Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 305


__ADS_3

"Selamat kepada saudari Sifa Agustina, telah  berhasil menjalankan sidang pada hari senin, tanggal 1 Maret dengan predikat nilai----"


Seluruh keluarga Moza yang sedang menonton Sifa di rumah pun, juga ikut merasakan kegugupan yang sama dengan apa yang Sifa rasakan saat ini. Bedanya, Sifa saat ini sendirian saat menghadapi sidang akhirnya demi kelulusannya. Tanpa adanya Abash dan keluarga Moza yang selalu membuat dirinya tidak lagi merasa sendiri.


Tidak, sebenarnya Sifa tidak benar-benar sendirian. Ada Amel yang tetap terus bersembunyi menenami gadis itu.


"Ya Allah, semoga Sifa lulus," lirih Mama Kesya sambil berdoa.


"Tenang, Ma. Sifa gadis yang pintar. Mama lihat sendiri kan bagaimana cara Sifa menyampaikan materi yang dia miliki? Papa Yakin, jika Sifa pasti mendapatkan nilai yang tinggi," bisik Papa Arka menenangkan sang istri.


"Iya, Pa. Semoga saja. Secara kan Sifa lulusnya bisa dibilang agak di paksa ya. Karena dia harus bergabung ke perusahaannya Farhan!" ujar Mama Kesya.


"Iya, Ma. Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar."


"Semoga aja, Pa," harap Mama Kesya.  "Seandainya ada dosen yang ingin mempersulit Sifa, Papa bantu turun tangan, ya?" pinta Mama Kesya.


"Iya, sayang. Pasti. Masa calon mantu sendiri gak mau di tolongin sih," kekeh Papa Arka.


Mama Kesya dan Papa Arka pun kembali fokus ke layar televisi yang sudah di sambungkan Abash secara langsung dengan cctv yang ada di ruang sidang Sifa.


"Dengan predikat nilai A plus dan menjadi lulusan terbaik sarjana teknologi informatika."


Sifa langsung mengucap syukur atas nilai yang dia dapatkan saat ini. Rasa bahagia yang membuncah pun membuat air matanya mengalir dengan begitu saja.


"Selamat, Sifa. Kamu memang yang terbaik," puji salah satu dosen penguji.


"Terima kasih, Pak."


Sifa tidak bisa menghentikan tangisannya. Air mata gadis itu mengalir dengan begitu saja.


"Selamat Sifa. Aku percaya, kalau kamu pasti bakal menjadi yang terbaik," lirih Amel dari tempat yang dia pikir Sifa tidak dapat melihat keberadaannya.


Sifa pun menyalami semua dosen pembimbing dan pengujinya, berterima kasih atas jasa-jasa dari para dosen-dosen yang sudah membantunya.

__ADS_1


Di tempat lain.


"Alhamdulillah. Sifa lulus dengan nilai yang terbaik, Pa," pekik Mama Kesya dengan perasaan yang sangat bahagia sekali.


"Iya, Ma. Sifa lulus dengan nilai terbaik."


"Bash, Sifa lulus, Bash. Sifa lulus, hiks ..." ujar Mama Kesya sambil memeluk sang putra.


"Iya, Ma. Sifa berhasil."


Abash juga ikut terharu dengan apa yang telah di raih oleh kekasihnya itu. Walaupun Abash sangat yakin jika Sifa pasti akan mendapatkan nilai yang terbaik. Tapi, di saat melihat tidak ada satu orang pun yang mendampinginya di sana, membuat hati pria itu terasa tercubit dan rasanya ingin sekali berlari ke arah sang kekasih saat ini juga.


"Baiklah, sekarang kamu jempuut Sifa, Bash," titah Mama Kesya.


"Abash sudah menyuruh seseorang untuk menjemput Sifa, Ma. Dia akan mengantarkan calon menantu Mama itu pulang ke sini," ujar Abash dengan tersenyum manis dan malu-malu.


"Baiklah kalau begitu. Mama harus menyiapkan penyambutan kedatangan Sifa."


Mama Kesya yang sebenarnya sudah menyiapkan acara penyambutan untuk Sifa pun, kembali mengingatkan para pelayannya untuk menghidangkan segala sesuatu yang diperlukan.


Sifa yang baru saja menyalami dan mengantar para dosen untuk keluar dari ruang sidang pun, langsung menoleh ke arah sudut ruangan yang terdapat sebuah pohon hias besar yang ditanam di dalam pot. Gadis itu sempat melihat siluet sang sahabat yang kembali bersembunyi di saat dirinya menoleh ke arah Amel.


"Aku tau kamu di situ, keluarlah," titah Sifa.


Tak ada pergerakan dari tempat persembunyian Amel. Sifa pun akhirnya memutuskan untuk menghampiiri gadis itu. Terlihat Amel sangat terkejut sekali di saat Sifa menghampirinya di tempat persembunyian.


"Sifa?" lirih Amel dengan tubuh yang bergetar.


Sifa tersenyum sangat manis, gadis itu pun langsung memeluk tubuh Amel yang berdiam diri membeku karena tempat persembunyiannya di ketahui oleh Sifa.


"Aku pikir aku bakal sendirian di sini, ternyata aku tidak sendiri," bisik Sifa di dalam pelukan Amel.


Sifa mengurai pelukannya dan tersenyum kepada Amel. "Aku tau, kalau kamu pasti akan selalu ada untuk aku, sahabatku," ujar Sifa yang mana membuat bola mata Amel pun berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sifa, aku ... hiks .. aku .."


"Hei, kenapa kamu menangis?" tanya Sifa dan mengusap air mata Amel yang sudah membasahi pipi gadis itu.


"Aku, hiks .. Aku bukanlah sahabat yang baik untuk kamu. Aku sudah jahat sama kamu, Fa. Aku sudah .. hikss ... aku .."


"Sssttt ... aku tidak ingin mendengar apapun pengakuan kamu. Yang aku tahu, kalau aku memiliki seorang sahabat yang sangat baik dan sayang sama aku. Yaitu kamu." Sifa tersenyum dengan begitu hangatnya kepada Amel.


"Sifa, kamu sangat baik sekali. Hiks .. maafin aku, hiks .. maafin aku yang udah jahat sama kamu, hiks .. maafin aku.."


"Ssttt, semua sudah berlalu. Sekarang, kamu mau kan kalau aku meminta kamu kembali menjadi sahabat aku?" pinta Sifa yang mana membuat hati Amel kembali bergetar.


"Fa. hiks ... hati kamu terbuat dari apa, sih? Kenapa kamu baik banget mau maafin aku?" tanya Amel dengan air mata yang mengalir begitu derasnya.


"Karena aku percaya, kalau kamu benar-benar tulus sama aku selama ini."


Amel kembali terisak, gadis itu tak mampu berkata apapun lagi. Walaupun dia sudah banyak menyakiti Sifa, tetapi gadis itu masih mau menerimanya sebagai sahabat.


"Fa, hiks ... maafin aku, dan juga, terima kasih karena telah memaafkan aku dan menerima aku sebagai sahabat kamu kembali, Fa. Terima kasih banyak." Amel pun memeluk tubuh Sifa dan menangis di dalam pelukan sahabat baiknya itu.


"Aku juga terima kasih, Mel. Karena kamu sudah mau menjadi sahabat baik aku, hiks .." Sifa juga tak mampu menahan lagi tangisnya. Mereka pun saling berpelukan dan menangis sambil mengungkapkan perasaan satu sama lainya.


"Hiks ... kok jadi sedih gini, sih? Mami kayak nonton sinetron ikan terbang tau gak sih," ujar Oma Laura yang terharu saat melihat Sifa dan Amel saling berpelukan.


Kamera yang dipasang oleh Abash, mampu berputar ke mana arah Sifa berjalan. Hingga mereka juga melihat apa yang terjadi di ruangan itu. Bahkan, berkat microphone yang tersimpan di dalam baju Sifa, membuat semua orang juga dapat mendengar apa yang dibicarakan oleh kedua gadis itu.


"Abash, kamu yakin kalau gadis itu tidak akan melukai Sifa lagi?" tanya Mama Kesya. Melihat bagaimana cara gadis itu bersembunyi dan permintaan maafnya kepada Sifa, membuat siapa saja bisa mengetahui, jika pastinya gadis yang bernama Amel itu pernah menyakiti sahabat baiknya.


"Jika Sifa percaya kalau Amel tidak akan melukainya lagi, maka Abash harap kita juga mempercayainya, Ma. Setidaknya, walaupun kita tidak menyukai gadis itu, alangkah baiknya kita menghargai keputusan Sifa"


Kalimat yang diungkapkan oleh Abash pun, membuat Mama Kesya tersenyum lebar.


"Anak Mama sudah besar, ya. Sepertinya sudah siap menjadi imam dalam rumah tangga?" goda Mama Kesya.

__ADS_1


"Insya Allah, Ma."


__ADS_2