
"Sifa, gimana? Kamu sudah mempersiapkan diri untuk tes senin depan?" tanya Bimo yang baru saja menghampiri meja gadis itu.
"Hmm, saya akan berusaha semaksimal yang saya bisa, Mas," ujar Sifa.
"Jika kamu butuh bantuan, kamu bisa bilang ke saya. Saya punya beberapa buku yang mungkin bisa kamu pelajari," ujar Bimo dengan tersenyum lebar.
"Iya, Mas. Terima kasih atas tawarannya."
"Baiklah, besok akan saya bawakan ya," tawar Bimo.
"Eh, gak papa, Mas. Saya juga udah banyak pinjam buku di perpustakaan kok," tolak Sifa dengan halus. 'Juga buku yang di belikan oleh Pak Abash,' sambungnya lagi dalam hati.
"Gak masalah. Lagi pula, semakin banyak buku, semakin banyak ilmu yang bisa kamu serap. Buku-buku di perpustakaan itu kan isinya rata-rata masih standar ya. Kalau buku saya ini, saya beli di toko buku ternama itu loh, jadi sudah jelas kalau di jamin bagus. Sesuailah sama harganya," ujar Bimo sambil terkekeh pelan.
"Duh, gak papa, Mas. Saya jadi ngerepotin Mas aja nanti," ujar Sifa.
"Enggak kok, kamu gak ngerepotin saya. Malahan, saya senang bisa membantu kamu," ujar Bimo sambil tersenyum tersipu malu.
Sifa hanya bisa menyengir dan tersenyum kikuk, gadis itu bingung harus menolak dengan cara halus yang bagaimana lagi. Bukannya dia ingin menolak bantuan Bimo, akan tetapi buku yang dia pinjam dari perpustakaan keluarga Moza dan juga buku yang di berikan oleh Abash, sudah cukup untuknya.
Lagi pula, waktunya tidak banyak lagi untuk membaca semua buku itu, belum lagi dia harus mengajukan judul skripsinya.
*
Sifa menoleh ke arah jam tangannya, gadis itu pun bergegas membereskan semua berkas yang ada di atas meja, karena dia harus bergegas menuju kampus.
"Sifa, makan siang bareng yuk," ajak Bimo.
"Emm, maaf, Mas. Saya gak bisa. Saya harus segera ke kampus," tolak Sifa.
"Oh, ya udah kalau gitu. Gimana kalau aku antar kamu ke kampus?" tawar Bimo.
"Eh, gak usah, Mas. Saya bisa sendiri kok."
"Gak papa. Lagian kalo pergi sama saya, lebih hemat waktu, karena saya punya mobil yang akan mengantarkan kamu ke kampus tanpa harus berdesak-desakan dan kepanasan."
"Duh, beneran, Mas. Saya bisa pergi sendiri. Lagian, saya udah janjian kok dengan teman."
"Teman? Cowok?" tanya Bimo dengan alis yang terangkat sebelah.
Sifa menggelengkan kepalanya. "Bukan, temen cewek kok."
__ADS_1
"Oh." Bimo mendesah pelan dengan rasa syukur. Setidaknya, dia memiliki kesempatan untuk mendekati Sifa.
"Kalau begitu, saya permisi dulu," ujar Sifa dan berjalan meninggalkan Bimo.
"Haaah, manis banget senyum kamu, Sifa. Bikin aku gak bisa tidur," lirih Bimo sambil menatap kepergian Sifa yang semakin menjauh darinya.
*
Sifa sedang menunggu ojol yang dia pesan, gadis itu sebentar-bentar melihat ke jam tangannya. Tak berapa lama gadis itu mengernyitkan keningnya, di saat melihat sebuah mobil berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil itu pun perlahan turun dan menampilkan siapa yang ada di dalam sana.
"Hai, Sifa. Ayo," ajak Amel.
Sifa mengerjapkan matanya, merasa sedikit terkejut dengan apa yang dia lihat saat ini. Setau dia, Amel memang anak orang berada, terkadang pergi ke kampus dengan menggunakan mobil, atau pun menggunakan motor. Tapi kali ini, mobil yang di tumpangi oleh Amel, terlihat sangat mewah dan mengkilat.
"Ck, kok bengong sih," gerutu Amel dan turun dari mobil.
"I-ini seriusan kamu?" tanya Sifa dengan gugup.
"Iya, ini aku. Ayo," ajak Amel dan sedikit menarik tangan Sifa.
"Eh, itu kan Pak Abash ya!" seru Amel dengan mata yang berbinar.
"Hah?" Sifa mengikuti arah pandang Amel, hingga gadis itu pun melihat sang bos yang sedang berjalan bersama Didi menuju mobilnya.
Sifa pun menganggukkan kepalanya pelan untuk memberi hormat di saat Abash melewati dirinya.
"Pak Abash," panggil Amel, yang mana membuat pria itu pun menghentikan langkahnya.
Amel tersenyum lebar dan menghampiri Abash yang berdiri tak jauh darinya.
"Bapak masih ingat saya?" tanya Amel.
Abash pun mengernyitkan keningnya, pria itu sama sekali tak mengingat siapa gadis yang ada di hadapannya. Tapi, wajah itu memang terlihat sangat tidak asing dalam ingatannya.
"Saya Amel, sahabatnya Sifa. Kita pernah makan bareng di cafe waktu itu," ujar Amel mengingatkan.
Sifa terkejut dengan apa yang Amel katakan, sehingga membuat gadis itu menoleh ke arah sekitarnya. Di mana para seniornya mendengar apa yang Amel katakan dan mereka pun terlihat berbisik-bisik sambil melirik ke arah Sifa.
Abash melirik ke arah Sifa, pria itu teringat akan nama gadis yang di sebut oleh Sifa tadi pagi. "Oh, Amel?" tebak Abash.
__ADS_1
Amel pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum dengan lebar. Dia sangat bahagia sekali, karena Abash mengingat namanya.
"Iya, saya Amel. Saya senang Bapak bisa mengingat saya," ujar Amel dengan tersipu malu.
"Maaf, saya sedang terburu-buru saat ini. Permisi," ujar Abash dan meninggalkan Amel yang masih menatapnya dengan penuh kekaguman.
"Iya, hati-hati, Pak," ujar Amel pelan sambil menatap kagum kepada Abash.
Sifa pun melihat jika Abash sudah menjauh dari sahabatnya, sehingga gadis itu pun berjalan mendekati Amel.
"Amel," bisik Sifa yang sudah berada di samping Amel.
"Ya?"
"Kita buruan ke kampus yuk," ajak Sifa yang sudah gugup di pandang oleh para seniornya.
"Oh, iya. Yuk lah."
Amel pun menggandeng tangan Sifa dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sifa pun sedikit bernapas lega, karena dia bisa menghindar dari tatapan elang para seniornya.
"Hmm, Pak Abash kok cuekin kamu tadi?" tanya Amel.
"Hah? kenapa?"
"Tadi, Pak Abash kok cuekin kamu? Bukannya kalian saling kenal ya? Dekat juga kelihatannya," ujar Amel memancing sahabtnya itu.
"Oh itu. Hmm, sebenarnya, di kantor tidak ada yang tahu, jika aku sedikit dekat dengan Pak Abash," ujar Sifa sambil meringis?
"Sedikit? Bagaimana kata sedikit itu bagi kamu, Sifa? Jika kalian pergi bersama ke kantor?" batin Amel dengan kesal.
"Oh, gitu ya." ujar Amel sambil memaksakan senyumnya.
"Eh, tapi ini kita naik mobil siapa?" tanya Sifa penasaran.
"Mobil aku," jawab Amel tanpa menoleh ke arah Sifa.
"Mobil kamu? Berarti, sebenarnya kamu ini siapa?" tanya Sifa dengan kening mengkerut.
"Nanti kamu juga bakal tau siapa aku, kok." ujar Amel dengan tersenyum penuh arti.
Beberapa jam lalu, gadis itu pergi ke kantor sang papi, setelah melihat Sifa turun dari mobil Abash. Gadis itu pun meminta kepada sang papi, agar dirinya bisa menjadi anak magang di sana. Apapun dan bagaimana caranya, Amel tidak mau tahu. Dia ingin bekerja di kantor milik pujaan hatinya itu.
__ADS_1