
Putri meletakkan paper bag yang di berikan oleh Arash tadi saat di warung bakso ke atas tempat tidur. Dia pun menghela napasnya pelan dan mendudukkan tubuhnya di tepi tempat tidur.
Lagi, Putri menghela napasnya dengan sedikit kasar saat melihat paper bag yang ada di sebelahnya. Merasa penasaran dengan isinya, gadis itu pun mengintip ke dalam paper bag.
"Baju yang bagus," lirihnya pelan di saat sudah mengeluarkan baju tersebut dari dalam paper bag.
Putri pun kembali memasukkan baju tersebut ke dalam paper bag. Dia rebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Hmm, ternyata mencintai seseorang yang tidak mencintai kita itu rasanya sangat sakit, ya?" lirihnya entah berbicara dengan siapa.
"Ma, apa ini yang Mama rasakan di saat jatuh cinta dengan Papa?" lirih Putri seolah sedang bertanya kepada sang mama yang telah tiada.
Putri pun meringkukkan tubuhnya dan memeluk kakinya, gadis itu pun meneteskan air matanya yang tak sanggup dia bendung.
"Hiks ... kenapa aku malah nangis, sih? Kenapa aku malah sedih di saat melihat dia kecewa? Hikss ... "
Malam ini, kamar yang di tempati oleh Putri pun menjadi saksi tangisnya untuk Arash.
*
Di tempat lain.
"Bun, tolong bantu Arash kasih pengertian yaa sama Mama," pinta Abash.
Ya, pria itu sudah menceritakan semua alasan Sifa untuk menunda pernikahan mereka. Ini semua juga demi masa depan gadis itu yang sudah susah payah dia kejar sampai saat ini.
"Hmm, baiklah. Bunda akan coba buat bicara sama Mama kamu. Tapi kamu harus ingat, jangan ulangi lagi perbuatan seperti tadi. Dosa," ujar Bunda Sasa yang mana membuat Abash menganggukkan kepalanya dengan wajah merona.
"Iya, Bun."
"Dan selama kalian belum resmi menikah, Maka mulai saat ini Sifa akan tinggal dengan Bunda," ujar Bunda Sasa yang sudah berunding dengan Mama Kesya sebelumnya.
"Iya, Bun. Abash nurut aja," ujarnya mengangguk pasrah.
"Dan untuk malam ini, kamu di temani oleh Abash, ya. Sifa mau Bunda bawa pulang. Lagi pula dia harus bekerja kan besok?" ujar Bunda Sasa yang mana membuat Abash membulatkan matanya.
"Loh, Kok Sifa di bawa pulang malam ini, Bun?" rengek Abash.
"Besok dia kerja. Ya kan, Sifa?" tanya Bunda Sasa yang di angguki oleh Sifa.
"Iya, Bun. Gak enak kalau harus libur tanpa alasan yang tepat," lirihnya dengan pelan dan takut-takut.
__ADS_1
Tadi, saat Abash sedang berbincang dengan Daddy Bara dan Arash, Sifa meminta tolong kepada Bunda Sasa untuk mengajaknya pulang. Gadis itu benar-benar tak enak hati jika harus kembali menginap di rumah sakit. Dan juga, pasti kekasihnya itu akan melarangnya untuk bekerja besok. Maka dari itu, Sifa pun meminta tolong kepada Bunda Sasa untuk membawanya pulang.
"Aku bosnya, Sifa," geram Abash.
"Dan aku karyawannya, Mas," ujar Sifa dengan pelan.
"Tapi, kamu itu calon istri aku. Jadi--"
"Mas," tegur Sifa yang sudah lelah memperdebatkan gak yang itu-itu saja.
Abash pun menghela napasnya dengan pelan, pria itu pun terpaksa mengalah dan membiarkan kekasihnya untuk bekerja besoknya.
"Ayo, Sifa," ajak Bunda Sasa.
Abash sudah mengerucutkan bibirnya, di saat Bunda Sasa mengajak Sifa pulang. Gadis itu malam ini akan menginap di rumah Daddy Bara, demi keselamatan gadis itu.
"Bun, nginap di sini aja," rengek Abash.
"Enggak mau. Sakit pinggang Bunda tidur di sofa," kekeh Bunda Sasa.
"Kalau gak Sifa aja yang nginap d sini, boleh?" tawar Abash.
"Boleh, dia tidur bareng aku di sofa," ujar Arash yang mana membuat Abash menggerutu kesal.
"Dah aah, Bunda mau pulang dulu. Bawa calon mantu pulang," kekeh Bunda Sasa dan berlalu sambil melambaikan tangannya.
Sifa pun mengambil tas dan juga perlengkapan miliknya.
"Mas, aku balik dulu, ya," pamit Sifa kepada Abash.
Gadis itu pun mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang kekasih.
"Nginap sini aja, Fa," bujuk Abash.
"Mas, aku besok kerja," ujar Sifa.
"Hmm, ya udah deh kalau gitu. Padahal kalau kamu gak mau masuk, juga gak papa. Aku kan bosnya," lirih Abash dengan nada merajuk.
"Dan hal itu tidak baik menjadi contoh untuk karyawan, Mas. Aku gak mau nama kamu jelek gara-gara aku," ujar Sifa mengingatkan.
"Hmm, yaa .. yaa .. yaa.. baiklah. Tapi kamu harus janji, sepulang kerja harus langsung ke sini, ya?" pinta Abash yang di angguki oleh Sifa.
__ADS_1
"Iya, Mas.
Sifa pun mencium punggung tangan Abash untuk berpamitan, sehingga membuat Arash menggoda sepasang kekasih itu.
"Ngiri bilang aja," ejek Abash.
"Dih, rugi gue ngiri. Jomblo itu is the best. Gak banyak bikin dosa," ejek Arash yang mana membuat Abash lagi-lagi mencibir dan mendengus kesal.
Setelah kepulangan Sifa, tinggallah Arash dan Abash di ruangan itu.
"Rash, gimana Putri? Apa yang terjadi sama dia tadi?" tanya Abash.
Pria itu sebenarnya sedari tadi sudah ingin bertanya, akan tetapi dia menahannya karena ada Sifa di dekatnya. Pria itu tak ingin jika sang kekasih kembali merasa curiga.
"Putri? Dia baik-baik saja," ujar Arash yang sudah mendudukkan tubuhnya di sofa.
"Lalu, kenapa kamu seperti orang gila mencari keberadaan dia?" tanya Abash.
"Kamu terlalu berlebihan. Aku hanya mengkhawatirkan dia saja," jawab Arash.
"Oh ya, khawatir karena apa? Takut jika dia bersama dengan pria lain?" tanya Abash yang mana membuat Arash melirik ke arahnya.
"Sok tau kamu. Aku hanya mengkhawatirkan Putri. Karena tau sendiri kan kalau Yosi itu bisa saja mencelakai dia?" elak Arash.
"Ya, tapi gak seheboh tadi juga. Dan aku baru tahu, kalau Putri bersama dengan Soni. Lalu, kenapa kamu mencari dia? Apa kamu cemburu?" pancing Abash.
"Cemburu?" Arash pun terkekeh pelan. "Aku gak cemburu. Aku hanya mengkhawatirkan dia. Apa ada yang salah dengan hal itu?" tanya Arash.
"Gak salah, cuma kelakuan kamu tadi terlalu berlebihan," ujar Abash yang mana membuat Arash mengernyitkan keningnya.
"Letak mana berlebihannya?" tanya Arash.
"kamu minta aku melacak keberadaannya. Jika kamu tidak mencintainya, mana mungkin kamu sampai sepanik itu," ujar Abash yang mana membuat Arash semakin mengernyitkan keningnya dalam.
"A-aku, cinta sama Putri?" lirihnya pelan dan sambil tertawa.
"Iya," jawab Abash dengan penuh kepastian.
"Ngaco lo," ujar Arash yang mana membuat Abash menggelengkan kepalanya.
"Saran gue, mending Lo yakini perasaan Lo sekarang, sebelum semuanya terlambat. Dan setau gue, kedatangan Soni kembali ke Indonesia adalah untuk melamar seseorang," ujar Abash yang mana membuat Arash menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Aku rasa gadis itu adalah Putri."