Twins A And Miss Ceriwis

Twins A And Miss Ceriwis
Bab. 150 - Kartu


__ADS_3

Hal yang membuat Sifa menjadi diam seharian ini adalah, di mana dirinya merasa takut jika ketahuan dengan seluruh keluarga Abash, karena memiliki hubungan spesial dengan bosnya itu.


Masih teringat jelas di ingatan Sifa, bagaimana akrabnya keluarga Putri bersama dengan keluarga Moza. Bahkan sempat terpikirkan oleh gadis itu, jika salah satu dari si kembar akan di jodohkan oleh Putri.


"Kok melamun, kenapa?" tanya Abash dengan kening mengkerut.


Sifa menghela napasnya dan menggeleng pelan. "Gak papa. Aku hanya takut aja, Mas. Gimana kalau Mbak Putri mengatakan kepada keluarga, Mas, kalau kita berpacaran?" tanya Sifa.


Abash mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut sang kekasih.


"Jangan takut. Jika dia berkata seperti itu, maka itu artinya sudah waktunya bagi kita untuk mengungkap hubungan kita yang sebenarnya," ujar Abash dengan tenang.


"Tapi---"


"Kamu jangan khawatir, apapun yang terjadi, aku yakin jika tidak ada yang berpikiran jika kamu sengaja mendekatiku demi kepentingan pribadi," ujar Abash.


Sifa kembali menghela napasnya pelan, gadis itu merasa bingung harus mengatakan apa.


"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak membawa kamu ke sini," sesal Abash.


"Sudahlah, Mas. Yang terjadi biarkanlah terjadi. Aku hanya berharap, agar Mbak Putri tidak mengatakan apapun kepada keluarga, Mas," lirih Sifa.


Abash pun menganggukkan kepalanya, menyetujui apa yang Sifa katakan.


Di tempat lain, Putri yang sedang membawa barang bawaannya pun, melambaikan tangannya kepada sang sahabat.

__ADS_1


"Maaf ya, lama," sesak Luna.


"Gak papa, kita cari tempat makan yuk, aku udah lapar banget," ajak Putri sambil menggandeng wanita berhijab itu.


"Oke."


Luna pun membiarkan Putri menggandeng lengannya.


"Sini aku bawa satu belanjaannya," pinta Luna saat melihat ada tiga kantong plastik yang menjadi barang belanjaan Putri.


"Ini, makasih ya," ujar Putri seraya memberikan satu kantong plastik kepada Luna.


"Maaf, karena aku terlambat jadi gak bisa temani kamu belanja, deh."


"Gak papa. Lagian aku juga harus terbiasa berbelanja sendirian," kekeh Putri. "Ah ya, kapan kamu punya waktu untuk temani aku cari mobil?" tanya Putri.


"Oke, aku tunggu kamu jemput aku ya."


Setelah membuat janjian besok, mereka pun berjalan menuju restoran yang ada di mall tersebut.


"Kenapa milih mall di sini? Kan di sini lumayan mahal harganya," kekeh Luna.


"Gak tau, tadi aku naik taksi biasa, katanya di sini murah-murah," jawab Putri.


"Kamu naik dari apartemen?" tebak Luna.

__ADS_1


"Iya."


"Hmm, pantesan aja. Itu supir taksi jahat. Mall ini kan lumayan jauh dari apartemen kamu, padahal ada swalayan yang lengkap dan dekat dari apartemen kamu," ujar Luna.


"Ya udah lah. Mungkin dia perlu uang buat anaknya sakit," jawab Putri yang memang tak ingin berpikiran negatif terhadap orang lain.


"Kamu ini, terlalu baik dan polos tau gak sih jadi orang. Hal inilah yang di takutkan oleh Bara, jika harus melepaskan kamu," terang Luna.


"Dia tuh hanya selalu menganggap aku anak kecil," kesal Putri. "Padahal aku bisa jaga diri sendiri."


"Iya, aku percaya jika kamu bisa menjaga diri sendiri dengan kekuatan super kamu itu. Tapi, masalahnya adalah, orang-orang yang ingin memanfaatkan kebaikan kamu. Itu yang selalu di takuti oleh Bara," terang Luna.


"Kamu ini, kalau orang lain tidak tahu, maka mereka akan berpikir jika kamu ini adalah pacarnya Bara," kekeh Putri.


"Ih, di bilangin malah ketawa. Udah ah, kita duduk di sana aja, yuk," ajak Luna sat melihat restoran yang menyediakan nasi liwet.


Setelah mengisi lambung tengah, Putri dan Luna pun kembali berjalan mengelilingi mall, kali ini tujuan mereka adalah tempat ponsel, karena Putri ingin mengganti ponselnya yang sudah retak.


"Ini bagus kan, Lun?" tanya Putri kepada sang sahabat sambil menunjukkan ponsel terbaru yang iklannya di bintangi oleh tujuh orang pria tampan dari negeri gingseng.


"Bagus, udah ambil aja terus," titah Luna.


Saat Putri ingin membayar ponsel tesebut, tiba-tiba saja kartunya tak bisa di gunakan.


"Loh, kok gak bisa di gunakan? Kenapa ya?" tanya Putri bingung dan mengubungi sang papa.

__ADS_1


"Pa, kartu Putri kenapa gak bisa di gunakan, ya?" tanya Putri


"Loh, yang terblokir kartu kamu? bukannya kartu Zia?" tanya Papa Satria yang ternyata salah memblokir kartu.


__ADS_2