Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 323


__ADS_3

"Rash, apa benar itu Putri?" tanya Mama Nayna dengan suara yang bergetar.


Identitas yang ditemukan oleh Arash, benar memang milik Putri. Akan tetapi, ada sesuatu yang menjanggal di hati Arash.


"Raashh ... kenapa kamu diam?" tanya Mama Nayna lagi, sambil mengguncang bahu Arash.


"Araaaahhh ...." pekik Mama Nayna, karena tidak juga mendapatkan jawaban dari calon menantunya itu.


Satu tetes air mata Arash pun terjatuh, membasahi pipinya yang mulus.


"Gak ... kamu gak boleh bilang kalau itu benar Putri, hiks," isak Mama Nayna. "Kamu gak boleh bilang kalau Putri sudah tidak ada, gak boleh. Putri masih hidup, Putri masih hidup," pekik Mama Nayna, hingga wanita paruh baya itu pun kehilangan kesadarannya.


"Ta-tante ..." lirih Arash dan dengan cepat menangkap tubuh Mama Nayna yang sudah tak sadarkan diri.


*

__ADS_1


Putri mengernyitkan keningnya, saat mendengar berita tentang jatuhnya sebuah pesawat. Di tambah lagi, nama dia tertera di sana.


Ya, pesawat yang jatuh itu adalah pesawat yang seharusnya Putri tumpangi saat ini. Beberapa saat sebelum seluruh para penumpang masuk ke dalam pesawat, Putri merasakan jika perutnya sakit, sehingga membuat gadis itu harus bergegas ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya.


Namun sayang, saat di dalam kamar mandi, pintu kamar mandi yang Putri gunakan tiba-tiba saja macet, sehingga membuat gadis itu harus meminta tolong dengan orang yang ada di luar.


Untungnya ada cleaning service yang kebetulan bertugas dan membantu Putri untuk mendobrak pintu itu dari luar. Setelah pintu terbuka, Putri mengucapkan terima kasih dan bergegas mengejar untuk masuk ke dalam pesawat. Namun, ternyata pintu pesawat sudah tertutup, bahkan pesawat yang harusnya Putri naiki pun sudah bergerak dan siap lepas landas.


Untuk itulah, Putri ketinggalan pesawat yang seharusnya membawanya. Terkadang, apa yang menurut kita buruk, ternyata hal itulah yang menyelamatkan dirinya dari sebuah musibah besar.


Bolehkah Putri bersyukur? Jika dirinya masih diberikan umur yang panjang.


Panggilan untuk pesawat yang akan membawa Putri ke tempat tujuannya pun berbunyi, yang mana menandakan jika para penumpang pesawat harus bergegas melakukan check ini dan masuk ke dalam pesawat.


Bersyukurlah, Putri sudah memasukkan semua uang yang dia tarik tunai saat sebelum kabur dari rumah, menggunakan buku tabungan atas nama orang lain. Lagi pula, itu hanya sebuah buku. Untuk akses seperti ATM dan mobile banking-nya sendiri, ada di bawah kendali Putri.

__ADS_1


Apakah ini keberuntungan memiliki seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan perbankan?


Mungkin, jika Putri tidak melakukan memalsukan identitas pada buku tabungan, bisa jadi semua uang Putri juga meledak bersama pesawat yang seharusnya dia tumpangi.


Di tempat lain.


Papa Satria sudah membaut acara tahlilan, walaupun Mama Nayna melarang akan hal itu, karena wanita paruh baya itu sangat yakin sekali, jika Putri nya masih hidup.


"Ma, cobalah untuk ikhlaskan Putri," pinta Papa Satria dengan berat hati.


"Putri belum meninggal, Pa. jadi, tidak ada yang perlu mama ikhlaskan atas kepergian siapa pun," tegas Mama Nayna.


"Ma, semua sudah terbukti dengan jelas, jika nama Putri terdaftar dalam pesawat itu, Ma," lirih Papa Satria yang juga merasa berat menerima kenyataan ini.


"Sebelum Mama melihat mayat Putri, maka bagi Mama, Putri masih hidup." Mama Nayna pun berlalu, wanita paruh baya itu pergi dan tidak ingin mengikuti acara tahlilan untuk almarhumah sang anak.

__ADS_1


__ADS_2