash, jangan pernah kamu sakiti Putri," bisik Papa Satria.
"Iya, Pa. Saya janji, saya akan membahagiakan Putri dan menjadikannya satu-satunya untuk saya," janji Arash.
Setelah acara sungkeman selesai, saatnya para tamu undangan dan seluruh keluarga memberikan selamat kepada si pengantin baru.
"Selamat ya, Mas Arash, Mbak Putri. Semoga pernikahannya sakinah mawaddah dan warrahmah," ujar Sifa yang di dampingi oleh Abash.
"Terima kasih. Dan aku doakan, semoga kamu segera menyusul," ujar Putri sambil tersenyum menggoda.
"Sebenarnya duluan kami yang nikah, Put, kalau Sifa tidak menyambung kuliahnya ke luar negeri," kekeh Abash sambil merangkul pinggang Sifa.
"Kalau begitu, kamu harus cepat-cepat menyelesaikan kuliah, Sifa. Sepertinya Abash juga tidak sabar lagi menjadikan kamu sebagai ratunya," kekeh Putri.
Dari bawah panggung. Mama Kesya dan para mami pun berteriak menegur Abash, karena kondisi tangannya yang tidak sopan.
"Tolong, Bash, tangannya di jaga. Jangan main peluk-peluk sembarangan, belum muhrim," tegur Mama Kesya sambil menatap tajam ke arah sang putra.
Abash menoleh ke arah sang mama, pria itu terkekeh pelan sambil mengusap tengkuknya. Abash pun melepaskan tangannya dari pinggang Sifa, kemudian menggantinya dengan menggenggam tangan sang tunangan.
"Kalau begini boleh, Ma?" tanya Abash sambil mengecup punggung tangan Sifa, sehingga membuat Sifa terkejut dan refleks memukul sang tunangan.
"Abaassshh ... jangan mesum," pekik Mama Kesya, sehingga membuat Abash tertawa terbahak-bahak karena merasa puas menggoda sang mama yang selama ini telah tega memisahkan dirinya dengan Sifa.
__ADS_1
Ya, dalam artian memisahkan itu adalah, Mama Kesya melarang Abash untuk bertemu dengan Sifa, selagi gadis itu menempuh pendidikannya. Tau sendiri kan gimana Abash kalau sudah sama Sifa. Manjanya itu gak ketulungan, yang ada kuliah Sifa nantinya jadi terbengkalai gara-gara Abash yang selalu ingin di temani oleh sang kekasih.