Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 222 - Bisikan Kak Lucas


__ADS_3

Sifa sudah menyelesaikan mandinya. Gadis itu pun keluar dari dalam kamar mandi dan terkejut karena keberadaan Didi--asisten Abash.


"Non," sapa Didi kepada Sifa dengan penuh hormat


"Eh, Pak Didi," lirih Sifa sambil berjalan mendekat ke arah mereka.


"Panggil Didi aja, Non, kalau di luar kantor," ujar Didi yang mana membuat Sifa mengerjapkan matanya.


"Ma-maksudnya?" tanya Sifa dengan bingung.


"Non Sifa kan sudah meresmikan hubungannya kepada keluarga Pak Abash. Maka dari itu, sudah sepatutnya Non Sifa memaggil saya dengan sebutan nama saja," ujar Didi dengan tersenyum sopan, tidak seperti biasanya.


"Duh, saya jadi bingung. Terus, kenapa Pak Didi panggil saya dengan panggilan Non?" tanya Sifa sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.


"Karena kamu calon istri aku, sayang," jawab Abash sambil menutup laporan yang baru saja dia tanda tangani.


Sifa pun membulatkan matanya di saat Abash mengatakan hal itu di depan Didi. Apa gadis itu lupa kalau Didi sebenarnya sudah mengetahui hubungan mereka dari awal?


"Mas?" tegur Sifa sambil membulatkan matanya.


"Kenapa? Didi ini kan asisten aku, sayang. Jadi sudah pastilah Didi harus tau semua yang bersangkutan dengan aku. Termasuk hubungan kamu dan aku," jawab Abash dengan santai.


"Tapi,Mas? Sejak kapan?" tanya Sifa bingung.


"Masa kamu gak peka sih? Sejak awal juga Didi sudah tau. Lagi pula, yang merencanakan makan siang kita waktu di kantor, siapa kalau bukan Didi?" ujar Abash yang mana membuat Sifa menggaruk kepalanya sambil menyengir kuda.


"Eh iya, lupa, Mas," kekehnya dengan wajah yang polos.


"Baiklah kalau begitu, Pak. Karena semua dokumen sudah Bapak tanda tangani, saya permisi dulu," pamit Didi sambil menundukkan kepalanya sedikit.


"Iya," jawab Abash tanpa senyum di wajahnya.


Sejak Didi keluar dari ruang inap Abash, Sifa mulai khawatir, jika pria itu akan membocorkan hubungannya dengan sang kekasih. Wajah gadis itu pun terlihat pucat dan gelisah, hal itu dapat di lihat oleh Abash yang memang sedari tadi tidak melepas pandangannya dari sang kekasih.


"Kenapa, hmm?" tanya Abash yang mana mengambil atensi Sifa.


"I-itu, Pak Didi gak akan membocorkan hubungan kita dengan karyawan yang lain, kan?" tanya Sifa dengan ragu.


Abash pun menaikkan alisnya sebelah. Apakah wajah asistennya itu terlihat seperti tidak bisa di percayai?


"Apa kamu tidak mempercayai Didi? Apa dia terlihat seperti tukang gosip?" tanya Abash memastikan pendapat dari sang kekasih

__ADS_1


"Bukan begitu, hanya saja---"


"Sayang," panggil Abash sambil mengulurkan tangannya meminta kepada sang kekasih untuk mendekat.


Sifa pun menuruti keinginan sang kekasih, hingga saat ini dia suda duduk di atas brankar dengan kaki yang menggantung ke bawah.


"Kalau Didi itu mau membocorkan hubungan kita. Dari awal mungkin dia sudah melakukannya. Tapi, Didi itu cukup bisa di percaya, sayang. Jadi, kamu jangan ragukan dia, ya. Rahasia hubungan kita cukup aman bersama dia," ujar Abash yang mana membuat Sifa menganggukkan kepalanya.


"Tapi Mas janji kan? Kalau akan mengumumkan hubungan kita setelah aku lulus menjadi tim cobra," lirih Sifa dengan sendu.


Abash mengusap pipi sang kekasih dan menganggukkan kepalanya. "Iya, sayang."


Ya, Abash dan Sifa sudah sepakat, jika mereka akan mengumumkan hubungan mereka secara resmi ke public, setelah pengumuman dari perusahaan Farhan. Di terima atau tidaknya Sifa di perusahaan itu, maka mereka akan tetap mengumumkan dan meresmikan hubungan mereka. Lagi pula, hubungan Sifa dan Abash sudah mendapatkan lampu hijau dari seluruh keluarga Moza.


Dan, hari ini tugas Sifa adalah menjaga sang kekasih yang terlihat sangat manja sekali.


*


Arash sudah mencoba menghubungi Sifa, tetapi gadis itu tidak juga menjawab panggilannya.


"Bagaimana?" tanya Putri memastikan.


"Tidak di angkat," jawab Arash sambil mencoba kembali menghubung Sifa.


"Apa Sifa di rumah sakit?" lirih Putri yang di dengar oleh Arash.


"Sifa di rumah sakit? Untuk apa?" tanya Arash merasa penasaran dengan pemikiran gadis yang sudah mengacaukan perasaannya.


"Bisa aja, kan? Ayo kita ke rumah sakit," ajak Putri sambil menarik lengan Arash.


Arash pun menatap lengannya yang di tarik oleh Putri, pria itu pun akhirnya mengikuti gadis yang terlihat bersemangat untuk menemui Sifa. Entah apa yang ingin Putri katakan kepada Sifa, hal itu juga membuat Arash merasa penasaran.


Di rumah sakit, Abash yang manja merasa bosan berada di dalam kamar, pria itu pun meminta kepada Sifa untuk membawanya berjalan-jalan ke taman.


"Mas yakin mau jalan-jalan ke taman?" tanya Sifa memastikan.


"Iya, sayang. Aku bosan di dalam kamar," ujar Abash dengan manja.


Sebenarnya pria itu bukan merasa bosan, tetapi berada lama-lama di dalam kamar berdua saja dengan Sifa, membuat salah satu anggota tubuhnya bergerak dengan gelisah. Bahkan, saat ini pikiran pria itu sudah berkelana entah ke mana. Wajar saja, bukan? Karena Abash adalah pria dewasa dan juga normal. Apa lagi saat ini dia bersama dengan orang yang sangat dia cintai.


"Bentar, aku tanya perawat dulu, ya," ujar Sifa yang sudah turun dari atas brankar.

__ADS_1


Saat bersaan pula, Kak Lucas masuk ke dalam dengan tersenyum penuh arti.


"Waah, yang lagi kasmaran, nempel terus kaya ketiak," ujar Kak Lucas sambil terkekeh geli.


"Gak ada yang lebih bagus gitu, Kak? Perumpamaannya?" cibir Abash dengan kesal, yang mana membuat Sifa terkekeh geli.


"Sifa aja gak keberatan, kenapa kamu yang keberatan?" tanya Kak Lucas yang sudah berdiri di samping sang adik sepupu.


Abash pun menghela napasnya dengan keras, menunjukkan jika dia merasa kesal dengan ucapan sang kakak. Hal itu pula membuat Kak Lucas semakin tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggoda sang adik sepupu.


"Kamu mau ke mana, Sifa?" tanya Kak Lucas.


"Oh, mau ke meja perawat, mau tanya apakah Mas Abash bisa di bawa jalan-jalan ke taman atau tidak," ujar Sifa memberitahu.


"Hmm, aneh, bukannya lebih mengasyikkan di dalam kamar berdua dengan kekasih? Kenapa kamu malah bosan?" tanya Kak Lucas menatap awas kepada sang adik.


"I-itu ..."


"Jangan bilang kamu bosan berdua saja di dalam kamar bersama Sifa?" tebak Kak Lucas yang sebenarnya hanya bercanda saja untuk menggoda sang adik.


"Tidak, bukan itu. Tapi---." Abash terlihat kebingungan harus memberikan alasan apa. Tidak mungkinkan jika dia mengatakan bawah empusnya sudah terbangun dan siap mengaum?


Melihat gelagat Abash yang terlihat gelisah, membuat Kak Lucas pun bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran sang adik.


"Hmm, oke. Baiklah, kakak mengerti," ujar Kak Lucas dan meraih ponselnya yang berada di dalam saku jas dokternya.


Pria itu terlihat berbicara dengan seseorang untuk membawa kursi roda ke dalam kamar Abash, kemudian pria itu kembali menyimpan ponsenya ke tempat semula.


"Terima kasih, Kak," ujar Abash dengan tersenyum penuh arti.


Kak Lucas pun berjalan mendekat ke arah Abash dan sedikit menundukkan kepalanya untuk membisikkan sesuatu di telinga sang adik sepupuu.


"Jaga dia jangan sampai mencari mangsa sebelum waktunya tiba," ujar Kak Lucas yang mana membuat wajah Abash pun merona seketika.


Kak Lucas kembali menegakkan tubuhnya dan mengedipkan matanya sebelah kepada Abash, kemudian pria itu pun pamit kepada Sifa dan mengatakan jika akan ada perawat yang akan mengantarkan kursi roda dan membantu Abash untuk duduk di atasnya.


Setelah mengatakan hal itu, Kak Lucas pun keluar dari ruang inap Abash dan melangkahkan kakinya menuju ruang inap sang kakek.


"Mas, Kak Lucas bisikin apa? Sampai wajah kamu merona gitu?" tanya Sifa merasa penasran.


"Hah? I-itu?"

__ADS_1


Abash pun bingung harus menjawab apa.


__ADS_2