Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 75 - Pegang Tangan


__ADS_3

“Lepas, menjauh brengsek.”


“Dasar gadis nakal, lihat saja, aku akan membalas semua perbuatan kamu,” geram pria asing itu dan melayangkan tangannya ke arah Sifa.


“Aaa ....”


Sifa menundukkan wajah sambil melindungi kepalanya dengan tangan.


Sraaap ...


Tangan pria itu pun tertahan di udara, di mana ada sebuah tangan yang telah menahan tangan pria itu.


“Siapa kau?” tanya pria asing itu. “Jangan ikut campur.”


Sifa menatap pria yang saat ini menolongnya. “Pak Abash,” lirihnya.


Ya, Abash lah yang saat ini sedang menolong Sifa. Abash pun melayangkan tinjunya ke arah pria asing yang ingin melukai Sifa.


Buug ...


“Dasar brengsek, beraninya kau---,”


“Berdirilah dan lawan aku,” tantang Abash penuh dengan amarah sambil menarik kerah baju pria itu.

__ADS_1


“Pak, sudah. Hentikan. Sebaiknya kita lapor hal ini ke polisi saja,” ujar Sifa sambil menahan lengan Abash.


“Kamu benar, sebaiknya kita memanggil polisi.” Abash pun melepaskan kerah baju pria itu dengan kasar, kemudian dia pun menghubungi pihak manager restoran untuk mengurus kasus pelcehan yang hampir di alami oleh Sifa.


Abash menyuruh cleaning service yang sedang bekerja membersihkan toilet pun  memanggil manager restoran. Tak berapa lama manager restoran pun datang dengan satpam yang bertugas.


Abash menyuruh manager restoran untuk memeriksa cctv sebagai bukti untuk menjebloskan pria tak berakhlak itu ke dalam penjara.


“Bapak gak papa?” tanya Sifa dengan khawatir.


Abash menoleh ke arah Sifa, pria itu pun melihat kondisi wajah dan tubuh gadis itu.


“Kamu gak papa? Apa ada yang sakit?” tanya Abash dengan khawatir.


“Saya gak papa. Bapak sendiri?” tanya Sifa.


Sifa menghela napasnya pelan, wanita itu pun memperhatikan keseluruhan tubuh Abash. Sungguh, Sifa sangat penasaran dengan keadaan sang bos saat ini. Pria yang tadi ingin melecehkan Sifa pun langsung di bawa satpam menuju ruang interogasi.


“Silahkan Tuan dan Nona juga ikut kami ke ruang interogasi untuk menjadi saksi dan korban,” ujar Manager restoran tersebut.


“Baiklah,” jawab Abash tanpa tersenyum.


Abash pun berjalan di belakang manager, tetapi tiba-tiba saja lengan pria itu di tahan oleh Sifa.

__ADS_1


“Bapak seriusan gak papa kan?” tanya Sifa dengan tatapan khawatir.


“Iya, saya beneran gak papa kok.”


Sifa tak percaya, wanita itu pun memeriksa tubuh Abash hingga berakhir di tangan pria itu.


“Syukurlah gak papa,” lirih Sifa sambil memegang tangan Abash.


“Apa yang kalian lakukan?” tanya Arash yang mana membuat Abash dan Sifa menoleh, masih dengan posisi Sifa memegangi tangan Abash.


“Kami?” tanya Abash dan menoleh ke arah Sifa. Sifa pun mengikuti arah pandang Abash dan menyadari jika saat ini dia sedang menggenggam tangan sang bos.


“Aaampp ...”


Bruuk ..


“Aww ...” lirih Abash yang mana tubuhnya terbentur di dinding karena Sifa mendorongnya.


“Haaah? Ya ampun, maaf, Pak,” cicit Sifa sambil menutup mulutnya dan membantu Abash berdiri.


“Sudah, tidak usah pegang saya,” desis Abash dengan kesal.


Sifa pun memanyunkan bibirnya karena merasa bersalah. “Maaf, gak sengaja,’ lirihnya lagi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Abash menghela napasnya pelan, pria itu merasa kesal karena Sifa mendorong tubuhnya di saat Arash mendapati posisi mereka yang menurutnya cukup intim.


“Kenapa memangnya kalau Arash lihat kamu pegang tangan aku? Salah?” tanya Abash dalam hatinya sambil melirik sinis ke arah Sifa.


__ADS_2