
"Aww ..." ringis Arash saat Putri menjatuhkannya ke lantai.
Putri yang menyadari jika pria yang berjalan menghadangnya adalah Arash pun, langsung terkejut dan membantu pria itu untuk berdiri.
"Maaf ... maaf," sesal Putri yang sudah melukai Arash.
"Gak papa," cicit Arash pelan sambil memutar bahunya.
"Beneran gak papa? Mau di periksa? Aku takut tangan kamu terkilir," ujar Putri yang mana membuat Arash terkekeh pelan.
"Serius, aku gak papa. Kamu tenang aja, ya," ujar Arash yang mana membuat Putri semakin merasa bersalah.
"Beneran gak papa?" tanya Putri lagi.
"Iya, beneran."
Putri menghela napasnya pelan, gadis itu pun menyentuh bahu Arash untuk memastikan jika pria itu benar-benar tak apa-apa.
"Beneran kan? Gak papa? Gak sakit juga, kok," ujar Arash kepada Putri.
Sebenarnya pria itu sudah menahan nyeri pada bahunya di saat Putri mencengkram pelan pada bahunya.
"Hmm, syukurlah," lirih Putri pelan.
"Kamu sudah selesai konsulnya?" tanya Arash yang mana membuat Putri mengernyitkan keningnya.
"Sudah, kenapa?"
"Ayo, kita pulang. Sekalian kita cari makan siang," ajak Arash yang mana membuat Putri semakin mengernyitkan keningnya.
"Kok malah bengong? Ayo," ajak Arash lagi yang masih di abaikan oleh Putri.
Arash sudah berjalan lima langkah dari Putri, kemudian pria itu kembali di saat menyadari jika gadis itu tidak mengikutinya.
"Kenapa, hmm?" tanya Arash yang sudah berbalik kepada Putri.
"Kamu ke sini karena aku?" tanya Putri dengan pelan.
"Iya, aku ke sini karena kamu. Aku merasa khawatir, makanya tadi aku jemput kamu di kantor, tapi kata satpam kalau kamu udah pergi dengan menggunakan taksi. Makanya aku susul ke sini," ungkap Arash yang mana membuat jantung Putri semakin berdegup kencang.
"Ke-kenapa? Kenapa kamu jemput aku? Padahal ak---."
"Bukankah tadi aku sudah katakan? Jika aku mengkhawatirkan kamu?" ujar Arash yang mana membuat Putri mengerjapkan matanya.
"Ta-tapii---,"
"Gak ada tapi-tapi. Ayo, kita cari makan. Aku lapar," ajar Arash yang sudah menggenggam tangan Putri dan menariknya dengan pelan.
Putri pun menatap ke arah tangannya yang di genggam oleh Arash, sehingga membuat pikiran dan hatinya berdebat saat ini.
"Sadarlah, Put. Dia hanya mengkhawatirkan kamu, karena tak ingin jika kembarannya di salahkan jika terjadi apa-apa sama kamu," batin Putri berkata.
Di sudut lain, Luna mengernyitkan keningnya di saat melihat Putri bergandengan tangan dengan Arash.
"Apa mereka diam-diam punya hubungan yang khusus?" lirih Luna yang merasa penasaran dengan sahabatnya itu.
__ADS_1
*
"Kita mau ke mana?" tanya Putri saat baru saja masuk ke dalam mobil Arash.
"Cari makanan yang enak," jawab Arash dengan tersenyum manis
Deg ...
Lagi, Putri merasakan debaran yang sama di saat melihat senyuman itu.
"Putri, sadarlah. Dia mencintai Sifa. Kamu jangan terlena dengan kebaikan dan perhatian yang dia berikan untuk kamu, Putri," lirihnya dalam hati.
Putri mengernyitkan keningnya, di saat mobil yang di kendarai Arash berhenti tak jauh dari rumah sakit. Lebih tepatnya mereka berhenti di sebuah cafe yang bernuansa modern, tapi terkenal sangat murah sekali harga setiap porsi makannya.
Ya, Putri pernah makan di cafe ini bersama Luna, saat dirinya baru tiba di Jakarta.
"Ayo," ajak Arash yang diangguki oleh Putri.
Mereka berdua pun berjalan bersisian dari parkiran menuju pintu masuk cafe tersebut. Tiba-tiba saja sebuah motor melaju kencang sehingga hampir saja menabrak Putri.
Mungkin, jika Arash tak bergerak cepat, bisa di pastikan jika Putri pasti akan dilarikan ke rumah sakit.
Saat mendengar suara motor yang terdengar kuat, Arash menoleh kebelakang dan langsung menarik tubuh Putri, hingga mereka terjatuh di aspal bersama, dengan posisi Arash melindungi gadis itu.
"Kamu gak papa?" tanya Arash memastikan jika Putri tak terluka.
"Ya," lirih Putri dengan gemetar.
Arash bangkit setelah mendengar jawaban Putri, kemudian pria itu bergegas mengejar pengemudi sepeda motor yang ingin mencelakai Putri.
"Ya," jawab Putri dengan jantung yang berdebar hebat, bahkan saat ini lutut gadis itu masih bergetar.
"Aku tidak bisa mengejarnya," sesal Arash saat setelah kembali ke dekat Putri.
"Ada apa, Rash? Apa yang terjadi?" tanya Mami Vina dengan khawatir.
"Ada pengendara motor yang tiba-tiba ingin menyerempet kami," ujar Arash memberi tahu.
"Apa Lo lihat platnya?" tanya Abash yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
Putri dan Arash pun menoleh ke arah sumber suara.
"Tidak," jawab Arash yang memang tak sempat melihat plat polisi motor tersebut.
"Mbak Putri gak papa?" tanya Sifa yang juga datang bersama Abash.
Tidak, mereka tidak datang berdua. Tapi mereka datang berempat, ada Bimo dan Didi juga bersama mereka.
Saat sedang membaca pesan dari Putri, Abash pun mendapat panggilan jika Lia--office girl yang pernah menjadi rekan kerja Sifa, mengalami kecelakaan. Di tempat kejadian juga ada Bimo yang langsung membawa wanita itu ke rumah sakit.
Saat Abash dan Didi ingin menuju ke rumah sakit, mereka berpas-pasan dengan Sifa yang ingin kembali ke ruangannya. Abash yang mengetahui jika sang kekasih memiliki hubungan baik dengan Lia pun, mengatakan kepada gadis itu jika mereka akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi Lia. Sifa yang mendengar kabar itu pun, meminta ikut kepada Abash, yang langsung di setujui oleh sang kekasih.
Dan, di sinilah mereka. Di cafe milik Mami Vina yang berada di dekat rumah sakit. Mereka memutuskan untuk ke cafe sebelum kembali ke kantor, karena Abash, Didi, dan Bimo belum makan siang, berbeda dengan Sifa yang sudah makan siang bersama Amel.
Saat mereka tiba di parkiran cafe, mereka melihat jika sudah ramai orang di depan pintu cafe. Abash pun berjalan cepat untuk mengetahui apa yang terjadi dengan Putri dan Arash.
__ADS_1
"Iya, aku gak papa," lirih Putri dengan suara yang juga ikut bergetar.
"Ayo, sebaiknya kita masuk ke dalam," titah Mami Vina yang diangguki oleh semua orang.
Sifa pun merangkul Putri untuk berjalan masuk ke dalam cafe.
"Akkh ..." rintih Putri saat merasakan jika lututnya terasa lemas.
"Kamu gak papa?" tanya Arash yang sudah berada di samping Putri.
"Ya, tapi, lututku terasa lemas," lirih Putri merasa tak enak.
"Biar aku gendong kamu ke dalam," ujar Arash dan membungkukkan tubuhnya.
"Eh, tidak usah---."
Terlambat, Arash sudah menggendong Putri. Tapi, detik selanjutnya pria itu meringis kesakitan dan kembali menuruni gadis itu dari gendongannya.
"Kamu gak papa?" tanya Putri merasa khawatir dengan Arash, apa lagi saat ini pria itu memegang bahunya.
"Ya, hanya saja--Akkhh ..." Arash memekik di saat Sifa menekan bahunya.
"Bahu Mas Arash terkilir," ujar Sifa memberi tahu.
"Sebaiknya kamu ke rumah sakit, atau hubungi Tono untuk memanggil tukang pijit," titah Putri.
"Ya, nanti aku akan menghubungi Tono."
"Jangan di biarkan terlalu lama, nanti takutnya berangin dan semakin susah sembuhnya. Izinkan saya yang mengurutnya," pinta Sifa yang merasa ikut khawatir dengan keadaan Arash.
"Kamu bisa ngurut?" tanya Arash.
"Bisa, percayakan bahu Lo kepada Sifa," titah Abash yang mana membaut Arash dan Bimo mengernyitkan keningnya.
"Ayo, masuklah, urut di dalam saja, biar Mami siapkan minyaknya," ujar Mami Vina yang sudah duluan masuk ke dalam cafe.
"Ayo, Mbak," ajak Sifa yang sudah merangkul tangan Putri.
"Akkh ..." lirih Putri lagi, di mana lututnya benar-benar masih terasa lemas dan sulit di gerakkan.
"Kalian duluan saja masuk ke dalam. Saya duduk sini dulu, sampai lutut saya tidak terasa lemas lagi," ujar Putri menyuruh semuanya untuk masuk duluan.
"Ayo," ajak Abash yang mana membuat Sifa melepaskan secara perlahan rangkulannya dari lengan Putri.
"Tidak apa, saya hanya butuh istirahat sebentar saja," tolak Putri yang merasa tak enak dengan Sifa.
"Gak papa, lagian membiarkan kamu sendirian di luar, itu sama saja membahayakan keselamatan kamu," ujar Abash yang mana terdengar penuh perhatian di telinga Sifa.
"Tap-tapi ..."
Putri tak bisa lagi berkata-kata atau pun menolak Abash, karena saat ini gadis itu sudah berada di dalam gendongan pria itu. Abash pun berjalan melewati Sifa, tanpa melirik ke arah gadis itu sedikit pun.
"Ayo," ajak Arash yang mana membuat perhatian Sifa pun teralihkan.
"Ya."
__ADS_1