Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 383


__ADS_3

"Zia kamu baik-baik saja?" tanya Ibra sambil mengulurkan sapu tangan ke arah gadis itu.


Ya, Zia saat ini sedang menangis karena merasa malu atas kejadian yang baru saja terjadi saat di lantai dansa. Bukan mau Zia terjatuh di atas tubuh Arash, sehingga membuat gadis itu mencium bibir yang berstatus sebagai abang iparnya itu.


"Hmm, aku baik-baik saya," ujar Zia sambil mengambil sapu tangan yang diberikan oleh Ibra.


"Jangan menangis, Zia, kejadian tadi bukanlah kesalahan kamu."


"Hmmm, aku tau. Tapi, apa semua orang-orang yang ada di dalam sana akan berpikir sama seperti kamu, Bra?" tanya Zia yang sudah menoleh ke arah Ibra.


Ibra menghela napasnya pelan, apa yang dikatakan oleh Zia memang tidak sepenuhnya salah. Mereka semua yang ada di sana tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi. Mereka hanya melihat apa yang telah terjadi, bukan melihat apa alasan kejadian itu terjadi.


"Tapi aku percaya sama kamu, Zia," ujar Ibra sambil menggenggam tangan Zia.


"Mbak juga percaya sama kamu, Zia."


Zia langsung menoleh ke arah sumber suara. Gadis itu melihat ke arah sang kakak yang berdiri tak jauh darinya. Putri tersenyum lembut kepada sang adik, wanita hamil itu pun menghampiri Zia.


"Mbak tahu, kalau kamu pasti tidak sengajak menabrak Arash, kan?" tanya Putri.


Zia menganggukkan kepalanya. "Iya, Mbak. Aku gak sengaja. Lagi pula, tadi ada seseorang yang menarik tangan aku, kemudian mendorong tubuh aku sehingga menabrak Mas Arash, Mbak. Aku berani bersumpah, jika kejadian tadi bukan kesalahan aku."


"Mbak percaya sama kamu, sayang." Putri pun membawa tubuh Zia ke dalam pelukannya.


"Maafin aku, Mbak, jika kejadian tadi membuat kamu kecewa. Tapi aku berani bersumpah, jika kejadian tadi bukan karena---"


"Iya, Mbak percaya sama kamu, Zia," potong Putri cepat.


Arash yang melihat Putri sedang memeluk Zia pun hanya bisa menghela napasnya pelan.

__ADS_1


Tadi, saat Arash ingin menghampiri Putri dan menjelaskan apa yang terjadi, tiba-tiba saja sang istri berbalik dan mengabaikannya. Hal itu pun membuat jantung Arash berdetak dengan cepat, karena dia takut jika Putri marah kepadanya.


"Ini semua salah Zia. Apa mau anak itu? Apa dia ingin merusak rumah tanggaku dengan Putri?" geram Arash dan mengejar sang istri untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Arash menghentikan langkahnya, pria itu menghela napasnya dengan sedikit berat di saat melihat Putri ternyata menemui Zia. Pria itu mengernyitkan keningnya, di saat Putri mengatakan jika dia percaya kepada Zia, bahwa gadis itu tidak sengaja melakukannya.


"Aku harap setelah ini kamu menjaga jarak dari Zia," bisik Bara yang sudah berada di belakang Arash.


"Seharusnya Zia yang menjauh dariku. Gadis itu sepertinya memiliki dendam pribadi, sehingga mungkin berencana ingin merusak rumah tanggaku dengan Putri," geram Arash yang sudah berbalik dan menatap tajam ke arah Bara--adik iparnya itu.


Bara mendengus pelan dan tersenyum miring. "Kamu pikir aku tidak tahu apa yang pernah kamu perbuat sebelum menikah dengan Mbak Putri?" ujar Bara yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.


"Kamu mendatangi Zia dan meminta dia untuk hadir di acara pernikahan kalian. Tapi apa? Kamu malah menarik tubuh Zia sehingga terjatuh ke atas pelukan kamu dan kamu menciumnya. Iya kan?" geram Bara dan membalas tatapan Arash dengan lebih tajam.


Arash terlihat membulatkan matanya, pria itu tidak menyangka jika Bara mengetahui rahasia terbesarnya dengan Zia. Apa gadis itu yang memberitahunya?


"Hanya untuk kamu ketahui, jika Zia tidak pernah mengatakan apapun tentang kejadian itu. Selama ini dia berusaha untuk menjauh dari kamu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah selalu berada di sekelilingnya. Kamu memata-matai Zia, yang aku sendiri tidak tahu apa tujuan kamu melakukan itu." Bara semakin mendekat ke arah Arash.


Ya, kelemahan terbesar Arash yaitu tidak bisa jauh dan kehilangan Putri. Bagi Arash, Putri adalah pusat kehidupannya. Jika tidak ada Putri, maka Arash seolah kehilangan arahnya.


Bara sudah puas mengeluarkan semua unek-uneknya, pria itu pun berlalu meninggalkan Arash dan mendekati sang adik.


"Mas sudah menyuruh orang untuk mencari wanita yang mendorong kamu, Dek. Kamu tenang saja, ya. Jika kamu takut nama kamu akan jelek, maka Mas akan membersihkan nama kamu. Tidak ada yang bisa mengotori nama kamu, Dek," ujar Bara sambil mengusap kepala Zia dengan penuh kasih sayang.


"Mbak juga. Mbak tidak akan membiarkan nama baik kamu rusak, karena kejadian tadi bukanlah kesalahan kamu," sambung Putri.


"Terima kasih, Mas, terima kasih, Mbak. Terima kasih karena kalian sudah percaya dengan aku dan tetap berada di pihak aku," ujar Zia dan memeluk kedua saudaranya yang berasal dari satu ayah itu.


*

__ADS_1


Pesta pernikahan Abash dan Sifa pun berjalan kembali normal. Untungnya Bang Fatih dan Tissa langsung mengambil perhatian para tamu undangan yang ada dengan pertunjukkan yang luar biasa. Ya, Mbak Tissa--istrinya Farhan membuat sebuah lukisan dengan taburan butiran berwarna emas, di mana wanita itu melukis raja dan ratu yang tengah berpelukan saat ini.


Hasil dari lukisan itu terlihat sangat indah, sehingga membuat Sifa merasa takjub dan kembali meneteskan air matanya.


"Kamu tau, Mas, ini adalah pernikahan yang terbaik. Bahkan lebih baik dari apa yang pernah aku impikan," ujar Sifa kepada sang suami.


"Apapun akan aku lakukan, asal kamu bahagia."


Abash menarik pinggang semakin rapat ke tubuhnya. Tangan Abash yang lain pun menahan tengkuk Sifa dan mencium bibir sang istri di depan para tamu undangan yang masih ada di sana. Sorak sorai pun terdengar. Tepukan yang bergemuruh memenuhi ruangan besar itu. Abash melepaskan pagutan bibirnya, pria itu tersenyum manis di saat melihat wajah Sifa sudah merona dengan begitu sempurna. Di tambah lagi, kejadian di saat Abash mencium Sifa di sorot dan di tampilkan di layar besar yang memang sengaja di sediakan untuk menyoroti raja dan ratu sehari itu.


"Mas, aku malu, tau," cicit Sifa sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan.


Abash hanya bisa terkekeh dan memeluk tubuh Sifa dengan mesra.


"Ini hanya permulaan, sayang. Kamu akan mendapatkan kejutan istimewa yang akan selalu aku tampilkan di depan umum. Aku melakukan itu untuk menunjukkan kepada semua orang, jika kamu hanyalah milikku, tidak ada yang bisa merebut kamu dariku, sayang," bisik Abash yang mana membuat jantung Sifa semakin berdegup dengan kencang.


Ya, setidaknya acara pesta pernikahan Abash dan Sifa berjala dengan sempurna.


"Baiklah, saatnya untuk pelemparan buket bunga dari pengantin," tutur MC.


Pelemparan buket bunga yang akan dilakukan oleh Abash dan Sifa, sedikit berbeda dengan yang sering terjadi sebelumnya. Kali ini, buket bunga itu dibagi menjadi dua, di mana yang akan mendapatkan buket bunga tidak hanya dari pada kalangan gadis-gadis saja, melainkan kalangan para pujangga pun juga kan mendapatkannya. Abash dan Sifa pun serentak untuk melemparkan buket bunga tersebut di saat hitungan ketiga yang MC ucapkan.


Sifa dan Abash berharap, jika Amel dan Bimo akan mendapatkan buket bunga yang mereka lempar secara bersamaan.


Buket bunga itu pun melayang di udara, hingga terjatuh melewati para gadis dan pria yang sudah berkumpul di belakang Abash dan Sifa untuk menyambut buket tersebut, hingga akhirnya kedua buket itu pun terjatuh pada orang yang baru saja kembali masuk ke dalam ballroom.


Huupp ...


Zia terkejut, sehingga reflek menangkap sesuatu yang berada di depannya, begitu pun dengan Arash.

__ADS_1


Ya, orang yang berhasil mendapatkan buket bungayang di lempar oleh Abash dan Sifa adalah Zia dan Arash.


__ADS_2