Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 217 - Laporan Joko


__ADS_3

Mama Kesya yang hendak masuk ke dalam kamar inap Abash pun, menghentikan pergerakan tangannya yang hendak ingin menekan handle pintu. Mama kesya ikut tersenyum di saat Sifa dan Abash terlihat berbaikan,.


Ya, Mama Kesya dapat menebak, jika di antara Abash dan Sifa sedang terjadi perang dingin. Cukup melihat ekspresi keduanya yang terlilhat murung dan tidak secerah bisanya, seorang ibu sudah bisa merasakan apa yang terjadi kepada anaknya.


"Loh, kenapa gak masuk, Ma?" tanya Papa Arka yang sudah berada di belakang Mama Kesya.


Mama Kesya pun meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberikan kode kepada Papa Arka untuk diam.


"Kenapa?" tanya Papa Arka sambil berbisik.


Mama Kesya pun menunjuk ke arah kamar inap Abash, di mana Sifa sedang menangis sesenggukan dan Abash mengusap air matanya sambil menenangkan sang kekasih.


"Sepertinya mereka sudah baikan, ya?" bisik Papa Arka.


"Sepertinya. Yuk lah, Pa, kita biarkan saja dulu mereka menikmati momen berbaikan," ajak Mama Kesya meninggalkan kamar inap sang putra.


Di tempat lain.


Arash yang sedang duduk di sofa pun, tak henti-hentinya menatap ke arah pintu apartemen. Pria itu seolah sedang menunggu seseorang muncul dari sana.


Desi yang baru saja keluar dari dalam kamar pun, mengernyitkan keningnya di saat melihat Arash sedikit pun tidak mengedipkan matanya saat menatap ke arah pintu apartemen.


"Woy, kenape lu?" tanya Desi sambil mendaratkan bokongnya di sofa.


"Hah? Oh, gak papa," jawab Arash dan tersenyum kecil kepada Desi.


"Ah ya, Putri tadi kirim pesan sama aku," ujar Desi yang mana membuat manik mata Arash pun membesar.


"Oh ya? Putri bilang apa?" tanya Arash terlihat penuh semangat.


Melihat hal itu, ada ide jahil muncul di dalam pemikiran Desi.


"Gak bilang apa-apa," ujar Desi sambil bangkit dari duduknya.


Araash pun menatap Desi dengan kesal, kemudian pria itu ikut mengangkat bokongnya dan mengekori Desi yang sudah berjalan duluan ke dapur.


"Masa kirim pesan tapi gak bilang apa-apa, sih?" tanya Arash dengan bingung.


"Jadi? Mau bilang apa?" tanya Desi yang sudah mengambil air dan memanaskannya. "Kamu mau kopi? Atau teh?"


"Kopi," jawab Arash dan mendaratkan bokongnya di kursi.


"Putri gak ada bilang dia akan pulang atau enggak gitu?" tanya Arash penasaran.


"Emm, dia bilang kalau dia langsung ke kantor," jawab Desi sambil mengusap selai coklat ke atas roti.

__ADS_1


"Oh, jadi dia pergi sama siapa ke kantor?" tanya Arash.


"Ya mana aku tau? Kalau kamu penasaran, coba aja tanya sendiri," ujar Desi sambil mengulumkan senyumnya.


"Siapa yang penasaran?" elak Arash dan mengambil gelas yang di ulurkan oleh Desi kepadanya.


"Ya mana tau, kan. Kamu kangen dia gitu, setelah kejadian 'mendesah' kalian di kamar mandi," kekeh Desi yang mana membuat Arash menyemburkan kopi yang baru saja masuk ke dalam mulutnya.


Byyuuuurrrr ....


Desi pun mengulum bibirnya, di saat melihat ekspresi wajah Arash yang sangat menggemaskan. Bahkan, saat ini wajah pria itu sudah terlihat memerah sempurna.


"Dari mana kamu tau?" tanya Arash merasa penasaran.


"Kamu kayak gak tau Joko bagaimana aja saat memberikan laporan," kekeh Desi yang mana lagi-lagi membuat Arash membelalakkan matanya.


"Joko sudah memberikan laporan?" tanya Arash dengan terkejut.


"Lebih tepatnya laporan ke Daddy Bara," ujar Desi sambil terkikik pelan.


"Astaghfirullah, Joko!" geram Arash sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kenapa harus laporan ke Daddy, sih?" lirihnya dengan wajah yang semakin merona.


"Termasuk kamu memberikan laporan kepada Daddy?" tanya Arash yang di jawab anggukan oleh Desi.


"Dasar tukang ngadu," cibir Arash.


"Atasan, cuy," jawab desi yang mana membuat Arash kembali mencebikkan bibirnya.


Arash pun menghela napasnya pelan, pria itu entah mengapa merindukan masakan Putri.


"Kamu mau selai coklat atau nanas?" tanya Desi yang ingin membuatkan sarapan untuk Arash.


Arash pun menaikkan pandangannya menatap ke arah Desi. "Masakin aku nasi goreng, dong!" pinta Arash yang mana membuat Desi menghentikan pergerakan mengunyahnya.


"Gak salah dengar, aku?" tanya Desi memastikan.


"Hmm, kangen masakan Putri," lirihnya pelan, entah pria itu sadar atau tidak mengatakan hal tersebut, yang jelas pria itu merindukan Putri saat ini.


Duh, baru sehari gak ketemu Putri, sudah membuat Arash merindukan gadis itu. Gimana sih, Arash? Katanya cinta sama Sifa, kok malah merindukan Putri, sih?


Atau jangan-jangan dia udah?


Ah, gak mau nebak-nebak. Takutnya emak othor cuma mainin perasaan readers aja 🤭.

__ADS_1


*


Putri baru saja menyelesaikan sarapannya dengan Om Martin dan Soni--keponakannya Om Martin. Gadis itu pun sudah siap mencebloskan Yosi ke dalam penjara. Semua bukti sudah gadis itu kantongi, bahkan dia juga mendapatkan bukti kuat dengan video yang gadis itu rekam melalui bros yang dia gunakan semalam.


"Kamu pulang dari kantor nanti sama siapa, Nces?" tanya Soni kepada Putri.


"Mungkin naik ojek, kenapa?" tanya Putri.


"Mobil kamu mana?"


"Mobil aku kan tinggal di apartemen, ya mau gak mau aku pulang naik ojek aja, lah," jawab Putri lagi.


"Aku jemput, ya," tawar Soni yang mana membuat Putri mengangkat pandangannya dan menatap ke arah pria yang sudah lama tidak dia temui itu.


"Emangnya kamu gak sibuk? Bukannya kamu baru kembali dari Turki dan menjadi oran tersibuk di Jakarta?" tanya Putri dengan nada menggoda.


"Aku sibuk di jam kerja, tapi di luar jam kerja, maka aku bisa melakukan apa yang aku mau, kan?" ujar Soni yang mana membuat Putri menganggukkan kepalanya.


"Hmm, kamu benar."


"Jadi, biar aku aja yang antar kamu ke kantor, agar tahu di mana firma hukum kamu," ujar Soni yang langsung di setujui oleh Putri.


"Oke," jawab Putri.


Soni dan Putri sudah saling mengenal, walaupun jarak umur mereka terpaut lima tahun, tetapi Soni selalu membuat dirinya seolah sebaya dengan Putri dan lainnya. Mereka sudah lama tidak bertemu, hingga kesempatan kali ini membuat mereka kembali bertemu setelah tujuh tahun berpisah, karena Soni harus mengembangkan bisnisnya yang ada di Turki.


Om Martin yang melihat tatapan mata sang keponakan pun, bisa menebak jika pria itu masih mencintai Putri, sejak lima belas tahun yang lalu hingga sekarang. Sayangnya Putri hanya menganggap Soni sebagai abang.


Tapi itu kan dulu? Sekarang Soni sudah berbeda, pria itu sudah terlihat lebih dewasa dan menjadi pria yang matang untuk membangun sebuah rumah tangga. Dari dulu Om Martin sudah ingin menjodohkan Putri dengan Soni, akan tetapi sahabat Om Martin yang juga berstatus orang tua Putri pun, menentang keras sebuah perjodohan. Sehingga membuat Om Martin pun mengurungkan niatnya untuk menjodohkan Putri dengan Soni.


Dan melihat bagaimana reaksi Putri ke Soni pun, membuat Om Martin yakin, jika Soni pasti bisa mengubah perasaan Putri kepadanya. Semoga saja, waktu yang cukup lama memisahkan mereka, bisa menumbuhkan benih-benih cinta itu.


"Ah ya, kamu masih suka latihan bela diri, gak?" tanya Putri kepada Soni.


"Tentu, kenapa?" tanya Soni balik.


"Aku punya tempat latihan bela diri yang keren. Kamu mau ikut?" ajak Putri.


"Kapan?" tanya Soni dengan penuh semangat.


"Besok," ajak Putri yang langsung di setujui oleh Soni


"Oke, aku jemput kamu, ya?" tawar Soni yang langsung di angguki oleh Putri.


Ya, mungkin dengan mendekatkan diri dengan Soni, bisa membuat Putri melupakan perasananya kepada Arash. Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2