Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 393


__ADS_3

Abash kembali melanjutkan pekerjaannya. Seperti apa yang dia katakan kepada Sifa tadi, jika dirinya akan bekerja sambil mendengar berita bisnis yang sedang tersiar saat ini di televisi.


"Mas, kamu gak mandi dan bersiap untuk pergi kerja?" tanya Sifa kepada sang suami.


Sifa baru saja selesai menyiapkan sarapan untuk mereka santap di pagi hari ini yang begitu indah.


"Aku akan pergi terlambat ke kantor, sayang. Aku harus menyelesaikan pekerjaan ini dulu," jawab Abash yang serius dengan pekerjaannya.


Ya, memang seharusnya Abash tidak perlu lagi pergi ke kantor. Pria itu sudah mengatakan kepada sang asisten jika dirinya akan berlibur selama tiga hari dan tidak ingin di ganggu atas nama pekerjaan, jika pekerjaan itu tidak terlalu urgent.


"Oh, ya sudah kalau begitu, aku mandi dulu ya, Mas," pamit Sifa dan berjalan melewati sang suami.


Abash hanya bergumam sebagai jawaban, karena pria itu benar-benar sedang fokus saat ini ke pekerjaannya.


Sifa pun membersihkan dirinya, kemudian berpakaian yang rapi seperti biasa. Saat keluar dari kamar, ia melihat Abash yang masih duduk di sana dan tidak mengalihkan sama sekali tatapannya dari pekerjaan di tangannya.


"Mas, sarapan yuk," ajak Sifa, di saat wanita itu sudah keluar dari kamar, mendekat pada sang suami dan duduk di sampingnya. Dia akan menunggu dan memaksa jika Abash sampai tidak beranjak dari duduknya.


Abash menoleh, tersenyum melihat wajah sang istri yang kini sudah segar. "Oke, sayang." Abash pun menghentikan pekerjaannya, menyimpan dengan rapi di atas meja.


Sifa tersenyum senang dan berdiri, meninggalkan Abas yang kemudian berjalan mengekori sang istri yang sudah berjalan di depannya menuju meja makan.


Aroma wangi masakan di meja makan tercium di hidung Abash, wanginya menggoda dan membuat perutnya kini meronta meminta diisi.


"Waah, nasi goreng ikan teri," seru Abash yang tiba-tiba saja merasa jika perutnya terasa sangat lapar sekali. Padahal saat tadi dia bekerja, dia belum merasa lapar.


Sifa tersenyum senang, mengambilkan piring dan nasi sementara Abash menarik kursi dan duduk.


"Huum, ayo makan," ajak Sifa.


Sifa pun duduk di samping Abash. Berhubung dia tidak makan nasi, jadi pagi ini Sifa akan mengisi perutnya dengan roti yang telah ia berikan selai coklat.


Sifa mengambilkan sesendok besar nasi goreng ke atas piring dan memberikannya kepada Abash.


“Terima kasih, Sayang.”


“Iya. Makan sampai habis ya.”


Abash mulai mengambil suapan pertama dan menikmati makanan tersebut. Rasa nikmat menggoda lidahnya, dan dia dengan perlahan mengunyah makanannya seakan tidak ingin cepat menyelesaikan sarapannya.


"Kamu gak kepingin cicipi nasi goreng aku, sayang?" goda Abash sambil mengulurkan sesendok nasi goreng ke depan mulut Sifa.


"Mas!" tegur Sifa dengan tatapan matanya yang tajam, yang mana membuat Abash tertawa terbahak-bahak. Bibir wanita itu cemberut lucu di mata Abash.


"Iya ... iya. Maaf, ya?" ujar Abash sambil menarik dagu dan mengecup pipi Sifa lembut.


Bibir Sifa masih mengerucut, melirik sebal pada sang suami.


"Oh ya, aku heran deh. Eh, sebenarnya lebih tepatnya itu ke penasaran sih," ucap Abash yang mana membuat Sifa menoleh ke arahnya.


"Hem? Penasaran kenapa, Mas?" tanya Sifa, tapi tangan dan matanya tidak beralih dari selai yang dia tambahkan di roti tawarnya.


"Ini loh, kamu kan gak suka sama nasi goreng, tapi kok rasa nasi goreng kamu itu selalu pas, ya? Garamnya itu loh, sesuai sama lidah aku."


"Oh ya?" Barulah Sifa mengalihkan tatapannya dan tersenyum senang.


"Padahal kamu kan masaknya gak pakai cicip-cicipi?"


"Itu karena aku membuatnya dengan penuh cinta, Mas. Jadi, semua takaran garam yang aku campur ke nasi, semuanya itu sudah pas. Dan kalau kurang, rasa cinta aku yang menutupinya," ujar Sifa dengan pedenya yang mana membuat Abash tersenyum lebar.


Abash menggelengkan kepalanya. "Wah, ternyata istri aku sudah pintar berkata-kata khiasan, ya?" goda Abash sambil mencubit hidung Sifa dengan gemas. Kini hidung itu berubah berwarna sedikit kemerahan.

__ADS_1


"Iiih, Mas …" lirih Sifa dengan wajah yang merona, senyum malu terulas di bibirnya.


"Mas, kamu tahu? Aku sangat mencinta kamu, Mas," ucap Sifa secara tiba-tiba, sehingga membuat Abash menghentikan kunyahannya.


Makanan yang ada di mulutnya masih kasar, tapi dia telan demi ingin menjawab ucapan sang istri. "Aku juga mencintai kamu sayang. Sangat mencintai kamu."


Sifa melirik suaminya dengan malu-malu, kemudian berkata dengan nada yang lirih. "Jika kamu mencintai aku, Mas, aku minta kepada kamu, jangan pernah ragu untuk menyentuh aku, Mas," ujar Sifa yang mana membuat Abash terdiam dengan jantung yang berdetak cepat. Rasa-rasanya suara detak jantung itu terdengar di telinganya.


Abash kini tengah berpikir sesuatu. "Apa kamu merasa kecewa dengan aku, sayang? Karena aku belum menyentuh kamu dan menjadikan kamu istri aku seutuhnya?" tanya Abash. Tangannya menyimpan sendok dan garpu hingga terdengar suara denting di atas piring.


Sifa segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak, Mas, bukan begitu. Aku hanya ingin kamu tahu, jika aku tidak keberatan untuk merasakan sakit, karena rasa sakit itu membawa aku untuk menjadi istri kamu seutuhnya, Mas," ungkap Sifa dan membuat Abash sangat terharu dan juga merasa bersalah. Dia hanya tidak ingin membuat istrinya kesakitan atau kesusahan karenanya.


Abash mendekat.


"Aku janji, aku akan berusaha menyentuh kamu tanpa rasa sakit, sayang," bisik Abash dan menyatukan kening mereka.


Sifa senang akan ucapan Abash, meski dia sendiri tidak yakin jika dia tidak akan merasakan sakit andai nanti mereka melakukannya untuk pertama kali. Akan tetapi, Sifa percaya jika sang suami akan melakukannya dengan lembut tanpa membuatnya tersiksa.


"Aku percaya sama kamu, Mas," balas Sifa.


Abash menatap ke kedalaman mata Sifa. Tersenyum dan mengelus pipi sang istri lembut.


"Jadi, apa kita akan melakukannya sekarang?" tanya Abash yang mana membuat Sifa terkejut dan langsung memberikan jarak di antara mereka berdua. Ucapan sang suami tersebut sukses membuatnya merasa canggung. Ini masih pagi dan ....


"Aku harus bekerja, Mas. Maafin aku," sesal Sifa. Raut wajahnya berubah sedih. Di saat sang suami menginginkannya sekarang, dia tidak bisa memberikannya.


"Hmm, gak masalah." Abash tersenyum, mengusap kepala sang istri dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dia hanya bercanda demi ingin mendengar kesungguhan sang istri.


Saat Abash akan berbicara, Sifa sudah membuka mulutnya. "Emm, bagaimana jika nanti malam?" usul Sifa dengan wajah yang merona dengan pandangan yang tertunduk. Dia tidak berani menatap wajah sang suami karena malu.


"Nanti malam?" ulang Abash yang diangguki oleh Sifa dengan pelan dan masih menundukkan pandangannya.


Abash tersenyum senang. "Ide bagus. Persiapkan diri kamu untuk menjadi istri aku yang seutuhnya, Sayang," ujar Abash dan mendekat untuk mencium bibir Sifa.


"Kamu juga, Mas."


**


**


Sifa baru saja sampai di kantor dan baru akan mendaratkan bokongnya di kursi. Namun, tiba-tiba saja asistennya Farhan memanggilnya. Sifa pun terpaksa harus kembali berdiri dan mengikuti asisten bosnya itu.


“Iya, Pak? Bapak panggil saya?” Sifa bertanya setelah sampai di depan Farhan.


"Sifa, duduklah," titah Farhan kepada wanita yang ada di hadapannya saat ini.


"Baik, Pak." Sifa pun mendaratkan bokongnya di kursi yang terletak berseberangan dengan Farhan.


Farhan mengalihkan tatapannya dari kertas yang ada di tangan dan menatap Sifa.


"Begini, Sifa. Saya ada sebuah pekerjaan untuk kamu. Tapi tidak di sini, melainkan di Bali," ungkap Farhan yang mana membuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Maksud Pak Farhan, saya harus ke Bali?" tanya Sifa memastikan.


Farhan mengangguk. "Iya, kamu harus ke Bali untuk bertemu dengan klien penting kita. Bagaimana, apa kamu bersedia?" tanya Farhan.


"Tapi, Pak—“


"Ini pekerjaan yang sangat penting, Sifa. Saya mempercayakan pekerjaan ini dengan kamu, karena saya percaya hanya kamu yang bisa menangani proyek ini," ungkap Farhan lagi dengan penuh harap.

__ADS_1


"Emm, tap-tapi, Pak—“


Lagi-lagi ucapan Sifa dipotong oleh laki-laki itu. "Apa kamu keberatan dengan tugas yang saya berikan, Sifa?” tanya Farhan menatap tajam bawahannya.


"Bukan begitu, Pak. Tapi—“ Sifa menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Baiklah, saya menerimanya, Pak. Tapi kapan saya harus pergi?" tanya Sifa memastikan jadwal keberangkatannya.


"Hari ini," ujar Farhan yang mana membuat Sifa membulatkan matanya.


"Ha-hari ini?" tanya Sifa ulang dengan terkejut.


"Iya, hari ini." Farhan pun melirik ke arah jam mahal hadiah dari pemberian sang istri yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh. "Sekita dua jam lagi kamu akan berangkat. Jadi, kamu bisa bersiap-siap. Nanti supir kantor yang akan mengantarkan kamu pulang dan menuju ke bandara," ujar Farhan memberitahu.


"Hari ini, Pak? Dua jam lagi?" lirih Sifa dengan lesu. Kepalanya mendadak pusing, tubuhnya lemas. Ada hal yang harus ia lakukan nanti malam.


Bagaimana tidak lesu, sedangkan dirinya sudah berjanji dengan Abash untuk mempersiapkan diri dan menghabiskan waktu bersama malam ini. Jika sudah begini, apa yang harus Sifa lakukan? Dia tidak bisa menolak karena pekerjaannya juga merupakan tanggung jawabnya.


"Jika kamu ragu, kamu bisa meminta izin dengan Abash terlebih dahulu, Sifa. Tapi, jika kamu menolak tawaran saya ini, saya merasa sangat kecewa dengan keprofesionalan yang kamu junjung selama ini," ujar Farhan yang mana membuat Sifa semakin galau.


"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Saya harus meminta izin kepada suami saya dulu," pamit Sifa yang dipersilahkan oleh Farhan.


Langkah kaki Sifa lemas, pandangannya terasa kosong.


‘Apa yang harus aku lakukan?’ batinnya bingung. Rasanya tidak bisa dia memilih salah satu dari keduanya karena keduanya itu sangatlah penting untuknya.


Sifa pun kembali ke ruangannya, kemudian wanita itu mengambil ponsel dan berjalan menuju teras di lantai gedung itu.


Menatap langit biru dengan sedikit awan kelabu di atas sana, Sifa mulai menghubungi suaminya.


Terdengar beberapa kali nada sambung, hingga akhirnya suara bariton Abash memberikan salam.


"Walaikumsalam, Mas."


"Ada apa, sayang?" tanya Abash yang berpura-pura tidak tahu, apa tujuan sang istri menghubungi dirinya saat ini.


"Mas. Aku mau minta maaf, tiba-tiba saja Pak Farhan meminta aku untuk pergi ke Bali, Mas. Hari ini, sekitar dua jam lagi," tutur Sifa pelan dengan hati yang berdebar, dia takut jika suaminya akan marah dan kecewa.


"Hari ini?" ulang Abash yang berpura-pura tidak mendengar apa yang istrinya katakan.


"Iya, Mas. Bagaimana ini?" lirih Sifa dengan risau.


"Bagaimana gimananya, Sayang?"


"Aku kan udah janji sama kamu nanti malam, Mas?" lirih Sifa lesu. Sungguh dia tidak enak hati kepada suaminya ini.


"Oh, itu." Abash berdehem pelan. "Kamu tenang aja, Sayang. Masih ada malam-malam yang lainnya. Dan sekarang, kamu hanya harus mengikuti perintah Kak Farhan dan menunjukkan jika kamu benar-benar bekerja dengan sangat profesional," titah Abash.


"Kamu gak keberatan, Mas?" tanya Sifa memastikan. Padahal di dalam hatinya dia merasa takut dan sedih.


"Ya mau gimana lagi? Aku tidak ada wewenang di perusahaan Kak Farhan. Atau, kamu mau kembali ke perusahaan aku, Sayang?" goda Abash.


"Enggak, Mas. Aku gak mau. Lagi pula, jika aku harus kembali ke perusahaan kamu, aku harus mengganti rugi atas biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan Pak Farhan,” tolaknya.


"Ya mau bagaimana lagi? Sudah resiko yang harus kita ambil. Lagi pula, yang membayar ganti ruginya kan aku, bukan kamu. Sudah menjadi kewajiban aku untuk membiayai kehidupan kamu, Sayang."


Sifa terdiam, di dalam hati membenarkan apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Iya, Mas. Tapi kan sangat terlihat jika aku tidak profesional dalam bekerja, Mas," lirih Sifa.


"Kalau begitu, tunjukkan keprofesionalan kamu dalam bekerja, Sayang. Aku tidak masalah jika kamu harus pergi tugas ke luar, asal kamu tetap memberikan kabar kepada aku, Sayang."


Sifa menghela napasnya pelan. Rasanya tidak rela, tapi sepertinya tidak ada jalan lain selain pergi ke Bali. Lagi pula, Abash sudah memberikan izin untuknya pergi, kan?

__ADS_1


"Sekali lagi aku minta maaf ya, Mas," lirih Sifa merasa bersalah karena dia tidak bisa menepati janjinya kepada sang suami.


__ADS_2