Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 429


__ADS_3

"Maaf, bolehkah saya bergabung?"


Sifa membulatkan matanya, di saat melihat siapa yang menyapa mereka.


"Mas?" lirih Sifa pelan.


Teman-teman Sifa pun menoleh ke arah Sifa, kemudian mereka tersenyum penuh arti. Kapan lagi kan bisa duduk sama salah satu pengusaha yang tampan.


"Silahkan duduk, Pak," ujar Dewi mempersilahkan Abash untuk duduk di kursi yang dia tempati.


Kebetulan Dewi duduk di samping Sifa. Di saat Abash ingin bergabung dengan mereka, Dewi pun berdiri dan pindah tempat duduk.


"Terima kasih," ujar Abash sambil mendudukkan bokongnya di kursi.


"Kalian pesan saja apa yang kalian inginkan, nanti biar saya yang bayar," sambung Abash mempersilahkan teman-teman Sifa untuk memesan menu makanan yang mereka inginkan.


"Serius, Pak?" tanya Dewi.


"Iya. Maaf, karena saya mentraktir kalian di kantin kantor. Lain waktu, saya akan mentraktir kalian semua ke restoran mewah," ujar Abash yang mana membuat teman-teman Sifa membulatkan matanya.


"Hah? Serius, Pak?"


"Iya, saya serius. Tunggu saja tanggal mainnya," ujar Abash sambil tertawa.


"Duh, jadi gak enak, Pak. Tapi, boleh lah tawarannya. Jarang-jarang kami bisa makan di restoran mewah," kekeh Dewi.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu, ayo silahkan di pesan.," titah Abash yang mana membuat teman-temab Sifa langsung memesan makanan yang terbilang lezat dan sedikit mahal di kantin.


Sifa mengulurkan tangannya ke paha Abash, di mana tangan pria itu berada di pahanya. Sifa menggenggam tangan Aabsh dengan penuh kehangatan, dia pun tersenyum manis kepada sang suami.


"Terima kasih, Mas," bisik Sifa yang mana membuat Abash menganggukkan kepala sambil tersenyum.


"Sama-sama, sayang."


*


Abash sudah kembali ke kantornya. Pria itu pun memanggil Bimo untuk membicarakan tentang perihal pergantian karyawan yang Abash usulkan.


Pintu ruangan Abash pun di ketuk dua kali, membuat Abash memerintahkan orang yang ada di luar ruangan untuk masuk.


"Maaf, Pak. Bapak manggil saya?" tanya Bimo sopan.


Semenjak menikah dengan Sifa, banyak perubahan di dalam hidup Abash yang dapat dirasakan oleh orang yang ada di sekitarnya. Contohnya seperti saat ini, di mana Abash tersenyum kepada karyawannya. Dulu, pria itu sangat irit sekali untuk tersenyum, sehingga membuat siapa saja merasa takut untuk memandang wajah Abash. Tapi sekarang, seluruh karyawan Abash merasa semakin lebih nyaman bekerja di perusahaan yang di pimpin oleh pria itu.


Abash menarik napas dan menghelanya secara perlahan.


"Begini Bim, sebenarnya ini masih di rahasiakan. Tapi, saya rasa kamu harus tau lebih awal agar bisa mempersiapkan diri," ungkap Abash.


"Mempersiapkan diri untuk apa, Pak?" tanya Bimo.


Tiba-tiba saja jantung pria itu berdetak lebih cepat, takut jika Abash memecatnya karena memiliki hubungan spesial dengan satu kantor.

__ADS_1


"Begini, rencananya istri saya ingin mengundurkan diri dari pekerjaannya karena sedang melakukan progam kehamilan. Untuk itu, saya mengusulkan nama kamu untuk menggantikan istri saya bergabung dengan tim cobra," jelas Abash yang mana membuat Bimo benar-benar terkejut.


"Bapak serius?" tanya Bimo tak percaya.


"Ya, saya serius. Tapi, ini masih belum pasti juga. Saya sudah mengusulkan nama kamu untuk menggantikan Sifa, tapi semuanya kembali lagi kepada keputusan Pak Farhan, apakah beliau menerima usulan saya atau ingin mencari pengganti Sifa sendiri," jawab Abash.


"Jadi, saya harap kamu jangan terlalu banyak berharap untuk satu hal itu. Saya mengatakan kepada kamu untuk mempersiapkan diri, agar kamu tidak terkejut dan bisa menyelesaikan semua pekerjaan kamu."


"Baik, Pak. Saya mengerti."


"Baiklah, hanya itu yang ingin saya sampaikan. Silahkan kamu kembali bekerja," titah Abash.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bimo.


"Silahkan."


Bimo pun bangkit dari tempat duduknya, kemudian dia mulai berbalik dan melangkahkan kakinya keluar ruangan.


"Ah ya, Bimo. Bagaimana dengan rencana pernikahan kamu dengan Amel? Apa berjalan dengan lancar?" tanya Abash menghentikan langkah kaki Bimo.


Bimo berbalik dan tersenyum kecut. "Mohon doanya, Pak. Semoga niat baik saya untuk mempersunting Amel di mudahkan."


Abash menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah, saya doakan yang terbaik untuk kamu."


"Terima kasih banyak, Pak."

__ADS_1


"Dan satu lagi, kalau kamu memiliki masalah untuk menghadapi keluarga Amel, jangan segan-segan untuk meminta tolong kepada saya," ujar Abash dengan tulus.


"Baik, Pak. Terima kasih banyak." Bimo tersenyum dan kembali berpamitan kepada Abash, pria itu harus kembali bekerja secara profesional.


__ADS_2