
Semua orang sudah berkumpul di meja makan, kecuali Zia dan Bara. Zia yang sedang kesulitan berjalan pun, di jemput oleh Bara, pria itu pun menggendong sang adik, agar tidak kelelahan berjalan menuruni tangga.
"Udah tau kakinya lagi terkilir, kenapa tidur di kamar atas sih, Dek?" tegur Bara yang sedang menggendong Zia di punggungnya.
"Semua barang-barang aku kan di atas, Mas."
"Kan bisa minta turuni bibi kalau mau tidur di bawah."
"Males ah, Mas, tidur di bawah," ujar Zia sambil mengerucutkan bibirnya.
Bara pun menghela napasnya pelan, karena pria itu bisa menebak kenapa Zia menolak tidur di kamar bawah. Ya, apalagi alasannya jika bukan karena Arash. Secara kamar Putri dan Arash berada di lantai satu. Mama Nayna sengaja mempersiapkan kamar mereka berdua, untuk berjaga-jaga jika Putri hamil nanti. Dan juga, kamar yang di tempati oleh Putri dan Arash saat ini, cukup besar untuk sepasang pengantin.
"Kalau kamu merasa tidak nyaman makan bersama, Mas bisa suruh bibi untuk membawakan makanan ke kamar, Dek. Mas bisa kasih alasan ke Mama, kenapa kamu gak bisa bergabung dengan kita," tawar Bara.
"Gak usah, Mas. Aku gak papa kok."
"Kamu yakin?"
"Ya, aku yakin, Mas. Sangat yakin sekali."
"Mas menawarkan hal itu, hanya karena tidak ingin kamu merasa tidak nyaman saja, Dek," lirih Bara dan melirik ke arah sang adik.
"Aku gak papa kok, Mas. Lagi pula aku kangen makan bareng sama keluarga," kekeh Zia.
"Hmm, ya sudah kalau begitu."
Bara dan Zia pun akhirnya tiba di ruang makan, berapa terkejutnya mereka di saat melihat siapa tamu spesial yang Mama Nayna katakan tadi.
"Mas Abash?" kejut Zia.
Setau Zia, Abash tadi mengatakan jika pria itu akan langsung kembali pulang ke Jakarta, setelah urusannya selesai.
"Bagaimana kaki kamu? Apa baik-baik saja?" tanya Abash, sehingga membuat Mama Nayna dan Papa Satria pun mengernyitkan kening dan menatap ke arah Zia dan Abash.
"Kalian bertemu tadi?" tanya Papa Satria.
Arash sudah melirik ke arah Zia dan Abash, pria itu ingin tahu, apa yang akan mereka katakan.
__ADS_1
"Gak sengaja bertemu kok, Om, Saya bersama teman, Zia bersama temannya," bohong Abash.
Arash menaikkan alisnya sebelah, di saat melihat Zia mengulum senyumnya.
"Oh, begitu," lirih Papa Satria. "Kenapa kamu gak bilang, sayang?" tanya Papa Satria kepada Zia.
"Hmm? Zia lupa, Pa," kekeh Zia sambil menunjukkan sederetan giginya yang rapi.
"Ya sudah kalau gitu, ayo duduk. Biar kita mulai makan malamnya," titah Mama Nayna yang langsung di turuti oleh semuanya.
Zia pun duduk di kursinya, di mana kebetulan sekali berhadapan dengan Abash. Arash masih memperhatikan sang kembaran dan adik iparnya itu, hingga Arash melihat dengan jelas, bagaimana Abash mengedipkan matanya sebelah kepada Zia.
"Jangan bilang kalau mereka berdua—" batin Arash sambil mengepalkan tangannya.
"Zia, aku harus memperingatinya untuk tidak merusak hubungan Abash dan Sifa," sambung Arash dalam hatinya, dengan tatapan mata yang masih tertuju tajam ke arah Zia.
*
"Terima kasih banyak, Tante, atas undangan makan malamnya," ujar Abash saat pria itu hendak pamit pulang.
"Gak papa, Tante, saya menginap di hotel saja. Lagi pula barang-barang saya masih berada di sana, besok pagi-pagi sekali saya harus kembali ke Jakarta," tolak Abash.
"Ya sudah kalau gitu, kamu hati-hati pulangnya, ya. Titip salam buat orang tua kamu," ujar Mama Nayna saat mengantarkan Abash keluar pintu.
"Baik, Tante. kalau begitu saya permisi dulu. assalamualaikum,"
"Walaikumslaam."
Setelah Abash pergi, semuanya pun kembali masuk ke dalam rumah.
"Bara mana, Pa?" tanya Mama Nayna.
"Tadi sebelum Abash pulang, Bara sudah pamit dengan papa, mau ketemu dengan temannya," ujar Papa Satria.
"Oh …"
Mama Nayna pun menggelengkan kepalanya, di saat melihat Zia tertidur di sofa ruang keluarga.
__ADS_1
"Zia, sayang, kok malah tidur di sini, sih? Ayo, pindah ke kamar," titah Mama Nayna.
Zia pun mengucek matanya saat mendengar suara Mama Nayna menyuruhnya untuk pindah ke dalam kamar.
"Mas Bara mana, Ma?" tanya Zia dengan suaranya yang serak.
"Mas kamu lagi keluar, kenapa?" tanya Mama Nayna.
"Terus, yang gendong Zia ke kamar atas, siapa?" tanya Zia sambil menguap.
"Kenapa gak tidur di kamar bawah aja, Zia?" tanya Mama Nayna balik.
"Ada kerjaan yang harus Zia buat, Ma. Semua kerjaan Zia di dalam kamar "
Ya, Zia harus segera menyelesaikan sketsa milik Abash, agar dia bisa langsung mencetak cincin untuk pria tersebut.
"Ada-ada aja kamu, Mas kamu gak tau kapan pulangnya. Tidur di kamar bawah aja, ya. Besok aja lagi lanjut kerjanya," titah Mama Nayna.
"Gak mau, Ma. Idenya lagi ada sekarang," rengek Zia.
"Ya sudah, biar Papa aja yang gendong Zia ke kamar," tawar Papa Satria.
"Gak boleh, Mas. Pinggang kamu kan lagi sakit karena main golf tadi siang. Jangan cari penyakit, deh," cegah Mana Nayna.
"Terus, yang gendong Zia ke kamar siapa?" rengek Zia.
"Sama Mas Arash aja, mau? Biar Mas Arash yang gendong kamu ke kamar," tawar Putri, sehingga membuat Arash menoleh ke arahnya dengan cepat.
"Sayang—" tegur Arash dan memberikan kode kepada Putri melalui matanya, jika pria itu keberatan.
"Kali ini aja, Rash. Gak papa, ya?" bujuk Putri.
Arash menghela napasnya pelan, pria itu pun terpaksa menerima permintaan sang istri
"Eng, Zia tidur kamar bawah aja, Ma. Tiba-tiba malas buat kerja," ujar Zia cepat dan bangkit dari duduknya.
Zia pun berlalu menuju kamar yang ada di sebelah kamar Putri dan Arash. Lebih baik dia tidur di kamar itu kan, dari pada harus di gendong dengan Arash.
__ADS_1