
"Sayang, beneran kamu gak akan pulang?" tanya Mama Nayna dari panggilan video call.
"Iya, Ma. Zia ada ujian di hari yang sama. Makanya Zia gak bisa pulang, Ma," jawab Zia.
"Apa kamu sudah mengatakan kepada Mbak kamu? Dia sangat mengharapkan kamu datang, Sayang," ujar Mama Nayna.
"Hmm, ya. Zia sudah mengatakan kepada Mbak Putri," sahut Zia.
Walaupun dia sudah mengatakan kepada Putri, jika dirinya tak bisa hadir di saat pernikahan sang kakak. Tetap saja calon suami kakaknya yang arogan itu sudah bersikap kurang ajar saat menghampirinya.
"Ah ya, Zia ada mengirimkan sesuatu untuk Mbak Putri sebagai hadiah. Mama tolong bilangin ke Mbak Putri, ya, kalau hadiah yang Zia berikan harus di pakai saat malam pesta nanti," ujar Zia.
"Hadiah? Hmm, baiklah. Mama akan katakan kepada Putri." Mama Nayna memandang wajah sang putri dengan tatapan mata yang sendu.
"Mama kangen banget sama kamu, sayang," lirih Mama Nayna.
Zia terkekeh pelan. "Ma, baru juga seminggu lalu Mama pulang."
"Tetap saja, sayang. Mama rindu kamu," lirih Mama Nayna. "Atau, Mama berangkat aja besok? Setelah peluk, cium, dan tidur bareng kamu, Mama baru balik lagi ke sini," usul Mama Nayna yang mana membuat Zia kembali terkekeh.
"Ma, emangnya Swiss dan Jakarta itu deket? Yang ada bikin capek badan Mama aja kalau harus bolak balik. Mending Mama ke sininya kalau sudah selesai acara Mbak Putri aja, Ma."
"Iya, tapi---"
"Ma, Zia baik-baik aja kok. Lagi pula, di sini ada Dav yang bakal membantu dan menjaga Zia," ujar Zia.
"Hmm, ya. David. Si bule tampan," kekeh Mama Nayna. "Jadi, bagaimana hubungan kamu dengan David?" tanya Mama Nayna dengan tersenyum penuh arti.
"Ma, Zia dan Dav hanya temenan," sahut Zia.
"Temenan kok pakai perasaan sih?" kekeh Mama Nayna.
"Maa ...." rengek Zia, sehingga membuat Mama Nayna kembali terkekeh.
"Lihat kamu dan David, Mama jadi ingat kisah Mama dan Papa. Semua berawal dari pembullyan, kemudian berubah jadi pertemanan. Lalu, jatuh cinta deh," kekeh Mama Nayna.
"Ih, Mama. Gak gitu kok ceritanya," rajuk Zia.
"Zia dan Dav memang beneran temenan kok, serius."
"Iya .. iya ... Mama cuma bercanda aja. Lagian, kalau hubungan kamu dan David lebih dari teman, Mama terima-terima aja, kok. Kalian itu terlihat sangat serasi tau gak sih," ujar Mama Nayna dengan jujur.
__ADS_1
"Zia harap juga begitu, Ma," batin Zia dan tersenyum kepada sang mama.
"Ya sudah kalau begitu, Zia matiin dulu ya, Ma. Zia ngantuk," pamit Zia.
"Hmm, padahal Mama masih pingin ngobrol sama kamu," ujar Mama Nayna dengan lesu. "Ya udah deh kalau gitu, kamu baik-baik di sana ya, salam buat David juga."
"Iya, Ma."
Mama Nayna pun memutuskan panggilannya dengan berat hati. Satu tetes air mata Mama Nayna jatuh membasahi pipi.
"Habis telponan kok nangis, sih?" tanya Papa Satria yang sedari tadi menguping pembicaraan sang istri dengan putrinya.
"Mama rindu Zia, Pa. Dia tumbuh dewasa dengan sendirinya. Mama menyesal banget, Pa, hiks ..."
Papa Satria pun menghampiri sang istri. Pria paruh baya itu pun memeluk tubuh Mama Nayna dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Semua sudah berlalu, Sayang, sebaiknya saat ini kita harus semakin memberikan perhatian kepada Zia dan Bara."
"Iya, Pa, Mama setuju. Lagi pula, Putri sudah ada yang menjaganya."
"Oh ya, David siapa?" tanya Papa Satria.
"Dav?" tebak Papa Satria.
"Hmm, nama aslinya David. Davidson Antonius. Anaknya baik dan ramah banget, Pa. Ganteng juga."
"Davidson Antonius, seperti gak asing namanya," lirih Papa Satria.
"Apa, Pa?"
"Gak, gak papa kok. Yuk, kita makan, Papa udah laper," ajak Papa Satria.
"Dasar manja."
*
Acara pernikahan Putri pun tinggal menghitung jam, saat ini gadis itu terlihat sangat gugup dan tidak bisa tidur. Luna, Sifa dan Naya sudah berusaha untuk membujuk Putri untuk tidur, akan tetapi tetap saja, gadis itu tidak bisa menutup matanya.
Drrtt ... drrtt ...
Suara ponsel Putri pun berdering, gadis itu bergegas meraih ponselnya dan melihat siapa yang menghubunginya di malam-malam begini.
__ADS_1
"Ziaa ...." lirih Putri dengan tersenyum lebar.
Sifa yang melihat senyuman Putri pun, ikut tersenyum.
"Kamu yang menghubungi Zia?" tanya Naya.
"Huum, habisnya aku gak tega lihat Putri gak bisa tidur," kekeh Sifa.
"Sepertinya kamu dan Zia semakin dekat, ya?" tanya Naya kepo.
"Begitulah. Zia gadis yang baik. Aku suka berteman dengannya. Pemikiran kami juga sepemahaman," sahut Sifa dengan tersenyum.
"Ya, Zia memang gadis yang baik. Sayangnya Arash salah paham akan rasa kekecewaan yang pernah Zia rasakan dulu," lirih Naya.
"Kita doakan saja, semoga hubungan mereka baik-baik saja," ujar Luna yang di Aminin oleh Sifa dan Naya.
"Sekarang tidur ya, Mbak. Biar besoknya segar dan cantik," titah Zia yang langsung di angguki oleh.
"Apa aku boleh pergi berbulan madu ke tempat kamu?" pinta Putri dengan memohon.
"Tidak, Mbak. Bukannya kamu ingin berbulan madu ke Korea?"
"Aku kangen kamu, Zia. Pliiss, boleh yaa?"
"Enggak, Mbak. Aku gak mau bertemu dengan suami kamu," ujar Zia dengan tegas.
Putri pun hanya bisa menghela napasnya dengan pelan.
"Baiklah, tapi saat liburan nanti, kamu janji ya pulang ke sini?" pinta Putri.
"Iya, Mbak. Aku pasti akan pulang," sahut Zia. "Ah ya, Aku ada mengirimkan sesuatu. Sudah aku titipkan kepada Mama. Semoga Mbak suka, ya?" ujar Zia yang mana membuat Putri merasa penasaran.
"Apaan itu?"
"Ada deh, yang pasti hadiah itu adalah hasil karya tanganku sendiri."
Putri pun semakin tidak bisa tidur, karena memikirkan hadiah apa yang akan Zia berikan untuknya.
"Tidur, mbak. Awas kalau aku tau kamu gak tidur. Aku gak mau pulang saat liburan nanti," ancam Zia.
"Iya .. iya .. aku tidur."
__ADS_1