
"Brengsek," maki Putri pelan dan ingin mengejar Yosi.
"Put, tahan emosi kamu," tahan Om Martin sambil memegang lengan Putri.
"Tapi, Om, dia---."
"Dia sengaja berkata sepeti itu, untuk memancing emosi kamu. Ingat, ini di kantor polisi, jangan sampai kamu bersikap arogan dan kriminal. Bisa-bisa kamu yang gantian masuk ke sel," ujar Om Martin yang mana membuat Putri menghela napasnya dengan kasar.
"Ayo, sebaiknya kita pulang dan menyusun rencana yang lain," ajak Om Martin yang di angguki oleh Putri.
Arash sedari tadi tak melepas pandangannya dari Putri. Gadis itu terlihat sangat tegar dan kuat untuk menghadapi masalah yang sedang di alaminya. Tidak terlihat seperti gadis pada umumnya, padahal saat ini dirinya dan keluarganya terancam dalam bahaya.
Bahkan, Putri tidak menggunakan kekuasaan papa dan adiknya untuk membantu dirinya memecahkan masalah yang sedang dia hadapi. Gadis itu lebih memilih menghadapinya sendiri.
Harus di ingat, Putri bukan berasal dari kalangan biasa. Papanya seorang pengacara hebat yang merangkap menjadi seorang ceo di perusahaannya. Di mana saat ini perusahaan tersebut sudah di alihkan kepada Bara, adik cowok Putri satu-satunya.
Akan tetapi, melihat siapa yang di gandeng oleh Putri sebagai pengacaranya, membuat Arash yakin, jika gadis itu bukanlah pengacara sembarangan speerti apa yang terlihat saat ini.
Ya, Putri adalah pengacara yang pernah menangani kasus tentang mafia saat di Bandung. Alasan gadis itu pindah ke Jakarta adalahuntuk menjadi jati diri yang baru dan menghindari kasus-kasus yang berbahaya seperti dulunya, demi permintaan sang mama yang takut akan jika putri sulungnya itu terluka.
"Aku harus mencari tahu tentang gadis itu," lirih Arash sambil menatap punggung Putri yang semakin menjauh.
*
Abash sudah menyuruh orang untuk menjemput Sifa, kemudian membawa gadis itu ke tempat di mana mereka akan bertemu.
"Kenapa harus di sini?" lirih Sifa dengan jantung yang berdegup kencang.
Sifa sedang melihat ke sekitarnya, di mana tempat yang di pilih oleh Abash adalah taman hiburan. Ya walaupun hari ini taman itu tidak terlalu ramai seperti di hari libur biasanya. Tetap saja dirinya harus waspada untuk bertemu dengan orang yang dia kenali, bukan?
"Sifa, bukankah kamu sudah memutuskan utnuk mengumumkan status hubungan kalian?" bisik Sifa pada dirinya sendiri.
Walaupun Sifa sudah meyakinkan dirinya untuk mengumumkan status hubungan mereka, tetapi rasa takut itu tetap saja ada menyelimuti kegundahannya.
"Ayolah, Sifa, ini adalah keputusan yang tepat, Kamu gak mau 'kan kehilangan Mas Abash?" bisiknya lagi di dalam hati.
"Baiklah, mari kita tunjukkan ke semua orang, jika aku adalah pacar Mas Abash, dan Mas Abash hanya milik aku," lirih Sifa pelan dan mencari keberadaan sang kekasih.
"Cari siapa?" bisik seorang pria yang menggunakan masker dan topi.
Sifa terkejut saat pria itu berbisik ke telinganya, akan tetapi suara bariton yang sangat gadis itu kenali pun, membuat rasa takut Sifa pun sirna. Ya, pria itu adalah Abash, kekasih yang dia nanti-nanti sedari tadi.
"Mas?" lirih Sifa dengan kening mengkerut.
Terdengar kekehan dari pria itu.
"Ayo," ajak Abash sambil menggenggam tangan Sifa.
Sifa menatap tangannya yang di genggam oleh Abash, kemudian dia tersenyum dan mengikuti sang kekasih.
"Mas, kenapa ngajakin ketemuan di sini?" tanya Sifa dengan kening mengkerut saat mereka sedang mengantri di sebuah wahana yang sangat ingin gadis itu naiki sedari dulu.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu takut jika ada orang yang mengenali kita?" ujar Abash dengan terkekeh.
"Bukan gitu, Mas, tapi--,"
"Kamu tidak suka naik bianglala?" tanya Abash lagi.
"Tidak, bukan begitu, tapi---."
"Suka atau tidak?" tanya Abash.
"Aku suka," jawab Sifa dengan tersenyum.
"Ayo, sekarang giliran kita," ujar Abash dan menuntun sang kekasih untuk masuk ke dalam keranjang bianglala.
Sifa menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat.
"Hati-hati," ujar Abash sambil memegangi Sifa.
"Iya, Mas."
Sifa pun duduk di kursi yang sudah di sediakan, sedangkan Abash duduk di kursi yang berhadapan dengan gadis itu.
Setelah mereka duduk dengan nyaman, perlahan, bianglala pun bergerak naik ke atas.
Abash menatap wajah Sifa yang terlihat penuh binar saat sudah berada di atas ketinggian.
"Gimana? Kamu suka?" tanya Abash kepada sang kekasih.
"Iya, Mas. Aku suka. Ini adalah pertama kalinya aku naik roda raksasa!" seru Sifa dengan mata yang berkaca-kaca.
"Bianglala namanya," ujar Abash dengan tersenyum.
"Iya, Mas, bianglala."
"Aku senang kalau kamu suka," ujar Abash sambil menggenggam tangan sifa.
Sifa pun menatap ke arah tangannya yang di genggam oleh sang kekasih. Gadis itu dapat melihat jika ada yang tidak baik dari wajah Abash.
"Ada apa, Mas?" tanya Sifa dengan jantung yang berdebar.
Abash menghela napasnya berat dan kasar, kemudian dia memberanikan diri untuk menatap wajah sang kekasih.
"Tidak ada," jawab Abash dengan tersenyum.
"Lalu, kenapa wajah, Mas, terlihat murung?" tanya Sifa dengan curiga.
"Mungkin hanya kelelahan saja," jawabnya lagi dengan tersenyum tipis.
"Mas, apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Sifa lagi yang berharap jika kecurigaannya tentang Abash dan Putri tidaklah benar.
"Tidak ada, sayang," jawab Abash sambil mengusap pipi Sifa.
__ADS_1
"Jangan bohong, Mas."
"Aku serius, tidak ada yang aku sembunyikan. Aku hanya merasa lelah dengan masalah yang datang akhir-akhir ini. Untuk itu, aku ingin melupakannya bersama kamu. Aku ingin menghabiskan waktu aku malam ini bersama kamu, Sifa," ujar Abash yang mana membuat Sifa menghela napasnya pelan.
Benarkah jika Abash tak menyembunykkan sesuatu darinya?
Bianglala pun terus berputar dengan perlahan. Abash pun menarik tubuh Sifa dan mendudukkan gadis itu ke pangkuannya.
"Mas, kalau ada yang lihat gimana?" bisik Sifa dengan gugup.
"Biarin aja, biar kita di nikahkan terus," ujar Abash sambil menyandarkan kepalanya di dada sang kekasih.
"Mas? Jangan begini, nanti kita di kira pasangan mesum lagi," cicit Sifa dengan wjah merona.
"Aku hanya ingin mendengar detak jantung kamu, Sifa," lirih Abash dengan mata yang tertutup.
Saat mereka sudah berada di tempat yang tertinggi, tiba-tiba bianglala pun berhenti berputar.
"Mas? Bianglalanya berhenti," ujar Sifa dengan takut.
"Hmm, aku yang menyuruhnya," jawab Abash dengan pelan.
Sifa pun menundukkan wajahnya. "Mas, apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Sifa lagi.
Hening, tak ada jawaban dari Abash. Sifa masih setia diam dan menanti sang kekasih untuk bersuara.
"Aku lelah, Fa. Lelah," lirih Abash.
"Ada apa, Mas?" tanya Sifa yang sudah menangkup wajah sang kekasih dan mengarahkan wajah Abash untuk menatap ke arahnya.
"Aku lelah, aku lelah harus bersembunyi-sembunyi untuk bertemu dengan kamu," bisik Abash.
"Mas, kalau kamu lelah, mari kita akhiri semuanya."
Abash merenggangkan jarak di antara mereka. "Maksud kamu?" tanyanya dengan kening mengkerut dan nada suara tak suka.
"Iya, kita akhiri hubungan tersembunyi ini. Mari kita katakan kepada semua orang, kalau aku ini pacar kamu, dan kamu pacar aku," ujar Sifa dengan tersenyum manis.
"Kamu serius, Sifa?" tanya Abash dengan menelisik ke mata sang kekasih.
"Iya, Mas. Aku serius. Bukankah aku sudah mengatakannya waktu itu kepada kamu?"
Abash menatap dalam ke mata Sifa, dia pun semakin sedih dengan apa yang gadis itu katakan. Kenapa di saat dia ingin menyembunyikan hubungan mereka, Sifa baru menyetujui jika hubungan ini di umumkan kepada semua orang.
"Aku tidak bisa, Sifa. Belum saatnya aku mengenalkan kamu ke publik," ujar Abash yang mana membuat hati Sifa sedikit terluka dan kecewa.
Kenapa rasanya saat ini waktu tak adil dengannya? Di saat dirinya sudah siap untuk mengumumkan hubungan ini, kenapa Abash malah masih ingin menyembunyikan status mereka?
Apa benar ada sesuatu yang terjadi di antara Abash dan Putri?
"Kenapa, Mas? Ada apa?" tanya Sifa dengan perasaan takut.
__ADS_1