
Lega ...
Itu yang Mama Kesya dan para tetua lainnya rasakan.
Saat sudah berada di rumah, Sifa langsung di todong dengan berbagai macam pertanyaan, hingga wanita itu terpaksa mengatakan jika dirinya dan Abash sudah benar-benar resmi menjadi suami dan istri.
"Alhamdulillah, Mama senang mendengarnya, sayang," ucap Mama Kesya dan memeluk Sifa dengan penuh rasa hangat dan sayang.
"Mama doakan, semoga kamu cepat dapat momongan, ya?" ujar Mama Kesya sambil merelai pelukannya.
Melihat wajah Sifa yang hanya tersenyum kecil, tiba-tiba saja Mama Kesya merasa ada sesuatu yang aneh.
"Sifa, kamu lagi gak menunda kehamilan kan?" tanya Mama Kesya yang mana membuat semua orang yang ada langsung menoleh ke arah mereka.
"Sifa? Apa yang dikatakan sama Mama Kesya? Apa itu benar, sayang?" tanya Mami Vina.
Sifa melirik ke arah Abash, di mana sebenarnya keputusan ini sudah mereka putuskan saat di Bali.
__ADS_1
Abash berdiri dari tempatnya, hal itu sontak saja membuat semua orang merasa gugup dengan jantung yang berdebar dengan kencang.
Pria itu tiba-tiba berlutut di hadapan Mama Kesya, menarik tangan halus dan hangat yang selama ini menyalurkan cinta dari tangan itu.
"Ma, maafin Abash, ya, karena keputusan yang Abash dan Sifa buat secara tiba-tiba ini, membuat Mama, Papa, dan yang lainnya pasti akan merasa kecewa," lirih Abash dan membuat jantung Mama Kesya semakin berdetak dengan cepat.
"Ini keputusan Abash, Ma, bukan keputusan Sifa," tegas Abash, agar semua orang yang ada di sana tidak menyalahkan Sifa yang baru saja menyelesaikan pendidikannya, kemudian wanita itu harus mengabdi pada perusahaan yang telah memberikan kesempatan untuk Sifa bisa menempuh pendidikan di luar negeri .
Abash tahu apa yang Sifa pikirkan, tanpa wanita itu mengucapkannya. Lagi pula, mereka berdua terjun di bidang yang sama, tentu saja Abash sangat memahami bagaimana syarat dan peraturan yang telah di berikan oleh perusahaan Kak Farhan.
"Apa maksud kamu, Bash?" tanya Mama Kesya dengan kening mengkerut.
"Abash dan Sifa memutuskan untuk menunda memiliki momongan," jawab Abash yang mana membuat tubuh Mama Kesya terasa lemas.
"Ma, maafin Abash, bukannya Abash ingin membuat Mama kecewa, tapi---"
"Bash, Papa percaya sama keputusan yang telah kamu perbuat. Apapun keputusan kamu itu, Papa yakin, itu adalah yang terbaik untuk kamu dan juga Sifa," potong Papa Arka sambil menyentuh bahu sang putra.
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Pa, terima kasih banyak karena sudah percaya dengan keputusan yang Abash pilih," lirih Abash.
Abash pun menoleh ke arah sang mama, pria itu semakin menggenggam tangan wanita paruh baya yang telah mengandungnya selama sembilan bulan dan melahirkan dirinya dengan mempertaruhkan nyawa.
"Maafin Sifa, Ma," mohon Sifa yang juga sudah berlutut di depan Mama Kesya dengan mata yang sudah basah.
Mama Kesya menarik napasnya panjang, wanita paruh baya itu tidak bisa menutupi kesedihannya atas keputusan yang telah Abash dan Sifa buat.
"Jujur saja, sebenarnya Mama merasa kecewa dengan keputusan kalian berdua. Mama sangat berharap jika kamu bisa menyusul Putri yang tengah hamil," lirih Mama Kesya dengan air mata yang berlinang.
"Tapi, Mama yakin, jika keputusan yang telah kalian bikin, pasti memiliki alasan yang kuat. Mama percaya, jika alasan kalian itu adalah untuk kebaikan kalian berdua," ujar Mama Kesya sambil mengusap pipi Sifa yang sudah basah.
"Mama marah sama Sifa?" tanya Sifa sambil sesenggukan.
"Tidak, sayang. Mama tidak marah. Walaupun Mama merasa kecewa, tapi Mama tidak marah sama kamu. Mama percaya sama kamu, sayang," jawab Mama Kesya dan menarik Sifa ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, Ma, dan maafin Sifa."
__ADS_1