Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 391


__ADS_3

Wajah Abash dan Sifa sudah merona. Jangan di tanya lagi sudah semerah apa. Bahkan, warna merah tomat saja sudah kalah.


"Jadi gitu, Bash. Kamu harus jadi pemain. Harus pintar memainkan suasana. Jangan biarkan Sifa lengah sedikit pun untuk merasakan rasa sakitnya," ujar Papi Gilang.


"Iya, Bash. Main pelan-pelan, tapi bikin melayang," tambah Papa Fadil.


"Iya, Pi, Pa," jawab Abash dengan wajah yang sudah tertunduk malu.


"Sudah, jangan malu-malu begitu. Begini saja, besok Papa akan urus semua bulan madu dan Sifa. Urusan izin dengan Farhan, gampang itu. Lagi pula, kamu dan Sifa kan memang belum pergi berbulan madu," ujar Papa Arka.


"Iya, Pa." Abash hanya bisa menganggukkan kepalanya dan menjawab iya di setiap pertanyaan yang diberikan oleh para tetua.


"Udah, Bash, jangan malu-malu. Wajar-wajar aja kalau kamu butuh sharing tentang hal beginian. Ya gak, Pi?" ujar Bang Fatih kepada Papi Gilang.


"Dasar mesum kamu," cibir Papi Gilang yang mana membuat semua orang tertawa.


Sedangkan di kalangan para wanita. Sifa merasakan hal yang sama dengan apa yang Abash rasakan saat ini. Sifa hanya bisa mengangguk pasrah dan menerima semua saran juga petuah dari para suhu dan senior.


"Kamu harus tahan, Sifa. Jika merasa sakit, kamu harus mengatur pernapasan kamu secara perlahan. Lepaskan saja ******* merdu itu, agar rasa sakitnya terdengar merdu," ujar Anggel.


"Waah, suhu ini," kekeh Mama Kesya menggoda sepupu kecilnya itu.


*


Sifa dan Abash saling lirik satu sama lain. Di dalam pikiran mereka berdua, saat ini sedang memikirkan tentang apa yang dikatakan oleh para suhu dan senior.


"Apa aku mulai menggodanya malam ini?" batin Sifa.


"Tapi, aku tidak memiliki baju lingeri seperti apa yang di sarankan oleh Mama." Sifa pun merasa gundah, karena jika dirinya ingin menggoda Abash, maka wanita itu harus benar-benar totalitas dalam melakukannya.


"Apa aku tunda aja malam ini? Aku akan meminta Mbak Quin untuk menemaniku berbelanja." Sifa pun meyakinkan dirinya sendiri.


Sedangkan di dalam pikiran Abash.


"Bagaimana caranya aku memberikan alasan kepada Sifa, untuk membawanya pergi besok? Aku takut dia akan curiga dan semua rencana yang sudah di buat oleh Papa akan hancur berantakan," batin Abash.


"Alasan apa yang harus aku katakan dengannya? Agar Sifa mau ikut bersamaku tanpa ada rasa curiga sedikit pun."


Abash menghela napasnya sedikit berat, begitu pun dengan Sifa, sehingga membuat keduanya saling menoleh.


"Ada apa, Mas?" tanya Sifa kepada sang suami.

__ADS_1


"Hmm? Tidak ada apa-apa," jawab Abash sambil tersenyum.


Abash pun kembali memfokuskan pandangannya ke jalan yang sudah terlihat senggang, karena memang mereka pulang dari rumah Mama Kesya cukup larut malam. Sebenarnya Mama Kesya meminta kepada Abash dan Sifa untuk menginap di rumah, akan tetapi Abash menolaknya, karena ada pekerjaan yang harus pria itu kerjakan.


Ya, ada pekerjaan yang memang harus Abash kerjakan, dan ini bukanlah sebuah alasan, melainkan Abash berkata dengan jujur.


"Mas, di sana ada martabak manis, aku ingin memakannya, Mas" ujar Sifa yang merasa saat ini jika dirinya membutuhkan sesuatu yang manis untuk berpikir jernih.


"Oh, oke." Abash pun menepikan mobil dan memarkirkannya di pinggir jalan.


"Mau rasa apa, sayang?" tanya Abash sebelum pria itu turun.


"Emm, rasa coklat kejut aja, Mas," pinta Sifa.


"Baiklah, sayang. Tunggu di sini, ya?" Abash pun turun dari dalam mobil, kemudian pria itu menghampiri si penjual martabak.


"Mas, martabak manisnya satunya, rasa coklat keju," pinta Abash.


"Baik, Mas, tunggu sebentar."


Abash pun duduk di kursi berwarna biru yang tersedia di sana. Pria itu memainkan ponselnya untuk mengusir kebosanan.


Cling ..


"Papa sudah hubungi Farhan, dia bilang tidak masalah jika Sifa pergi berlibur selama tiga hari. Dan ya, Papa juga sudah kong kali kong dengan dia dan mengatakan jika Sifa akan pergi ke Bali untuk melakukan perjalanan bisnis."


Pesan yang dikirimkan oleh Papa Arka pun, membuat Abash tersenyum kecil. Ternyata orang tuanya itu benar-benar memikirkan segala cara untuk menjadikan bulan madunya dengan Sifa menjadi sangat berarti.


"Oke, Pa. Terima kasih banyak. Papa yang terbaik." send.


Abash kembali menyimpan ponselnya, di saat penjual martabak menegurnya dan mengatakan jika pesanan dirinya telah siap di buat.


"Berapa, Mas?" tanya Abash.


"Dua puluh lima ribu aja, Mas."


Abash pun mengeluarkan uang bernilai lima puluh ribu rupiah, kemudian pria itu menunggu kembalian.


"Terima kasih, Mas, semoga ketagihan, ya?" ujar penjual sambil memberikan kembalian uang Abash.


"Iya, Mas."

__ADS_1


Abash mengambil uang tersebut dan menyimpannya di dalam kantong. Catat ya, di dalam kantong.


Eits, bukannya Abash tidak pernah mau mengambil uang kembalian dari orang yang tidak di kenal?


Ya, itu Abash yang dulu, tapi Abash yang sekarang sungguh sangat berbeda. Semenjak dia mengenal Sifa, Abash perlahan merubah kebiasaannya yang tidak ingin mengambil sesuatu dari orang lain. Apa lagi orang yang tidak pria itu kenal. Tapi sekarang, Abash tidak masalah melakukan hal tersebut.


Cinta benar-benar membuat Abash berubah menjadi pribadi yang lebih baik, kan?


Tapi, kenapa Arash berubah menjadi pribadi yang sulit di genggam?


Mungkin, rasa sakit hati, kecewa, dan takut kehilangan orang yang dia cintai, membuat diri Arash berubah menjadi pribadi yang kebalikan dari dirinya yang sebelumnya. Arash yang peduli sama semua orang, sekarang hanya lebih peduli dengan Putri saja. Ya, karena bagi Arash, Putri adalah tujuan hidupnya.


Abash membuka pintu mobil, kemudian memberikan bungkusan martabak kepada sang istri.


"Ini, sayang."


"Emm, wanginya enak banget, Mas! Aku jadi pingin makan di sini," ujar Sifa dan langsung membuka kotak bungkusan martabak tersebut.


Sifa benar-benar hampir meneteskan air liurnya, di saat melihat keju yang berlimpah dan coklat yang meleleh. Wanita itu pun mengambil satu potong martabak dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Bismillah ...."


Dalam gigitan pertama, Sifa langsung dapat merasakan rasa coklat dan keju yang menyatu menjadi satu. Lumer coklat yang meleleh di mulutnya, membuat Sifa tidak bisa untuk tidak memuji makanan yang sedang dia nikmati itu.


"Emm, ini enak banget, Mas. Sumpah ... Mas mau?" tawar Sifa kepada sang suami.


"Boleh, tapi kamu siapin ya?" pinta Abash dengan manja.


"Baiklah." Sifa pun menyodorkan sepotong martabak ke dalam mulut Abash, sehingga membuat coklat yang sudah meleleh menetes dari sudut bibir Abash.


"Ya ampun, Mas, kamu benar-benar seperti anak kecil, deh," kekeh Sifa dan mengambil tisu untuk membersihkan sudut bibir sang suami.


"Kenapa harus pakai tisu? Aku punya cara lain untuk membersihkannya," ujar Abash yang mana menbuat Sifa mengernyitkan keningnya.


"Cara lain? Seperti apa?"


Mata Sifa langsung terbelalak, di saat Abash menempelkan bibirnya ke bibir sang istri.


"Manis, kan?" bisik Abash setelah melepaskan pagutan bibir mereka.


"Mas, ini bukannya bersih, tapi makin celemotan tau," cibir Sifa kesal dan membersihkan bibirnya dengan menggunakan tisu.

__ADS_1


Abash tertawa terbahak-bahak, karena melihat betapa lucunya wajah sang istri.


"Bash, kamu harus bisa menjadikan Sifa sebagai istri kamu seutuhnya," batin Abash menyemangati dirinya sendiri.


__ADS_2